Thursday, January 9, 2020

Selamat Tinggal, 9 Tahun.


Dulu, nggak pernah terpikir bisa sanggup merelakan hubungan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, walau kadang beberapa kali terlintas bahwa yang dijalani sepertinya toxic relationship. Dulu, nggak pernah terpikir bahwa hubungan antara dua orang yang menjadikan pasangannya sebagai tujuan hidup harusnya ada timbal-balik, serta usaha yang tidak berat sebelah. Dulu, nggak pernah terpikir bahwa harusnya aku lebih mengutamakan logika, daripada cinta.

Mungkin, aku hanya satu dari sekian banyak yang pernah berada dalam long-term relationship yang tidak sehat, memilih untuk selalu bertahan karena berpikir bahwa sepertinya dia adalah orang yang tepat, yang mungkin, akan jadi yang terakhir hanya karena aku sudah mencintainya dalam kurun waktu yang lama, padahal tidak. Seringkali aku lupa, saat mencintai seseorang, kemakluman dan maaf yang aku berikan melampaui batas. Memaklumi dan memaafkan pasangan yang menyesal hanya untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Nggak pernah terpikir akan butuh 9 tahun untuk akhirnya memilih berhenti. Berhenti jadi orang yang mudah dibodohi dengan kata-kata manis, berhenti jadi orang yang selalu berjuang sendirian, berhenti jadi orang yang berharap dicintai sama besarnya aku mencintai, dan berhenti jadi orang yang selalu memaklumi keegoisan pasanganku. Nggak pernah terpikir akan butuh 9 tahun hingga akhirnya aku sadar, bahwa aku layak menerima perlakuan yang lebih baik, dicintai dengan lebih baik, diperjuangkan dengan lebih baik, bahkan dijaga perasaannya dengan lebih baik.

9 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Entah aku menyesalinya atau tidak, aku yakin semua sudah jadi rencana Tuhan. Aku hanya berharap, aku tidak berakhir membenci dia yang selama ini hanya bermain-main. Semoga, aku bisa menahan diri dari mengucap sumpah serapah atas kata-katanya yang menyakitkan, yang takkan pernah kulupa, seumur hidup.

Selamat tinggal, kenangan. Sedikit demi sedikit, kucoba untuk berdamai dengan diriku sendiri. Menerima dengan lapang dada keputusan Tuhan, sembari meyakini bahwa ini yang terbaik. Kuiringi ikhlasku yang masih setipis kabut dengan doa, semoga kamu serta keluarga dan hidupmu diberkahi, bahagia dengan pilihan, serta pasanganmu kelak. Amin...

Tuesday, October 29, 2019

Facing My Quarter Life Crisis

Kalau ngerasa sedih, mau nangis ya nangis aja. Sampai kamu ngerasa nggak bisa nangis lagi saking seringnya dikecewakan, mati rasa. Hal itu manusiawi, kok. Termasuk mengeluh, bahkan lelah atas hal-hal yang kamu rasa sudah melampaui batas. Lelah mendengar ungkapan-ungkapan repetitif tanpa makna sebagai suatu kemakluman.

Nggak salah kalau kamu pernah berpikir, buat apa berjuang kalo rasanya berat sebelah? Buat apa berjuang kalo pasanganmu aja nggak meng-appreciate effortmu untuk improve hubungan kalian jadi lebih baik? Hey, please remember that putting yourself first is not selfish. Love yourself first, love otherselves then. Nggak ada salahnya melindungi diri kamu dari hal-hal yang nyakitin, termasuk perilaku pasangan. Gimanapun caranya, kamu punya hak penuh buat reduce hal-hal yang jadi sumber rasa sedihmu saat mulai memasuki quarter life crisis. Karena kalau bukan kamu yang mensupport dirimu sendiri, lantas siapa lagi?

Tujuanku buat tulisan ini, aku cuma pengin ngingetin diriku kalo aku berhak dicintai, sama besarnya dengan upayaku mencintai. Aku berhak diperjuangkan, sama besarnya dengan upayaku memperjuangkan. Aku mau ngingetin diriku kalo keinginanku untuk dapat feedback yang sama dari orang lain itu bukan hal yang salah. Poin terakhir, tentunya aku juga mau ngingetin diriku bahwa orang lain punya hak yang sama untuk tidak memberi "feedback" seperti yang aku inginkan, termasuk pasanganku.

Wednesday, March 20, 2019

Segitu Susahnya Bilang Capek?

Pernah nggak sih lo ngerasa capek, capek banget sama hidup lo, sama orang-orang yang ada di sekeliling lo, sampai-sampai lo muak. Dan saking muaknya lo cuma pengin diem aja karena ngerasa, "Ah, apaan sih, gini doang aja ngerasa kecil hati. Cemen."

Padahal sih, dalam hati kecil, berharap banget ada orang yang sekiranya ngurangin sesak di dada. Nggak perlu tahu problem hidup lo, deh. Dia ada, ngehibur dan bikin lo senyum dengan caranya dia sendiri, pasti lo juga udah seneng, kan?

Pada dasarnya, I'm not kind of curhat-whore person. Paling nggak bisa, sumpah banget, nggak bisa ngeluarin apa yang jadi unek-unek di hati dan otak gue. Hobi gue ya mendem, mendem, mendem, gitu aja terus tanpa tahu kapan meledaknya. Sampai kadang gue mikir, gue tuh manusia bukan, sih? Kenapa sih selalu sok kuat nyimpen semuanya sendiri? Emang apa salahnya sih, berbagi sebagian beban sama temen deket, atau pacar, atau orang tua, atau siapapun yang bisa gue kasih rasa percaya?

Nggak salah, memang. Tapi selalu ada ketidak-nyamanan tiap akan memulai pembicaraan semacam itu. Rasanya tuh, lidah gue kayak kelu. Dalam hati selalu ngebatin, "Ih apasih, kayak alay banget perkara komunikasi buruk sama pacar aja diceritain." atau, "Ih apaan deh, rih, malu-maluin aja cerita soal kehidupan pribadi."

Dan pada akhirnya, tahu pilihan terbaik yang gue ambil dari semua yang ada? Nangis. Iya, cuma nangis. Orang bilang, muka gue judes, ngomongnya kadang sarkas, galak, tapi hatinya lembut karena sering nangis. Liat adegan drakor touchy dikit, nangis. Liat postingan touchy dikit di Twitter atau Instagram, nangis. Tapi percaya, deh. Kalo udah nangis rasa hati jadi kayak legaaaaaaaaaaaaaa banget. Apalagi nangis setelah sholat, duh, itu jauh lebih lega lagi sodara-sodara.

Ada sih satu waktu, gue kadang pengin bilang, kalo gue nggak suka diginiin, nggak suka digituin, nggak suka lo ngomong gini, nggak suka lo ngomong gitu, capek pretend to be okay padahal I'm not. Tapi tiap gue mau ngomong, ada aja yang bikin gue males dan akhirnya gue pendem lagi, lalu satu waktu disaat gue rasa semuanya udah terlalu banyak gue pendam dan ngerasa kalo gue udah muak, bukannya gue luapin, bukannya gue omongin, gue malah nangis. Dan itu yang bikin gue benci sama diri gue sendiri.

Gue cuma mengutuk diri di depan cermin dengan bilang, "Ah, apesi caper lu tai. Lu kan tau, ada atau nggak ada elu mah kehidupan mereka bakal terasa sama aja. Emang lu pikir, lu cantik? Lu famous? Lu istimewa? Gada yang peduli sama lu, nyet. Jangan kata orang lain, pacar aja yang udah bareng bertahun-tahun ga peduli, gblk. Itu juga namanya doang bareng, auk maknanya bareng-bareng itu apa. Udah, deh. Jangan manja!"

Selalu begitu, gue sibuk pikirin kenapa hidup gue nggak istimewa, kenapa orang lain gampang banget bahagia dengan kehadiran orang-orang di sekitarnya, kenapa kehidupan mereka dari materi sampe percintaan looks (almost) perfect, sampai-sampai gue lupa kalo mencintai diri sendiri juga perlu, bahkan itu yang terpenting. Gue lupa, meski orang-orang nggak bisa mencintai gue sekalipun itu termasuk pasangan, setidaknya gue harus mencintai diri gue sendiri supaya gue bisa bertahan. Dan apalah seorang Riana Ayodya yang pandai memotivasi orang tapi nihil dalam memotivasi diri sendiri, karena buktinya, sampai hari ini, sampai postingan ini dibuat, gue masih aja enggan untuk mencintai diri gue sendiri.

Wednesday, October 31, 2018

Terima Kasih

Ada beberapa perasaan cemas di antara hari-hari yang telah kulalui denganmu. Cemas, bahkan takut. Menghantuiku tiap kali kita berjauhan, bahkan makin besar saat kita bertemu dan melepas rindu yang tertimbun selama berminggu-minggu dengan saling berpelukan. Hingga akhirnya setetes bening jatuh dengan mudahnya ketika kata 'andai' dan 'bagaimana kalau nanti' berlarian dalam sel-sel otak. Sepintas memikirkan sendiri bagaimana hubungan kita nantinya di masa depan.

Aku, selalu mempersiapkan diri untuk tiap-tiap selamat tinggal yang akan kudengar. Karena aku tahu, tak pernah ada temu yang abadi. Aku, hanya ingin bilang: dengan atau tanpamu kuhabiskan sisa hidupku kelak, aku bersyukur atas kehadiranmu dan aku bahagia dipertemukan Tuhan dengan kamu meski kita tidak selalu baik-baik saja.

Terima kasih karena sudah hadir di hidupku meski aku tak pandai mengingat setiap kenang sebaik kamu. Terima kasih untuk tiap hal sederhana yang sudah kamu lakukan untuk membuatku bahagia. Terima kasih sudah bersedia jadi bagian hidupku selama delapan tahun terakhir, hingga hari ini.

Friday, July 7, 2017

Kangen Apa?

Aku kangen. Tapi nggak tahu hal apa yang sekarang lagi aku kangenin dari kamu. Kita udah bareng-bareng lagi, tapi aku nggak ngerti apa yang berubah dari kita dan ngebuat perasaan aku—atau mungkin kamu juga—jadi beda. Mungkin karena kita udah terlalu lama terpisah. Mungkin karena kita udah terlalu lama hidup sendiri-sendiri. Mungkin karena kita udah dewasa. Mungkin karena aku udah jarang denger "Aku sayang kamu." dari kamu. Atau mungkin, karena aku udah capek pacaran dan pengin cepet dihalalin karena udah bosen diucapin selamat pagi cuma lewat chat WhatsApp.

Nggak tahu kenapa, tiba-tiba, aku kangen semua hal sepele yang pernah kita lewatin bareng-bareng. Sepotong kecil kenangan yang memenuhi lebih dari separuh kapasitas memori otakku. Nyontek buku PR atau jawaban essai kamu, ngeliat kamu keringetan setelah jam pelajaran olahraga berakhir, merhatiin kamu dari jauh waktu kamu melototin monitor di lab. komputer, ngeledek kamu dengan julukan autis, online berjam-jam cuma buat chat di Facebook sama kamu, dipuji kamu karena dapet juara kelas, bahkan sampai kangen kamu yang belum kenal rokok sama sekali.

Aku yang berubah, atau kamu? Aku nggak tahu. Mungkin aja, kita berdua sama-sama berubah tapi nggak menyadarinya. Yang pasti, aku mencoba menjalani waktu yang kupunya bareng kamu sebaik mungkin. Walaupun aku cuma punya sehari atau dua hari dalam sebulan untuk sekedar ketemu dan cerita banyak hal sama kamu secara langsung. Walaupun kadang aku nggak bisa mengontrol emosiku karena hal sepele yang seharusnya nggak aku ributin ke kamu. Walaupun kamu sering nggak peka kenapa kamu nyebelin dan bikin aku jengkel. Walaupun kamu garing, gendut, dan sok ganteng. Hehe.

Tuesday, May 2, 2017

Selamat Datang Kembali

Hei. Selamat datang kembali, Mentariku. Hal yang lebih indah dari senja yang selalu kutunggu tiap sore, yang menarik garis senyumku lebih dalam dari langit cantik yang berwarna merah jambu. Pria yang mampu membuatku tabah dan sabar menunggu meski kau tahu bahwa Cancerian adalah makhluk paling tidak sabaran se-dunia. Pria yang enggan pergi dari pikiranku meski raganya tak pernah ada di sisiku dalam kurun waktu yang sangat lama. Pria yang meski kata-katanya pernah begitu menyakitkan, tapi aku tetap percaya bahwa tak semudah itu seseorang berubah.

Hei, Mentariku. Senang rasanya bisa bersandar di bahumu sambil meraih ujung-ujung rambutmu lagi. Senang rasanya bisa mengulang kembali momen menyenangkan saat kita menertawakan tweet atau meme menjengkelkan di Twitter seperti dulu—Ps: dulu Instagram belum jadi trending seperti sekarang. Senang bisa kembali menghabiskan waktuku bersamamu walaupun ada harga yang harus kubayar untuk itu. Bertahun-tahun merindu sendirian, menangisi kenangan yang tak pernah kau ingat, bahkan cemburu padamu yang sudah bukan milikku, saat itu.

Hei, Mentariku. Dulu, hari demi hari pernah kulalui dengan payah. Berlagak seolah lukaku telah sembuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan. Sesekali waktu, saat sepasang earphone-ku mengalunkan lagu Heartache dari ONE OK ROCK atau Still Remembering dari As It Is, di saat itu pula kenangan akanmu mengudara di langit-langit kamar. Satu menit pertama membuatku tersenyum, lalu di menit berikutnya mengundang mendung di pelupuk mata. Kegiatan itu memang agak menyakitkan, sih. Terlebih, saat aku ingat bahwa beberapa waktu lalu kau sedang menyukai seseorang dan memujinya dalam tiap kalimat yang kau post di Twitter-mu. Ya, namanya juga wanita. Ia tahu bahwa mencari tahu yang tidak perlu akan mempersempit rongga dadanya nanti karena sesak, tapi tetap saja melakukannya. Bahkan bisa jadi dua kali lebih sering saat dia merindukannmu.

Hei, Mentariku. Jika kembali bersamamu saat ini sudah bukan lagi menjadi salah satu pintaku dalam doa, akankah tahun-tahun penuh kekosongan yang kulalui tanpamu terbayar dengan kelak selamanya bersamamu? Akankah kau tak pernah lagi mengucapkan hal-hal menyakitkan yang menyayat hatiku saat aku mendengarnya? Akankah kita tak meninggalkan ataupun ditinggalkan lagi?

-Dariku, yang selalu merindukanmu tiap senja dan hujan datang. Cinta pertamamu, yang akhirnya kau sebut sebagai rumah keduamu. Tempatmu merebahkan kepalamu saat lelah. Tempatmu kembali.

Monday, May 1, 2017

Bagaimana?

God knows they worth it.
Mungkin itu yang orang-orang pikir saat kita sepakat untuk kembali memulainya dari awal. Meski memakan waktu yang begitu lama sebelum kamu memutuskan untuk kembali, bahkan hingga sebagian orang mungkin sudah lupa bahwa kamu pernah pergi begitu saja, dengan cara yang menyakitkan.

Aku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Ragu? Takut? Khawatir? Atau istilah lain semacamnya. Aku hanya... merasa tidak nyaman. Tiap kali kita duduk berhadapan dan tatapanmu bersirobok denganku, lalu matamu seolah bertanya "kamu masih ragu?", aku hanya bisa mengalihkan pandangan agar tidak memikirkannya di saat yang sama. Berusaha tidak merusak suasana.

Hangat genggam tanganmu masih sama. Belaian tanganmu di ujung kepalaku juga masih terasa sama. Bedanya, aku hanya tak bisa memastikan semua itu tulus atau tidak. Aku hanya belum bisa terbiasa lagi dengan hal-hal semacam itu darimu. Tatapanmu yang tak berkedip, kata "aku sayang kamu" atau "tungguin aku, ya.", juga kata-kata lain yang biasa kamu ucapkan dulu. Mungkin, karena hampir 3 tahun ini aku menikmati kesendirianku dan terbiasa karenanya, saat semua itu terjadi kembali, bagiku rasanya sedikit aneh.

Saat kamu akhirnya kembali, aku yakin bahwa kita memang ditakdirkan bersama. Tapi esoknya, keyakinan itu jadi berubah-ubah. Ada hal-hal dari masa lalu kita yang hingga saat ini aku takutkan akan terulang lagi. Kamu yang tiba-tiba berubah jadi monster, kamu yang begitu mengerikan dengan kata-kata yang... entahlah, karena sulit bagiku mendeskripsikan level kekejaman kata-katamu saat memilih meninggalkanku dulu.

Selalu ada tanya yang mengelilingi kepalaku selepas kamu pulang, seperti, "Keputusan gue bener nggak, sih?" atau, "Gue cuma dijadiin bahan taruhan aja kali, ya?" atau, "Udah, tungguin aja. Paling, nggak sampai sebulan dia bakal ninggalin lo lagi." atau, "Kenapa gue segampang itu nerima dia balik, sih? Belum juga berjuang apa-apa dia buat dapetin hati lo lagi." atau, "Ya Allah, bisa nggak skip ke 3 tahun kemudian aja, biar aku bisa tahu, dia bener jodoh aku atau bukan?" atau, "Dia kok gampang banget sih bilang 'aku sayang kamu' kayak gitu? Padahal hampir 3 tahun ninggalin lo dan baru kemarin balik sama lo." atau, "Dia masih suka nyimpen foto-foto cewek kayak dulu nggak, ya?" atau, "Lo bakal sakit hati nggak kira-kira kalo suatu saat nemuin sesuatu di hapenya nanti?" atau bahkan segudang pertanyaan random lainnya yang mungkin menurutmu tak penting dipikirkan.

Jadi... apa yang seharusnya kulakukan sekarang?

Wednesday, April 26, 2017

Life is a Surprise

"Ciyeeeee... yang kemarin jalan. Gimana? Cerita, dong?"

Ini cerita 2 hari yang lalu. Waktu itu masuk pagi. Baru juga nyampe. Udah ditodong pertanyaan yang gimana gitu. He.

Gue nggak tahu apa spesialnya cerita dari seseorang yang balikan sama mantannya. Biasanya kan, malah dibego-begoin. :(

Cuma... gimana, ya? Dibilang seneng, ya seneng. Tapi rasanya aneh. Aneh karena butuh waktu lebih dari dua setengah tahun sampai akhirnya kita bisa bareng-bareng lagi. Dan masing-masing juga bertanya-tanya, takut kalo kita nggak bisa kayak dulu lagi. Sayangnya nggak kayak dulu. Nyamannya nggak kayak dulu.

Ngerasa lucu aja, saat kita duduk bersebelahan dan nyeritain masa-masa disaat kita nggak sama-sama. Setelah putus deket sama siapa aja, gimana kabar orang yang dulu ngancurin hubungan kita, gimana ceritanya dia bisa kepikiran gue lagi, gimana kuliahnya selama gue nggak ada di samping dia, sampai gimana respon cewek-cewek yang suka sama dia nanti setelah tahu kalo kita akhirnya balikan. Kita cerita banyak hal, bahkan mensyukuri waktu-waktu yang kita lewatin saat kita berdua dipisahin.

Jujur, dari dulu emang dalam hati kecil gue percaya kalo suatu saat dia bakal balik lagi. Walaupun nggak tahu kapan. Walaupun nggak bisa mastiin itu bakal bener terjadi. Walaupun nggak bisa dibilang nungguin dia juga sih, karena gue jalanin yang ada aja tanpa berusaha buat nyari pengganti dia. Sampai selalu dibilang totally gagal move on, jones, nggak laku, bahkan ada yang lebih nyakitin ngomong kalo gue cuek kayak gitu terus bakalan jadi perawan tua kayak si anu. Tapi, gue tipe yang nggak terlalu peduli omongan orang, sih. Karena menurut gue, ngejalanin hubungan dengan orang yang bahkan nggak bisa dapet secuil pun tempat di hati lo cuma buang waktu dan sia-sia aja.

Disaat orang-orang di sekitar gue bawel nyuruh cepet-cepet nyari jodoh, gue sih tetep stay cool. Gue percaya kalo jodoh udah ada yang ngatur. Tugas gue ya cuma ikhlas dan percaya. Plus nggak lupa berdoa untuk didekatkan dengan orang yang baik. Dan ternyata emang bener, saat kita nggak pernah berhenti untuk terus percaya sama Allah dan kebaikan-Nya, ada aja kejutan yang Dia kasih. Be like... Kok aneh, ya. Kayak mimpi, deh. Terus nyubit-nyubit pipi dan tangan sendiri saking nggak percaya karena belum lama ini ngerasain hal-hal yang nyakitin. Bahkan, gue sampai sekarang masih ngerasa ini bohongan. Masih berpikir kalo hidup gue besoknya bakal balik lagi kayak semula.

Jadi, buat yang baru putus atau lagi nunggu seseorang, jangan kecil hati, ya. Karena penantian lo belum seberapa. Yang penting ikhlas, percaya kalo apa yang Allah kasih buat lo itu pasti yang terbaik, apapun itu. Minta sama Allah kelapangan hati menerimanya setiap kali lo berdoa, insya Allah rasa sakitnya berkurang. Juga, minta semoga kelak lo diberi jodoh yang baik, dan ridha Allah datang bersama orang yang saat ini lo sayang. Seiring lo memperbaiki diri, insya Allah lo akan bersama dengan orang yang baik pula.

Tuesday, April 18, 2017

Isi Hati Penuh Tanya

Andai mengendalikan diri untuk tidak merindukanmu adalah hal yang mudah. Andai mengalihkan perhatian agar tidak memikirkanmu dapat kulakukan dengan sekedar menonton drama Korea atau mendengar lagu-lagu pop punk favoritku selama beberapa jam ke depan. Andai aku bisa bilang tidak untuk setiap rasa yang selalu ingin singgah. Andai perasaanku bisa berubah dengan mudahnya, sepertimu.

Hei, J. Jujur, ini adalah luapan perasaanku yang tak pernah bisa mengerti spesies Aquarian macam kamu. Hari ini kamu berkata, "Udahlah ri, kita udah ga bisa kaya dulu lagi. Aku yang ngga mau." Semudah itu kamu mengucapnya tanpa berpikir dulu apakah kata-kata itu akan menyakitiku atau tidak. Lalu beberapa bulan kemudian, kamu datang dan bilang rindu padaku seolah kata-katamu yang kemarin hanya jokes receh yang biasa kamu tertawakan dan esoknya kamu lupakan begitu saja. Dan, saat aku berpikir masih ada kesempatan buatmu karena kamu berhak mendapatkannya, di saat yang sama kamu menghilang tanpa satu katapun yang setidaknya memberiku kejelasan.

Sebenarnya, aku hanya ingin tahu. Apa kamu sudah sadar bahwa kata-katamu yang kemarin hanya ungkapan dari perasaan sesaatmu saja? Apa kamu sudah sadar bahwa rindu yang kamu ungkapkan padaku datang hanya karena terbawa suasana dari malam-malam sendu berhujan belakangan ini saja? Apa kamu sudah sadar jika berpisah dariku tak mengubah bagian penting yang ada dalam hidupmu?

Dan juga, apa bermain-main dengan perasaan itu hal yang menyenangkan buatmu? Jadi sebenarnya, yang kamu inginkan itu apa? Yang kamu inginkan untuk ada di sisimu itu siapa? Tolong, jangan singgah di pikiranku jika kamu tidak benar-benar ingin ada di sana. Jangan menghantui aku dengan kata maaf dan sesal jika kamu tak sungguh-sungguh memaknainya.

Sungguh, aku hanya tak pernah bisa mengerti mengapa sejak dulu isi hatimu selalu penuh tanya.

Wednesday, February 22, 2017

Hei, Cinta Pertamaku!

Hei, cinta pertamaku. Senang melihatmu baik-baik saja setelah bertahun-tahun tak bertemu. Senang melihat tubuhmu yang tadinya kurus ringkih berubah tambun. Senang melihat senyum konyol dan selera humormu tak berubah. Dan juga, aku senang melihatmu menjelma jadi pria dewasa yang teguh memegang prinsip.

Saat kamu berkata ada banyak gadis yang dekat denganmu dan menyatakan cintanya padamu secara terang-terangan, jujur aku tak cemburu. Ini pertama kalinya dalam hidupku merasa setenang ini tentang kamu. Percaya atau tidak, bahkan aku tersenyum saat kamu bilang hanya ingin bebas sendiri saja tanpa punya hubungan spesial dengan siapapun. Meski tak bersama denganmu karena kau bilang kita tak bisa seperti dulu lagi, aku percaya kamu masih menyimpan perasaan untukku walau hanya sedikit. Bukan rasa percaya diri yang bilang begitu, tapi naluriku.


Meski kamu enggan mengakuinya, aku tahu kamu masih melakukan beberapa aktivitas yang membuat isi kepalamu penuh dengan aku. Entah stalking blog pribadiku, akun-akun media sosialku, hingga mendengarkan beberapa lagu yang membawamu terbang bersamaku ke masa lalu. Aku mengerti kenapa kamu menekan perasaanmu, menyangkal dan berkelit, tetap tak ingin jujur. Bahkan berusaha terlihat jahat dengan caption-caption yang kau unggah dalam foto liburanmu di Instagram. Hatiku sesak, tapi sesaat kemudian aku tersenyum, menyadari bahwa itu adalah cara yang biasa kau lakukan agar aku cepat membencimu.


Jujur, aku tak pernah punya rencana menyayangimu dalam waktu selama ini. Semua mengalir begitu saja. Ada masa di mana aku sama sekali tak memikirkanmu, entah itu karena sibuk menyukai orang lain dengan mencari tahu banyak hal tentangnya, atau menonton beberapa episode drama Korea yang menumpuk dalam folder Kdrama di flashdisk-ku sekaligus. Ada pula masa di mana perasaan itu melekat, seolah tak mau hilang seperti hari pertama aku menyukaimu. Sekali lagi kukatakan, semua berjalan begitu saja. Sungguh. Tanpa kurencanakan.


Tanpa kau bicara, aku tahu bahwa kau hanya ingin fokus menuju pencapaian terbaik dalam hidupmu tanpa memikirkan hal lain di luar itu termasuk cinta. Dan aku, menghargainya. Aku yakin, dalam hatimu kau masih percaya konsep takdir, begitu pula denganku. Jika pada akhirnya kamu tak kembali, it's nothing to lose, karena aku sudah menyerahkan semuanya pada Allah atas apa yang Ia kehendaki. Aku percaya, hal terbaik sudah Allah rencanakan untuk kita. Mungkin saja, kebersamaan kita bukanlah hal yang baik bagi satu sama lain menurut-Nya. Tapi, jika suatu saat kita ditakdirkan bertemu kembali karena rasa yang masih kita simpan rapat-rapat dalam doa, itu artinya, penantian dan waktu yang kita lalui secara terpisah adalah jalan menuju kebersamaan yang mungkin akan lebih kita hargai nantinya.


Jadi saat ini, membantumu fokus meraih impianmu secara diam-diam mungkin adalah yang terbaik. Karena bagiku, menyayangimu masih bisa kuteruskan dengan doa agar kau meraih segala yang kau impikan dalam hidupmu. Dan juga, dengan meneruskan hidupku dengan baik, tanpa banyak berekspektasi bagaimana hubungan kita di masa depan.

Saturday, February 11, 2017

Cerita Malam Berhujan

Hei.... Um, bulan? Bintang? Malam ini mendung, jadi kusapa angin saja, ya? Kusapa kalian lain kali. Hei, angin. Sebenarnya bukan kamu yang ingin kusapa. Tapi, berhubung bulan dan bintang tertutup awan serta hujan, jadi kusapa kamu saja, ya. He. He. He.

Hei, angin. Malam ini terasa sendu kelabu buatku. Pekat, buram, dan setidak-karuan perasaanku. Aku ingin menangis, tapi urung karena Bapak dan Mama masih terjaga. Sibuk sendiri-sendiri. Bapak dengan tontonan D'Academy show-nya dan Mama dengan ponselnya.

Hei, angin. Malam ini hatiku sesak. Tapi tetap tak hilang sesak itu meski aku sudah mencoba jujur. Jujur akan perasaan yang tak pernah bisa kuhapus. Berusaha agar tidak mengklaim diri sendiri sebagai pengecut karena tak mau sedikit berusaha meraih kembali bahagianya. Berusaha jujur, setidaknya pada diri sendiri. Meski aku sudah tahu jawaban yang kuterima akan tetap sama menyesakkannya.

Alih-alih mengeluarkan semua isi hati, perasaanku justru makin dipenuhi tanda tanya karena sulit menebak isi hati pria sepertinya. Aku tak tahu, apa ini hanya perasaanku saja atau petunjuk dari Tuhan agar aku bersabar, sedikit lagi. Aku hanya bingung, kenapa kata "aku kangen kamu juga." harus berbelit menjadi tumpukan kalimat lain yang tak bisa kumengerti. Kenapa kata "udahlah, kita nggak bisa kayak dulu lagi." tak punya alasan. Kenapa kata "kenapa" yang kutanyakan padanya tak bisa ia kembalikan dengan jawaban yang bisa nalarku terima. Maksudku, tak ada jawaban yang melegakan meskipun itu pahit.

Typing....

Hanya itu yang tertera di bawah namanya, berselang lama, seperti memikirkan jawaban yang tepat selang lima hingga tujuh menit (sepertinya, karena kurasa terlalu lama melihat balasannya yang hampir tak bisa disebut satu kalimat), tapi yang kuterima hanya dua baris pesan yang tak melegakan. Siklus last seen at, online, last seen at, lalu online kembali tanpa membalas pesanku terkesan seperti, ia tak ingin terkesan menunggu-nunggu kalimat apa yang selanjutnya kukirimkan, olehku.

Mungkin, kemarin dulu ia kelepasan karena tak dapat menahan antusiasnya saat berbalas pesan denganku. Yang tanpa sadar membuat wujud dirinya yang sebenarnya terlihat, yang tanpa sadar menguap, mengikis es rindu di hatinya. Dan ketika ia menyadarinya, seketika itu pula ia menjauhiku. Seolah perasaan itu salah. Seolah, rindunya padaku salah. Seolah, rindu dan bahagia yang tertahan diujung lidah tak perlu disampaikan hanya karena egonya yang tak ingin kembali.

"Jodoh nggak lari ke mana, ri." begitu sahabatku berujar saat sesi curhat malam ini penuh dengan cerita tentang si pria tadi. Aku tahu hal itu, bahkan selalu kucamkan dalam pikiranku hingga hari itu datang. Kulakukan tanpa mengganggunya sama sekali. Hanya ucapan ulang tahun dengan gambar yang kubuat sendiri setiap tahunnya. Tanpa berpikir akan direspon dengan baik olehnya. Tanpa berpikir karyaku yang kuukir berulang kali hingga jemariku keram akan diakuinya. Tak satupun berubah dariku. Tapi tahun ini ia menyambutnya dengan baik. Dan apakah itu jadi kesalahanku karena menganggap itu sebagai kesempatan yang Tuhan beri? Yang Tuhan beri, ya. Bukan yang ia beri. Karena aku menganggap hati pria itu tergerak karena-Nya. Kuasa-Nya.

Dan, kebiasaannya adalah membuatku berhenti dengan kata-katanya yang sedikit menyakitkan, setidaknya menurutku.

Meski ia berkata genggam tangannya saat kami bertemu hanya untuk membuatku senang, dan membuat kami setidaknya tak berakhir menjadi dua orang asing. Padahal ada banyak hal yang bisa ia lakukan untuk membuatku senang hari itu, bertukar jokes receh seperti biasanya, misalnya. Meski satu waktu kala musik mengalun di earphone-nya muncul sekelebat bayangku di benaknya selalu ia artikan dengan "biasa aja". Meski entah ada angin apa tiba-tiba ada voice call masuk darinya. Meski entah untuk apa semua pemberianku dan benda-benda yang kutinggalkan masih disimpannya di satu kotak dengan rapi bak cerita di novel-novel. Meski setiap aktivitas stalking-nya bahkan hingga postingku bertahun-tahun sebelumnya ia anggap bukan rindu. Padahal, meskipun ia jujur tapi tetap butuh ruang sendiri untuk dirinya, aku tak akan memaksa. Karena yang ingin kutahu hanya perasaannya, bukan  mematenkan status dan mengikatnya dengan hubungan seperti yang ia katakan.

Aku sudah dewasa. Maka harusnya hatiku bisa lebih lapang daripada tahun-tahun sebelumnya saat menerima atau mendengar sesuatu yang tidak membuatku bahagia. Aku sudah dewasa. Maka aku harusnya bisa menghargai orang lain atas apa yang ia pilih. Setidaknya, aku tak diam saja menanti takdirku ditentukan. Meski beberapa hal yang kita perjuangkan tak melulu hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, satu usaha akan menentukan tingkat kesungguhan kita.

Aku mengerti, ia hanya tak ingin mengacaukan rencana hidupnya yang sudah ia susun dengan rapi. Itu bukan pujian, tapi sungguh alasannya untuk tetap sendiri dapat kuterima dan kuhargai. Meski aku masih percaya bahwa perasaannya masih ada untukku walaupun sedikit, aku memilih mempercayainya. Aku memilih percaya "biasa aja." yang selalu ia ucapkan. Aku memilih percaya kata tidak yang selalu jadi perisainya dari rindu yang ditumpuknya setiap hari.

Aku memilih memercayainya karena aku tahu ia adalah pria yang baik. Dia berkata bahwa aku berhak untuk bertemu yang lebih baik darinya. Jauh lebih baik darinya. Mungkin ia hanya tak tahu, bahwa aku bahkan tak pernah punya rencana untuk tetap menyayanginya hingga selama ini. Dan mungkin ia lupa, bahwa Tuhan lebih punya kuasa atas hatinya, begitu juga atas hatiku.

"Bagaimana bisa kita tahu bahwa seseorang adalah orag yang baik atau tidak kalau bukan dengan memercayainya?"

-Surga Yang Tak Dirindukan

Tuesday, February 7, 2017

Undescribeable Feelings

Hei, kamu. Iya, kamu. Tak terasa, ya, hampir dua setengah tahun lamanya kamu menghilang dari hari-hariku yang kadang terasa berat dan notification bar ponselku. Kebersamaan kita yang biasanya jadi mood booster saat suasana hatiku sedang tidak begitu baik, tak pernah ada gantinya. Bahkan di sela tawaku dan teman-teman saat kami membahas jokes receh yang kami lihat di Instagram, saat mataku pejam bersamaan dengan tawa kami yang menggema, kau selalu hadir meski hanya sekelebat di benakku.

Jika bisa, ingin rasanya aku menghindar dari semua ingatan itu. Ingatan yang selalu membuatku memeluk boneka beruangku erat-erat. Ingatan yang selalu membuatku ingin mengulanginya kembali bersamamu. Ingatan yang selalu membuatku merindukanmu sendirian. Ingatan yang selalu membuat hatiku nyeri karena tahu kamu telah melupakannya.

Andai merindukanmu semudah dulu, mungkin hari ini kita sedang berbincang hangat mengenai apa saja yang kita alami hari ini, diselingi dengan berbalas cubit di hidung atau pipi dan usapan lembut di kepala. Andai merindukanmu semudah dulu, mungkin hari ini kita sedang berencana mencocokkan jadwal satu sama lain agar bisa pergi jalan-jalan bersama seharian.

Benar katamu. Percuma, memang. Tak ada gunanya aku menyesal dan berharap semua kenangan itu beserta kamu kembali. Mungkin aku sudah terlambat, atau bahkan, malah tak punya kesempatan sama sekali? Entahlah. Intinya, aku tahu bahwa aku takkan bisa merebut perhatianmu darinya.

Setiap malam, aku hanya bisa bertanya-tanya dengan siapa kau berbalas chat mesra. Topik apa saja yang kalian bahas, apa saja yang kalian tertawakan, hingga ada atau tidaknya ucapan "Selamat malam, selamat tidur..." darimu, lengkap dengan nama lengkap si dia di akhir sesi berbalas pesan kalian.

Aku sedih. Aku kecewa. Aku cemburu. Aku iri dengan si dia yang dapat melihat tawamu sebanyak apapun yang ia mau, atau bahkan, merasakan genggam tanganmu yang hangat di setiap momen yang mendukung. Aku ingin menjadi si dia yang punya banyak kesempatan menghabiskan waktu bersamamu. Menemanimu selama satu hari penuh ke tempat-tempat indah yang dulu belum sempat kita kunjungi bersama.

Memang, seharusnya aku tahu diri karena kau tak pernah terlihat antusias saat aku mencoba berbasa-basi menyapamu. Tapi apa daya? Si bodoh ini nyatanya tak sanggup menimbun rindu sendirian terlalu banyak seperti yang sudah-sudah, hingga pasti kau akan berkata seperti ini dalam hati : "Siapa suruh, udah dua setengah tahun masih belum move on juga! Itu sih, derita lo. Bye." diiringi seringai setelahnya.

Wednesday, January 25, 2017

Once A Year Happiness

Hei, pink sky. Lama tak bertemu. Parasmu sore ini membuatku bahagia, sama seperti sikapnya padaku yang tiba-tiba berubah. Aku tak tahu apa yang salah dengannya, tapi jujur, ini pertama kalinya setelah beberapa tahun berlalu sejak kepergiannya, aku akhirnya merasa bahagia (luar biasa) kembali.

Sikapnya yang tiba-tiba berubah hangat terasa aneh buatku. Aku bahagia hingga tak dapat menutupi hatiku yang rasanya ingin melompat kegirangan dengan kata-kata ketus yang biasa kuucapkan padanya. Aku terlalu bahagia hingga lupa bahwa sudah lebih dari 2 tahun berlalu dan hatinya telah berubah.

Aku masih ingat, betapa dulu aku menunggu-nunggu momen itu—hari ulang tahunnya—datang agar aku dapat mengirimkan beberapa baris kalimat berisi harapan yang terbaik untuknya dariku. Aku masih ingat, betapa antusiasnya aku menantikan momen itu datang hanya karena ingin tahu keadaannya. Aku masih ingat, jawaban singkatnya pernah membuatku enggan membalas pesannya, terlanjur kecewa dan sempat menyesal telah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun dengan gambar yang kuulang berkali-kali hanya agar tak terlihat memalukan. Aku sungguh masih ingat bagaimana hal itu mencabik hatiku dan membuatku menangisinya lagi.

Tapi tahun ini, sikapnya membuatku terkejut. Mulai dari unggahan doodling yang kubuat untuknya di Instagram story-nya, update status di salah satu akun messenger-nya yang menyatakan bahwa ia senang melihat namaku muncul di notification bar ponselnya meski hanya setahun sekali, hingga kata "Kamu apa kabar?" darinya, membuatku melupakan semua sakit dan ketakutanku akan sikapnya setelah meninggalkanku, dan tahun lalu saat aku memberinya ucapan selamat ulang tahun dengan cara yang sama.

Ya. Dua hari yang lalu dan semalam, aku begitu bahagia. Aku memang seharusnya tak sebahagia ini karena mungkin dia hanya kasihan melihatku memendam rindu sendirian. Tapi aku yakin, dia tahu jika aku merindukannya. Setidaknya firasatku berkata demikian meski tak yakin kebiasaan stalking-nya masih seperti dulu atau tidak.

Jika bisa, ingin rasanya kuhentikan waktu agar momen itu bisa berlangsung lebih lama dan tak berlalu meski yang bisa kulakukan hanya berbalas pesan singkat dengannya. Tapi aku tak punya kuasa untuk melakukannya, hingga akhirnya kecewa karena momen itu berlalu dan menghilang begitu saja seperti mimpi.

Meski begitu, Tuhan nyatanya memang Maha Mendengar. Siapa sangka keesokan hari aku bisa mendengar suaranya? Padahal aku hanya menanyakan sebuah buku padanya yang kebetulan bekerja di sebuah toko buku besar. Siapa sangka dia lagi-lagi banyak bertanya hingga akhirnya memutuskan mendengar suaraku walau niat di hatinya mungkin hanya sekedar meledek.

Entah bagaimana aku harus bersyukur hingga aku menangis tak percaya. Sungguh tak percaya bahwa dia benar melakukannya. Meski ini hanya terjadi satu kali dalam hidupku, aku sungguh, sungguh bahagia. Meski tak ada sesal dan sirat rindu di dalam suaranya, sungguh, aku bahagia mengetahui hidupnya berjalan dengan baik. Aku bahagia melihat tubuhnya yang ringkih berubah tambun. Aku bahagia mengetahui dia telah mengunjungi banyak tempat-tempat indah yang belum pernah kukunjungi. Aku juga bahagia mengetahui kuliahnya akan selesai sebentar lagi, dan keinginan yang dulu pernah ia sampaikan padaku untuk jadi seorang sarjana akan segera tercapai. Sehingga satu langkah lebih dekat baginya memiliki apa yang dia inginkan, termasuk seseorang yang sedang ia rencanakan untuk dihalalkan.

Monday, January 23, 2017

Buat Kamu Yang Di Sana (2)

Dilihat dari segi judul, mungkin nggak asing buatmu karena tulisan dengan judul yang sama pernah kau unggah di tahun 2013 untukku yang saat itu berulang tahun. Di awal tahun 2017, tanggal 23 dan ulang tahun yang ke-23, semoga tahun ini membawa banyak keberuntungan buatmu.

Buat kamu yang di sana, hai, apa kabar?
Buat kamu yang di sana, semoga kamu selalu sehat bahkan hingga tulisan ini ku-publish.
Buat kamu yang di sana, selamat ulang tahun, ya! Semoga kamu senantiasa dilindungi Allah swt. kemanapun kakimu hendak melangkah. Semoga setiap hari dalam hidupmu bahagia, dan dikelilingi orang-orang yang dapat membahagiakanmu sesederhana apapun cara mereka melakukannya. Semoga setiap urusanmu dimudahkan, termasuk kuliahmu yang mudah-mudahan selesai setahun lagi.

Kita mungkin berakhir dengan keadaan yang hampir seakan-akan nggak saling mengenal. Tanda kalau kita pernah jadi teman sekelas waktu SMA mungkin hanya saling double tap di beberapa foto yang pernah kita unggah di akun Instagram masing-masing. Meskipun berteman di semua media sosial termasuk beberapa akun messenger yang kita punya, kita nggak pernah sekalipun saling sapa kecuali saat Idul Fitri atau salah satu di antara kita berulang tahun, dengan basa-basi-busuk yang kita sebut doa dan harapan untuk pihak yang saat itu berulang tahun. Setelah selesai, esoknya kita akan kembali jadi dua orang asing yang sama sekali nggak saling kenal.

Benar seperti apa yang kamu katakan dulu bahwa kita pernah sedekat Patrick dan Sponge Bob yang bahagia tanpa menyadari betapa bodohnya mereka. Tapi sekarang, kita berakhir kaku seperti kanebo kering. Bahkan saat kita punya kesempatan bertemu pun, nggak ada hal yang dapat kita jadikan bahan obrolan. Yang dapat membuat kita tertawa terbahak-bahak seperti dulu. Yang dapat membuat waktu berjam-jam terasa satu menit. Yang dapat membuat lelah kita sepulang bekerja hilang hanya dengan bertukar cerita seputar kegiatan kerja masing-masing hari itu.

Tapi, meskipun hanya sekali dalam setahun, memiliki kesempatan bertukar cerita denganmu tetap jadi hal yang menyenangkan buatku. Meskipun hanya aku yang tersenyum sendiri saat melihat balasan pesanmu, melihat gaya tulisan dan selera humormu yang tak pernah berubah, hal-hal yang kau tanyakan, hingga beberapa kebiasaanku yang masih kau ingat, selalu jadi hal menyenangkan buatku. Obrolan kita yang seakan antara orang yang belasan tahun nggak bertemu, meski aneh, kuakui hal itu adalah momen berharga buatku karena nggak setiap hari aku mengalaminya.

Di hari ulang tahunmu yang ke-23, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas banyak pelajaran berharga yang pernah kamu berikan, terutama tentang menerima seseorang apa adanya dan sabar. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang begitu sabar menghadapiku. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang rela mengantar kwetiau goreng kesukaanku tengah malam. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang memberiku dua batang chunky bar di tanggal 10 Januari. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang selalu ingat apa saja hal-hal yang kusukai dan tidak. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang nggak pelit memberiku contekan PR Matematika walau aku berulang kali bertanya akibat tulisanmu yang berantakan dan susah dibaca. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang mau menerima aku apa adanya meski tahu jika aku keras kepala. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang mengisi hidupku dengan banyak kebahagiaan yang nggak bisa kuukur dengan materi. Terima kasih karena kamu pernah jadi seseorang yang membuatku begitu bahagia setiap harinya.

Sekali lagi, selamat ulang tahun yang ke-23, ya! Jangan jadi tua dan menyebalkan. Jadilah yang terbaik, selama engkau hidup! 💙💚💛💜

Monday, January 9, 2017

Sekelebat Tentangmu

Aku sering tersenyum sendiri saat tiba-tiba segala hal tentangmu yang dulu melintas. Ya, begitu saja kau hadir di memoriku. Sekelebat lewat saat aku sedang melamun, saat aku bosan dan bingung hendak melakukan apa di sela-sela jam kerjaku yang terasa begitu panjang menuju pulang. Saat aku duduk sambil bertopang dagu di antara lalu-lalang pengunjung mall yang kulihat, di sana kau ada. Tubuhmu yang tak setinggi sekarang, senyummu yang kikuk namun hangat, wajahmu yang penuh jerawat, alismu yang setebal ulat bulu, ekspresimu saat dipukul guru Bahasa Inggris kita, bicaramu yang agak terlalu cepat, cara berjalanmu yang... Bagaimana aku mendeskripsikannya, ya? Ah, entahlah. Karena sebenarnya itu bukan hal utama yang ingin kutulis.

Biasanya kau hadir di antara langit sore yang berwarna merah jambu, langit cantik yang biasa kusebut pink sky. Di antara matahari yang berubah oranye, yang perlahan tenggelam menuju barat. Di antara gaduhnya tabuh drum dan dentum bass yang mengalun melalui sepasang earphoneku, yang sebagian kecilnya ada lagu dari band favoritmu juga. Di antara angin yang bertiup kencang saat hujan. Di antara bising yang berasal dari atap rumahku yang dihujam rintik massal. Di antara ruang waktu yang tak kusadari sudah berjalan ratusan hari. Entah ini keberapa kalinya aku merindukanmu setelah ribuan kali menyangkal dan berkata akan mengakhirinya. Tapi, bukankah rindu berhak datang kapan saja? Selama aku tak mengusik hidupmu yang bahagia dan berjalan begitu baik selepas kita tak bersama lagi, hal itu tak jadi masalah, kan?

Anggaplah kali ini kau duduk bersila di hadapanku, dengan wajah lelah selepas harimu yang panjang karena kuliah pagi buta dan bekerja setelahnya. Anggaplah kali ini aku hendak berceloteh panjang lebar dan kau bersedia mendengarnya meski entah kau benar-benar mencernanya atau tidak, karena saat mendengarku bercerita, jarimu biasanya tak berhenti bergulir meretweet post dari akun-akun selebtweet yang kau follow. Anggaplah kali ini kau berada di sisiku. Anggaplah kali ini kita masih bersama.

Aku sudah biasa terlelap tanpa Bo di sisiku. Aku tak menyadari kapan aku bisa benar-benar tertidur tanpa memeluknya. Mungkin, karena akhir-akhir ini aku terlalu asik menonton tiap episode drama Korea favoritku hingga ketiduran, memaksa terus menontonnya meski mataku sudah lelah dan masih tak menyerah hingga pukul 3 pagi datang. Padahal, saat aku merindukanmu, aku biasa mencarinya untuk kupeluk. Yang kemudian kuajak bicara tentang hal-hal darimu yang tak pernah ingin kuhapus, meski itu hanya berbisik.

Aku juga sudah biasa merasa kosong. Begitu saja hidupku berjalan tanpa ada hal yang dapat membuatku antusias. Jika ada hal yang bisa mengalihkan perhatianku dari sesuatu yang pada akhirnya membawa memoriku terbang ke masa lalu, mungkin hanya Gong Yoo, Kim Young Kwang, Kim Woo Bin, Ji Chang Wook, Song Joong Ki, dan mereka yang lain, yang membuat wajahku berseri-seri tiap kali melihatnya. Sisanya, setelah satu episode berakhir dan aku tak punya stok episode selanjutnya untuk ditonton, duniaku akan kembali seperti semula.

Monday, November 28, 2016

Bapak

Kalau ada hal yang paling berharga buatku, bahkan tak bisa dibeli dengan uang dan ditukar dengan apapun, itu adalah Bapak dan kasih sayangnya.

Usia Bapak sudah lebih dari setengah abad. Bagi orang yang baru saja bertemu dengannya, mungkin mereka dapat menebak kisaran usianya dengan tepat jika melihat warna putih keabuan yang mendominasi rambut yang kian hari kian menipis di kepalanya. Bapak adalah orang yang keras kepala, agak tempramen, dan kata-katanya sedikit kasar saat marah. Kulitnya sawo matang—jauh lebih gelap dariku—hangus terbakar matahari akibat aktivitasnya mengendarai motor di siang hari yang terik sebagai tukang ojek.

Bapak bukan orang yang mengekspresikan kasih sayangnya dengan kata-kata. Tapi buatku, Bapak yang tiba-tiba menyikut lenganku sambil menjulurkan semangkuk indomie rebus, atau nasi goreng, atau apapun yang bisa ia buat di dapur untukku sepulangku bekerja lebih romantis dari pria yang pernah memberiku setangkai mawar merah lengkap dengan sekotak es krim vanilla dan novel incaran yang belum sempat kubeli karena sibuk. Buatku, kerelaannya menerobos derasnya hujan untuk menjemputku tanpa jas hujan—kami hanya punya satu jas hujan—karena mengutamakanku yang memakainya lebih tulus dari pria yang rela membawakan kwetiau goreng kesukaanku jauh-jauh dari tempat kerjanya ke rumahku tengah malam. Buatku, Bapak yang rela menahan kantuk karena aku memintanya menungguku pulang dan membukakan pintu akibat pulang larut malam, lebih setia dari pria yang menungguku bertahun-tahun agar mau membuka hati padanya.

Cause every daughter will always be her daddy's little girl berapapun usia mereka. Bahkan sampai sekarang, aku masih jadi orang yang sangat bergantung pada Bapak. Aku masih—bahkan selalu—diantar-jemput kemanapun olehnya. Dan karena aku adalah seorang pelupa sejak masih sekolah, Bapak adalah satu-satunya orang yang rela mengantarkan benda-benda penting yang tak sengaja tertinggal di rumah, seperti buku-buku pelajaran yang kebetulan gurunya killer, seragam olahraga, atau bahkan sekarang, seragam kerja, meski Bapak selalu mengomel tiap kali aku menelepon dan meminta Bapak mengantarnya.

Mengingat usiaku yang sudah menginjak 23 tahun, mungkin cuma Bapak yang mengomel jika aku tak pulang tepat waktu karena mampir sana-sini dengan teman-teman sepulang kerja. Dan mungkin cuma Bapak yang mengomel jika aku hendak bertemu teman lama di hari libur kerja dengan alasan aku tak pernah kelihatan betah di rumah untuk cukup beristirahat.

Oh, iya. Aku masih ingat, dulu sekali, Bapak pernah menangis karena sepasang sandal yang kubeli untuknya. Waktu itu, aku membelinya dengan uang yang diberikan kepala counterku di tempat prakerin dengan sukarela karena di sana tak ada gaji untuk karyawan prakerin dari sekolah. Entah dua puluh atau tiga puluh ribu rupiah, aku tak ingat pasti. Tapi saat itu, yang kuingat aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk Bapak meski harus meminta diskon ekstra pada si ibu kepala counter. Hih, memang dasar si seram dengan hati seimut Hello Kitty, batinku, saat aku mengingat Bapak tentang hal itu kembali.

Bapak memang tak sedetail Mama saat menanyakan beberapa hal tentang kehidupanku di luar rumah. Apa yang terjadi hari ini, dengan siapa aku dekat belakangan ini, mengapa aku terlihat diam saja seharian, atau hal-hal kecil lainnya yang semacam itu. Pertanyaan Bapak setiap harinya akan selalu sama; hanya seputar "sudah makan atau belum?", "hari ini masuk apa?", atau, "nanti mau berangkat jam berapa?".

Dan, begitulah Bapak. Masih banyak cerita menyenangkan dari seorang ayah sepertinya yang sulit kuingat dengan baik. Aku hanya berharap, bisa hidup bersama Bapak selama mungkin. Berharap Bapak berada di sisiku saat aku menikah nanti. Berharap, Bapak sempat melihat cucu-cucunya yang lucu lahir dariku; anak perempuan semata wayangnya.

Saturday, September 3, 2016

Bukan Sajak

Aku punya banyak cara agar selalu merasa dekat denganmu. Memakai baju atau sepatu dengan warna favoritmu, memakai wewangian yang sama persis dengan aroma kemeja kerjamu, mendengarkan beberapa lagu dari band yang sangat kau suka, hingga berbicara sendiri seolah kau ada di sebelahku dan sedang mendengarkan celotehku dengan seksama.

Bahkan seringkali, aku benar-benar merasa kau begitu dekat. Aku merasa, kau selalu ada diantara draft-draft yang tak kunjung kuselesaikan, diantara tengah malam menuju pagi, diantara suapan kwetiau goreng yang mungkin kubeli lebih dari tiga kali seminggu, termasuk, diantara hari-hari yang berhujan belakangan ini. Entahlah, aku hanya merasa, kau tak pernah berada terlalu jauh dariku. Meski, kau tak pernah datang lagi sejak hari itu. Sejak 739 hari, atau, sekitar 2 tahun lebih 8 hari yang lalu.

Dan, mengenangmu nyatanya jauh lebih mudah daripada mencoba melupakan jutaan rasa yang pernah kau beri sejak kita SMA dulu. Rindu, marah, kecewa, sebal, tak acuh, bahagia, hingga tawa konyol yang tak jelas sebabnya, rasanya begitu sulit kusingkirkan dari memori. Sedangkan mengenangmu, cukup dengan memeluk boneka beruang putih pemberianmu saja, rasanya kau sudah hadir dipelukku setiap malam. Bahkan, beberapa ucapan sepele darimu pun masih tak luput dari ingatanku yang justru pelupa pada hal-hal yang berusaha kuingat sedapat mungkin. Seperti...

"Aduh, sakit tau. Nyubit tapi kukunya panjang gitu."

"Iya, besok dipotong kukunya."

Dan besoknya, kukumu benar-benar kau potong, padahal setelah itu kamu tak punya kesempatan untuk mencubit pipiku lagi.

Atau...

"Ri, nonton, yuk. Gue yang bayarin, deh."

Ucapmu beberapa bulan setelah kita putus, di depan kelas, dengan seragam putih abu-abu masing-masing yang agak kebesaran.

Atau...

"Aku suka, deh, kamu pakai baju ini. Cantik."

Padahal, tanaman hias yang 40% daunnya layu yang ada di depan pintu rumahku pun tahu, sedikitpun aku tak pernah lebih cantik dari standar tipe idealmu.

Atau...

"Buka mata kamu. Coba lihat mataku."

Saat kamu memelukku, dulu. Beberapa bulan aku bahkan tak bisa melakukannya karena takut jatuh pada tatapan itu, tatapan yang hingga kini tak bisa kutemui dari sepasang mata manapun yang lain. Meski kamu mengatakan hal itu tiap kali kita punya kesempatan untuk bertemu, hingga beberapa bulan, sampai aku bisa melakukannya.

Dan, begitulah setiap harinya. Mungkin kakiku terlalu lemas untuk melanjutkan perjalanan karena beberapa hal di atas tadi.

.
.
.
.
.

"Kemudian aku baru menyadari bahwa dia masih menjadi bagian hidupku. Selama tiga tahun terakhir, keberadaan kami menjadi kebiasaan bagi satu sama lain. Dan meskipun dia melupakan kebiasaannya saat dia meninggalkanku, aku masih terbiasa dengan keberadaannya. Aku masih menganggapnya sebagai masa kiniku, masa depanku. Dan sebenarnya, sekarang dia masa laluku, dan sudah waktunya aku mulai menerima itu, meskipun rasanya menyakitkan untuk melakukannya."

-Jacqueline Wallace (Easy, Mudahnya Mencintaimu, Karya : Tammara Webber)

Friday, August 26, 2016

Day 731.

Hari ini, adalah hari ke-731 tanpamu. Dan aku, masih merindukanmu seperti biasanya. Aku, juga masih tak dapat menghitung berapa banyak es krim stik yang kumakan, berapa banyak film yang kutonton, dan berapa banyak hari buruk yang kulalui tanpamu.

Maaf, jika aku membuatmu tak tenang di sana. Aku sudah berusaha sebaik mungkin menjalani hidupku agar tetap berjalan seperti biasanya tanpamu. Tapi, kadang aku hanya merasa perlu membagi beberapa hal sepele semacam atasanku yang menyebalkan, lembur mendadak, traffic toko yang hectic setiap Jumat, lambungku yang perih karena tak sempat sarapan, atau judul lagu yang baru-baru ini selalu kudengarkan, padamu.

Lalu, bagaimana denganmu? Apa kabarmu di sana? Bertemukah kau dengan bidadari yang selalu kita percayai ada di surga?

Meski kau tak pernah memberitahuku jawabannya, aku tahu, Tuhan sudah merawatmu dengan baik dan menjadikan perasaan bahagiamu kekal di sana. Tapi, berkenankah kau hadir dan singgah malam ini di sisiku? Sebentar, saja. Aku hanya ingin bilang bahwa aku rindu. Aku, sangat... rindu, kemudian memelukmu dengan erat seolah dua tahun tanpamu tak pernah terjadi. Seolah hari-hari buruk selama dua tahun ini selalu dapat kulalui dengan baik setelah kau rela berjam-jam duduk manis untuk mendengar ceritaku. Seolah dua tahun ini kamu hanya tertidur, dan tetap akan menyapaku kembali dengan ucapan selamat pagi esok hari. Seolah kamu hanya pergi sebentar, pergi untuk kembali berbagi cerita tentang apa yang kita alami sepanjang hari, mengusap ujung kepalaku penuh sayang, dan jadi lelakiku seperti biasanya.

Biarlah, cukup aku saja yang memiliki hobi mengenang yang sudah tiada, atau mati. Karena bagiku, mengenang orang baik itu menyenangkan. Kau tetap dapat bersamanya saat mengenangnya kembali dalam memori meski raganya tak bisa lagi bersamamu. Kau akan merasa, dirinya datang bersama angin yang berhembus saat hujan. Kau akan merasa, samar-samar mendengar suaranya dalam riuh rintik hujan yang turun. Kau akan akan merasa, indah pelangi setelah hujan sama teduh dengan senyumnya. Dan kau, akan merasa begitu bahagia hanya dengan mengenang atau menulis beberapa hal manis yang selalu kau ingat darinya.

"And I know it's long gone, and that magic's not here, no more. And I might be okay, but I'm not fine at all..."

Sunday, July 10, 2016

Tak Bisa "Pindah"

Duduk di jok belakang sepeda motormu tanpa tegur sapa dan canda tawa seperti yang dulu biasa kita lakukan terasa aneh buatku. Pertanyaanmu yang hanya terlontar sesekali mungkin dapat mencairkan kekakuan diantara kita, tapi tidak dengan keras hatiku. We feel like two strangers that day. Tapi aku tahu, menahan antusiasku saat bertemu kamu adalah yang terbaik karena aku tak ingin terlihat bodoh berkali-kali. Cukup sekali aku mempermalukan diri di depanmu dengan memohon agar kamu tetap singgah. Ya, mungkin aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku masih (sangat) sayang kamu. Tapi, cukup buatku jadi orang yang paling tidak dihargai perasaannya sepanjang hidup. Cukup buatku percaya bahwa suatu saat nanti kamu akan kembali dan menyadari bahwa pilihanmu meninggalkanku itu salah. Cukup buatku memupuk semua harapan itu jadi kian tumbuh setiap harinya. Semua kurasa cukup karena aku sadar bahwa kamu telah berubah. Dan lagi-lagi, aku butuh usaha yang keras untuk mengingatkan hatiku agar tak coba-coba berharap kembali.

Tepat seperti yang dulu pernah kamu katakan, bahwa perubahan yang terjadi padamu adalah pilihan. Dan yang kamu dapatkan dari duniamu yang baru mungkin saja membuatmu lebih nyaman daripada bahuku yang kurus dan ringkih. Tak apa, semua orang punya hak untuk memilih dan aku menghargai apa yang kamu pilih. Maaf, mungkin ketidaktahuanku dulu pernah membuatmu merasakan kecewa, marah, atau perasaan lain semacam itu. Tapi sungguh, saat aku begitu erat memelukmu dan berkata bahwa aku benar-benar menyayangimu, saat itu pula aku mulai memercayaimu sebagai pria yang takkan pernah menyakitiku selain ayah. Meskipun kita berakhir begitu saja dengan sebab yang sangat jauh dari dugaanku, setidaknya, pilihanku untuk menjadikanmu sebagai cinta pertamaku bukanlah hal yang buruk.

Jujur, aku benar-benar menyayangkan pilihanmu untuk berubah. Itu artinya, kamu sudah memilih untuk berkembang jadi seseorang yang menurutmu lebih baik. Tapi bagiku, takkan pernah ada kamu, bahkan pria yang lebih baik dari kamu yang dulu. Dan mungkin, itu sebabnya mengapa aku tak pernah bisa "pindah".

Tuesday, June 28, 2016

Masih Tentang Rindu

Aku rindu kamu yang sederhana. Lelaki yang apa adanya, yang tak sedikitpun mengubah dirinya hanya untuk dianggap dan diterima lingkungannya.

Aku rindu kamu yang selalu menunduk menekuri tiap petak ubin saat berjalan di koridor sekolah.
Aku rindu kamu yang selalu serius mendengar suara dalam headphone sambil menatap monitor di depanmu dengan seksama di lab Bahasa Inggris.
Aku rindu kamu yang menarik-narik tanganku untuk mengingatkan kewajibanku melaksanakan tugas piket. Aku rindu kamu yang meminjam buku PRku dengan malu-malu untuk kau cocokkan dengan milikmu.
Aku rindu kamu yang selalu melempar tugas menulis catatan dari guru di papan tulis hanya karena aku adalah satu-satunya sekertaris kelas.
Aku rindu mendengar tawaranmu untuk mencontek buku PR matematikamu, yang kau tahu, takkan pernah mungkin kuselesaikan.
Aku rindu melihatmu dengan seragam putih abu yang agak kebesaran, tas punggung army warna cokelat, juga sepatu hitam dengan satu garis merah di masing-masing sisinya.

Aku rindu kamu yang betah seharian duduk hanya untuk main dotA.
Aku rindu kamu yang dengan senang hati menunda sebentar keasyikanmu membaca komik favoritmu hanya untuk bertanya apa aku sudah makan atau belum.
Aku rindu kamu yang tiba-tiba ada di depan rumah dengan sekotak es krim rasa neapolitan dan beberapa batang cokelat dalam tas punggungmu.
Aku rindu kata maaf dalam pesan singkatmu di tengah malam karena kamu tak sengaja tertidur tanpa sempat pamit sebelumnya.
Aku rindu mengetahui tiba-tiba kau terjaga tengah malam hanya karena kau teringat belum dapat kabar dariku jika aku sudah selamat sampai di rumah.
Aku rindu kamu yang hafal apa-apa saja yang kusukai dan tidak, bahkan meski hanya sesepele asap rokok.

Aku rindu kamu yang sedikit banyak berbagi cerita denganku seputar kegiatanmu di kampus.
Aku rindu mendengar keluhmu akibat puluhan kardus yang kau angkat saat datang barang atau hal lain yang kau kerjakan di tempat kerjamu.
Aku rindu memantau suhu tubuhmu dari telapak tangkanku yang menempel di dahi lebarmu.
Aku rindu mencium tangan dan mengusap punggungmu setelah mengucap, "Hati-hati di jalan, ya. Kabarin kalau udah sampe di rumah." saat melepasmu pulang.

Aku rindu kamu yang jujur.
Aku rindu kamu yang gigih meminta maafku meskipun aku enggan.
Aku rindu kamu yang berani menyampaikan rindumu tanpa peduli berapa banyak pria yang mencoba membuka pintu hatiku selama kamu pergi.
Aku rindu kamu yang tak pernah rela melihat setetespun air mataku jatuh.
Dan aku, rindu kamu yang tak pernah meninggalkanku untuk orang lain.

Ya, semua ini masih tentang rindu.