Wednesday, October 31, 2018

Terima Kasih

Ada beberapa perasaan cemas di antara hari-hari yang telah kulalui denganmu. Cemas, bahkan takut. Menghantuiku tiap kali kita berjauhan, bahkan makin besar saat kita bertemu dan melepas rindu yang tertimbun selama berminggu-minggu dengan saling berpelukan. Hingga akhirnya setetes bening jatuh dengan mudahnya ketika kata 'andai' dan 'bagaimana kalau nanti' berlarian dalam sel-sel otak. Sepintas memikirkan sendiri bagaimana hubungan kita nantinya di masa depan.

Aku, selalu mempersiapkan diri untuk tiap-tiap selamat tinggal yang akan kudengar. Karena aku tahu, tak pernah ada temu yang abadi. Aku, hanya ingin bilang: dengan atau tanpamu kuhabiskan sisa hidupku kelak, aku bersyukur atas kehadiranmu dan aku bahagia dipertemukan Tuhan dengan kamu meski kita tidak selalu baik-baik saja.

Terima kasih karena sudah hadir di hidupku meski aku tak pandai mengingat setiap kenang sebaik kamu. Terima kasih untuk tiap hal sederhana yang sudah kamu lakukan untuk membuatku bahagia. Terima kasih sudah bersedia jadi bagian hidupku selama delapan tahun terakhir, hingga hari ini.

Friday, July 7, 2017

Kangen Apa?

Aku kangen. Tapi nggak tahu hal apa yang sekarang lagi aku kangenin dari kamu. Kita udah bareng-bareng lagi, tapi aku nggak ngerti apa yang berubah dari kita dan ngebuat perasaan aku—atau mungkin kamu juga—jadi beda. Mungkin karena kita udah terlalu lama terpisah. Mungkin karena kita udah terlalu lama hidup sendiri-sendiri. Mungkin karena kita udah dewasa. Mungkin karena aku udah jarang denger "Aku sayang kamu." dari kamu. Atau mungkin, karena aku udah capek pacaran dan pengin cepet dihalalin karena udah bosen diucapin selamat pagi cuma lewat chat WhatsApp.

Nggak tahu kenapa, tiba-tiba, aku kangen semua hal sepele yang pernah kita lewatin bareng-bareng. Sepotong kecil kenangan yang memenuhi lebih dari separuh kapasitas memori otakku. Nyontek buku PR atau jawaban essai kamu, ngeliat kamu keringetan setelah jam pelajaran olahraga berakhir, merhatiin kamu dari jauh waktu kamu melototin monitor di lab. komputer, ngeledek kamu dengan julukan autis, online berjam-jam cuma buat chat di Facebook sama kamu, dipuji kamu karena dapet juara kelas, bahkan sampai kangen kamu yang belum kenal rokok sama sekali.

Aku yang berubah, atau kamu? Aku nggak tahu. Mungkin aja, kita berdua sama-sama berubah tapi nggak menyadarinya. Yang pasti, aku mencoba menjalani waktu yang kupunya bareng kamu sebaik mungkin. Walaupun aku cuma punya sehari atau dua hari dalam sebulan untuk sekedar ketemu dan cerita banyak hal sama kamu secara langsung. Walaupun kadang aku nggak bisa mengontrol emosiku karena hal sepele yang seharusnya nggak aku ributin ke kamu. Walaupun kamu sering nggak peka kenapa kamu nyebelin dan bikin aku jengkel. Walaupun kamu garing, gendut, dan sok ganteng. Hehe.

Tuesday, May 2, 2017

Selamat Datang Kembali

Hei. Selamat datang kembali, Mentariku. Hal yang lebih indah dari senja yang selalu kutunggu tiap sore, yang menarik garis senyumku lebih dalam dari langit cantik yang berwarna merah jambu. Pria yang mampu membuatku tabah dan sabar menunggu meski kau tahu bahwa Cancerian adalah makhluk paling tidak sabaran se-dunia. Pria yang enggan pergi dari pikiranku meski raganya tak pernah ada di sisiku dalam kurun waktu yang sangat lama. Pria yang meski kata-katanya pernah begitu menyakitkan, tapi aku tetap percaya bahwa tak semudah itu seseorang berubah.

Hei, Mentariku. Senang rasanya bisa bersandar di bahumu sambil meraih ujung-ujung rambutmu lagi. Senang rasanya bisa mengulang kembali momen menyenangkan saat kita menertawakan tweet atau meme menjengkelkan di Twitter seperti dulu—Ps: dulu Instagram belum jadi trending seperti sekarang. Senang bisa kembali menghabiskan waktuku bersamamu walaupun ada harga yang harus kubayar untuk itu. Bertahun-tahun merindu sendirian, menangisi kenangan yang tak pernah kau ingat, bahkan cemburu padamu yang sudah bukan milikku, saat itu.

Hei, Mentariku. Dulu, hari demi hari pernah kulalui dengan payah. Berlagak seolah lukaku telah sembuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan. Sesekali waktu, saat sepasang earphone-ku mengalunkan lagu Heartache dari ONE OK ROCK atau Still Remembering dari As It Is, di saat itu pula kenangan akanmu mengudara di langit-langit kamar. Satu menit pertama membuatku tersenyum, lalu di menit berikutnya mengundang mendung di pelupuk mata. Kegiatan itu memang agak menyakitkan, sih. Terlebih, saat aku ingat bahwa beberapa waktu lalu kau sedang menyukai seseorang dan memujinya dalam tiap kalimat yang kau post di Twitter-mu. Ya, namanya juga wanita. Ia tahu bahwa mencari tahu yang tidak perlu akan mempersempit rongga dadanya nanti karena sesak, tapi tetap saja melakukannya. Bahkan bisa jadi dua kali lebih sering saat dia merindukannmu.

Hei, Mentariku. Jika kembali bersamamu saat ini sudah bukan lagi menjadi salah satu pintaku dalam doa, akankah tahun-tahun penuh kekosongan yang kulalui tanpamu terbayar dengan kelak selamanya bersamamu? Akankah kau tak pernah lagi mengucapkan hal-hal menyakitkan yang menyayat hatiku saat aku mendengarnya? Akankah kita tak meninggalkan ataupun ditinggalkan lagi?

-Dariku, yang selalu merindukanmu tiap senja dan hujan datang. Cinta pertamamu, yang akhirnya kau sebut sebagai rumah keduamu. Tempatmu merebahkan kepalamu saat lelah. Tempatmu kembali.

Monday, May 1, 2017

Bagaimana?

God knows they worth it.
Mungkin itu yang orang-orang pikir saat kita sepakat untuk kembali memulainya dari awal. Meski memakan waktu yang begitu lama sebelum kamu memutuskan untuk kembali, bahkan hingga sebagian orang mungkin sudah lupa bahwa kamu pernah pergi begitu saja, dengan cara yang menyakitkan.

Aku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Ragu? Takut? Khawatir? Atau istilah lain semacamnya. Aku hanya... merasa tidak nyaman. Tiap kali kita duduk berhadapan dan tatapanmu bersirobok denganku, lalu matamu seolah bertanya "kamu masih ragu?", aku hanya bisa mengalihkan pandangan agar tidak memikirkannya di saat yang sama. Berusaha tidak merusak suasana.

Hangat genggam tanganmu masih sama. Belaian tanganmu di ujung kepalaku juga masih terasa sama. Bedanya, aku hanya tak bisa memastikan semua itu tulus atau tidak. Aku hanya belum bisa terbiasa lagi dengan hal-hal semacam itu darimu. Tatapanmu yang tak berkedip, kata "aku sayang kamu" atau "tungguin aku, ya.", juga kata-kata lain yang biasa kamu ucapkan dulu. Mungkin, karena hampir 3 tahun ini aku menikmati kesendirianku dan terbiasa karenanya, saat semua itu terjadi kembali, bagiku rasanya sedikit aneh.

Saat kamu akhirnya kembali, aku yakin bahwa kita memang ditakdirkan bersama. Tapi esoknya, keyakinan itu jadi berubah-ubah. Ada hal-hal dari masa lalu kita yang hingga saat ini aku takutkan akan terulang lagi. Kamu yang tiba-tiba berubah jadi monster, kamu yang begitu mengerikan dengan kata-kata yang... entahlah, karena sulit bagiku mendeskripsikan level kekejaman kata-katamu saat memilih meninggalkanku dulu.

Selalu ada tanya yang mengelilingi kepalaku selepas kamu pulang, seperti, "Keputusan gue bener nggak, sih?" atau, "Gue cuma dijadiin bahan taruhan aja kali, ya?" atau, "Udah, tungguin aja. Paling, nggak sampai sebulan dia bakal ninggalin lo lagi." atau, "Kenapa gue segampang itu nerima dia balik, sih? Belum juga berjuang apa-apa dia buat dapetin hati lo lagi." atau, "Ya Allah, bisa nggak skip ke 3 tahun kemudian aja, biar aku bisa tahu, dia bener jodoh aku atau bukan?" atau, "Dia kok gampang banget sih bilang 'aku sayang kamu' kayak gitu? Padahal hampir 3 tahun ninggalin lo dan baru kemarin balik sama lo." atau, "Dia masih suka nyimpen foto-foto cewek kayak dulu nggak, ya?" atau, "Lo bakal sakit hati nggak kira-kira kalo suatu saat nemuin sesuatu di hapenya nanti?" atau bahkan segudang pertanyaan random lainnya yang mungkin menurutmu tak penting dipikirkan.

Jadi... apa yang seharusnya kulakukan sekarang?

Wednesday, April 26, 2017

Life is a Surprise

"Ciyeeeee... yang kemarin jalan. Gimana? Cerita, dong?"

Ini cerita 2 hari yang lalu. Waktu itu masuk pagi. Baru juga nyampe. Udah ditodong pertanyaan yang gimana gitu. He.

Gue nggak tahu apa spesialnya cerita dari seseorang yang balikan sama mantannya. Biasanya kan, malah dibego-begoin. :(

Cuma... gimana, ya? Dibilang seneng, ya seneng. Tapi rasanya aneh. Aneh karena butuh waktu lebih dari dua setengah tahun sampai akhirnya kita bisa bareng-bareng lagi. Dan masing-masing juga bertanya-tanya, takut kalo kita nggak bisa kayak dulu lagi. Sayangnya nggak kayak dulu. Nyamannya nggak kayak dulu.

Ngerasa lucu aja, saat kita duduk bersebelahan dan nyeritain masa-masa disaat kita nggak sama-sama. Setelah putus deket sama siapa aja, gimana kabar orang yang dulu ngancurin hubungan kita, gimana ceritanya dia bisa kepikiran gue lagi, gimana kuliahnya selama gue nggak ada di samping dia, sampai gimana respon cewek-cewek yang suka sama dia nanti setelah tahu kalo kita akhirnya balikan. Kita cerita banyak hal, bahkan mensyukuri waktu-waktu yang kita lewatin saat kita berdua dipisahin.

Jujur, dari dulu emang dalam hati kecil gue percaya kalo suatu saat dia bakal balik lagi. Walaupun nggak tahu kapan. Walaupun nggak bisa mastiin itu bakal bener terjadi. Walaupun nggak bisa dibilang nungguin dia juga sih, karena gue jalanin yang ada aja tanpa berusaha buat nyari pengganti dia. Sampai selalu dibilang totally gagal move on, jones, nggak laku, bahkan ada yang lebih nyakitin ngomong kalo gue cuek kayak gitu terus bakalan jadi perawan tua kayak si anu. Tapi, gue tipe yang nggak terlalu peduli omongan orang, sih. Karena menurut gue, ngejalanin hubungan dengan orang yang bahkan nggak bisa dapet secuil pun tempat di hati lo cuma buang waktu dan sia-sia aja.

Disaat orang-orang di sekitar gue bawel nyuruh cepet-cepet nyari jodoh, gue sih tetep stay cool. Gue percaya kalo jodoh udah ada yang ngatur. Tugas gue ya cuma ikhlas dan percaya. Plus nggak lupa berdoa untuk didekatkan dengan orang yang baik. Dan ternyata emang bener, saat kita nggak pernah berhenti untuk terus percaya sama Allah dan kebaikan-Nya, ada aja kejutan yang Dia kasih. Be like... Kok aneh, ya. Kayak mimpi, deh. Terus nyubit-nyubit pipi dan tangan sendiri saking nggak percaya karena belum lama ini ngerasain hal-hal yang nyakitin. Bahkan, gue sampai sekarang masih ngerasa ini bohongan. Masih berpikir kalo hidup gue besoknya bakal balik lagi kayak semula.

Jadi, buat yang baru putus atau lagi nunggu seseorang, jangan kecil hati, ya. Karena penantian lo belum seberapa. Yang penting ikhlas, percaya kalo apa yang Allah kasih buat lo itu pasti yang terbaik, apapun itu. Minta sama Allah kelapangan hati menerimanya setiap kali lo berdoa, insya Allah rasa sakitnya berkurang. Juga, minta semoga kelak lo diberi jodoh yang baik, dan ridha Allah datang bersama orang yang saat ini lo sayang. Seiring lo memperbaiki diri, insya Allah lo akan bersama dengan orang yang baik pula.

Tuesday, April 18, 2017

Isi Hati Penuh Tanya

Andai mengendalikan diri untuk tidak merindukanmu adalah hal yang mudah. Andai mengalihkan perhatian agar tidak memikirkanmu dapat kulakukan dengan sekedar menonton drama Korea atau mendengar lagu-lagu pop punk favoritku selama beberapa jam ke depan. Andai aku bisa bilang tidak untuk setiap rasa yang selalu ingin singgah. Andai perasaanku bisa berubah dengan mudahnya, sepertimu.

Hei, J. Jujur, ini adalah luapan perasaanku yang tak pernah bisa mengerti spesies Aquarian macam kamu. Hari ini kamu berkata, "Udahlah ri, kita udah ga bisa kaya dulu lagi. Aku yang ngga mau." Semudah itu kamu mengucapnya tanpa berpikir dulu apakah kata-kata itu akan menyakitiku atau tidak. Lalu beberapa bulan kemudian, kamu datang dan bilang rindu padaku seolah kata-katamu yang kemarin hanya jokes receh yang biasa kamu tertawakan dan esoknya kamu lupakan begitu saja. Dan, saat aku berpikir masih ada kesempatan buatmu karena kamu berhak mendapatkannya, di saat yang sama kamu menghilang tanpa satu katapun yang setidaknya memberiku kejelasan.

Sebenarnya, aku hanya ingin tahu. Apa kamu sudah sadar bahwa kata-katamu yang kemarin hanya ungkapan dari perasaan sesaatmu saja? Apa kamu sudah sadar bahwa rindu yang kamu ungkapkan padaku datang hanya karena terbawa suasana dari malam-malam sendu berhujan belakangan ini saja? Apa kamu sudah sadar jika berpisah dariku tak mengubah bagian penting yang ada dalam hidupmu?

Dan juga, apa bermain-main dengan perasaan itu hal yang menyenangkan buatmu? Jadi sebenarnya, yang kamu inginkan itu apa? Yang kamu inginkan untuk ada di sisimu itu siapa? Tolong, jangan singgah di pikiranku jika kamu tidak benar-benar ingin ada di sana. Jangan menghantui aku dengan kata maaf dan sesal jika kamu tak sungguh-sungguh memaknainya.

Sungguh, aku hanya tak pernah bisa mengerti mengapa sejak dulu isi hatimu selalu penuh tanya.

Wednesday, February 22, 2017

Hei, Cinta Pertamaku!

Hei, cinta pertamaku. Senang melihatmu baik-baik saja setelah bertahun-tahun tak bertemu. Senang melihat tubuhmu yang tadinya kurus ringkih berubah tambun. Senang melihat senyum konyol dan selera humormu tak berubah. Dan juga, aku senang melihatmu menjelma jadi pria dewasa yang teguh memegang prinsip.

Saat kamu berkata ada banyak gadis yang dekat denganmu dan menyatakan cintanya padamu secara terang-terangan, jujur aku tak cemburu. Ini pertama kalinya dalam hidupku merasa setenang ini tentang kamu. Percaya atau tidak, bahkan aku tersenyum saat kamu bilang hanya ingin bebas sendiri saja tanpa punya hubungan spesial dengan siapapun. Meski tak bersama denganmu karena kau bilang kita tak bisa seperti dulu lagi, aku percaya kamu masih menyimpan perasaan untukku walau hanya sedikit. Bukan rasa percaya diri yang bilang begitu, tapi naluriku.


Meski kamu enggan mengakuinya, aku tahu kamu masih melakukan beberapa aktivitas yang membuat isi kepalamu penuh dengan aku. Entah stalking blog pribadiku, akun-akun media sosialku, hingga mendengarkan beberapa lagu yang membawamu terbang bersamaku ke masa lalu. Aku mengerti kenapa kamu menekan perasaanmu, menyangkal dan berkelit, tetap tak ingin jujur. Bahkan berusaha terlihat jahat dengan caption-caption yang kau unggah dalam foto liburanmu di Instagram. Hatiku sesak, tapi sesaat kemudian aku tersenyum, menyadari bahwa itu adalah cara yang biasa kau lakukan agar aku cepat membencimu.


Jujur, aku tak pernah punya rencana menyayangimu dalam waktu selama ini. Semua mengalir begitu saja. Ada masa di mana aku sama sekali tak memikirkanmu, entah itu karena sibuk menyukai orang lain dengan mencari tahu banyak hal tentangnya, atau menonton beberapa episode drama Korea yang menumpuk dalam folder Kdrama di flashdisk-ku sekaligus. Ada pula masa di mana perasaan itu melekat, seolah tak mau hilang seperti hari pertama aku menyukaimu. Sekali lagi kukatakan, semua berjalan begitu saja. Sungguh. Tanpa kurencanakan.


Tanpa kau bicara, aku tahu bahwa kau hanya ingin fokus menuju pencapaian terbaik dalam hidupmu tanpa memikirkan hal lain di luar itu termasuk cinta. Dan aku, menghargainya. Aku yakin, dalam hatimu kau masih percaya konsep takdir, begitu pula denganku. Jika pada akhirnya kamu tak kembali, it's nothing to lose, karena aku sudah menyerahkan semuanya pada Allah atas apa yang Ia kehendaki. Aku percaya, hal terbaik sudah Allah rencanakan untuk kita. Mungkin saja, kebersamaan kita bukanlah hal yang baik bagi satu sama lain menurut-Nya. Tapi, jika suatu saat kita ditakdirkan bertemu kembali karena rasa yang masih kita simpan rapat-rapat dalam doa, itu artinya, penantian dan waktu yang kita lalui secara terpisah adalah jalan menuju kebersamaan yang mungkin akan lebih kita hargai nantinya.


Jadi saat ini, membantumu fokus meraih impianmu secara diam-diam mungkin adalah yang terbaik. Karena bagiku, menyayangimu masih bisa kuteruskan dengan doa agar kau meraih segala yang kau impikan dalam hidupmu. Dan juga, dengan meneruskan hidupku dengan baik, tanpa banyak berekspektasi bagaimana hubungan kita di masa depan.