Andai mengendalikan diri untuk tidak merindukanmu adalah hal yang mudah. Andai mengalihkan perhatian agar tidak memikirkanmu dapat kulakukan dengan sekedar menonton drama Korea atau mendengar lagu-lagu pop punk favoritku selama beberapa jam ke depan. Andai aku bisa bilang tidak untuk setiap rasa yang selalu ingin singgah. Andai perasaanku bisa berubah dengan mudahnya, sepertimu.
Hei, J. Jujur, ini adalah luapan perasaanku yang tak pernah bisa mengerti spesies Aquarian macam kamu. Hari ini kamu berkata, "Udahlah ri, kita udah ga bisa kaya dulu lagi. Aku yang ngga mau." Semudah itu kamu mengucapnya tanpa berpikir dulu apakah kata-kata itu akan menyakitiku atau tidak. Lalu beberapa bulan kemudian, kamu datang dan bilang rindu padaku seolah kata-katamu yang kemarin hanya jokes receh yang biasa kamu tertawakan dan esoknya kamu lupakan begitu saja. Dan, saat aku berpikir masih ada kesempatan buatmu karena kamu berhak mendapatkannya, di saat yang sama kamu menghilang tanpa satu katapun yang setidaknya memberiku kejelasan.
Sebenarnya, aku hanya ingin tahu. Apa kamu sudah sadar bahwa kata-katamu yang kemarin hanya ungkapan dari perasaan sesaatmu saja? Apa kamu sudah sadar bahwa rindu yang kamu ungkapkan padaku datang hanya karena terbawa suasana dari malam-malam sendu berhujan belakangan ini saja? Apa kamu sudah sadar jika berpisah dariku tak mengubah bagian penting yang ada dalam hidupmu?
Dan juga, apa bermain-main dengan perasaan itu hal yang menyenangkan buatmu? Jadi sebenarnya, yang kamu inginkan itu apa? Yang kamu inginkan untuk ada di sisimu itu siapa? Tolong, jangan singgah di pikiranku jika kamu tidak benar-benar ingin ada di sana. Jangan menghantui aku dengan kata maaf dan sesal jika kamu tak sungguh-sungguh memaknainya.
Sungguh, aku hanya tak pernah bisa mengerti mengapa sejak dulu isi hatimu selalu penuh tanya.
No comments:
Post a Comment