Hei, kamu. Iya, kamu. Tak terasa, ya, hampir dua setengah tahun lamanya kamu menghilang dari hari-hariku yang kadang terasa berat dan notification bar ponselku. Kebersamaan kita yang biasanya jadi mood booster saat suasana hatiku sedang tidak begitu baik, tak pernah ada gantinya. Bahkan di sela tawaku dan teman-teman saat kami membahas jokes receh yang kami lihat di Instagram, saat mataku pejam bersamaan dengan tawa kami yang menggema, kau selalu hadir meski hanya sekelebat di benakku.
Jika bisa, ingin rasanya aku menghindar dari semua ingatan itu. Ingatan yang selalu membuatku memeluk boneka beruangku erat-erat. Ingatan yang selalu membuatku ingin mengulanginya kembali bersamamu. Ingatan yang selalu membuatku merindukanmu sendirian. Ingatan yang selalu membuat hatiku nyeri karena tahu kamu telah melupakannya.
Andai merindukanmu semudah dulu, mungkin hari ini kita sedang berbincang hangat mengenai apa saja yang kita alami hari ini, diselingi dengan berbalas cubit di hidung atau pipi dan usapan lembut di kepala. Andai merindukanmu semudah dulu, mungkin hari ini kita sedang berencana mencocokkan jadwal satu sama lain agar bisa pergi jalan-jalan bersama seharian.
Benar katamu. Percuma, memang. Tak ada gunanya aku menyesal dan berharap semua kenangan itu beserta kamu kembali. Mungkin aku sudah terlambat, atau bahkan, malah tak punya kesempatan sama sekali? Entahlah. Intinya, aku tahu bahwa aku takkan bisa merebut perhatianmu darinya.
Setiap malam, aku hanya bisa bertanya-tanya dengan siapa kau berbalas chat mesra. Topik apa saja yang kalian bahas, apa saja yang kalian tertawakan, hingga ada atau tidaknya ucapan "Selamat malam, selamat tidur..." darimu, lengkap dengan nama lengkap si dia di akhir sesi berbalas pesan kalian.
Aku sedih. Aku kecewa. Aku cemburu. Aku iri dengan si dia yang dapat melihat tawamu sebanyak apapun yang ia mau, atau bahkan, merasakan genggam tanganmu yang hangat di setiap momen yang mendukung. Aku ingin menjadi si dia yang punya banyak kesempatan menghabiskan waktu bersamamu. Menemanimu selama satu hari penuh ke tempat-tempat indah yang dulu belum sempat kita kunjungi bersama.
Memang, seharusnya aku tahu diri karena kau tak pernah terlihat antusias saat aku mencoba berbasa-basi menyapamu. Tapi apa daya? Si bodoh ini nyatanya tak sanggup menimbun rindu sendirian terlalu banyak seperti yang sudah-sudah, hingga pasti kau akan berkata seperti ini dalam hati : "Siapa suruh, udah dua setengah tahun masih belum move on juga! Itu sih, derita lo. Bye." diiringi seringai setelahnya.
No comments:
Post a Comment