Wednesday, January 14, 2015

Epilog

Almira dan Erik telah sepakat akan ke Dunia Fantasi hari ini karena Erik berjanji akan mengajak Almira kesana jika ia lekas sembuh. Sesampainya di sana Erik menggandeng Almira seperti biasanya layaknya seorang kekasih.

"Rik. Gaya lo gandeng gue berasa gue cewek lo aja deh ah. Nanti kalo cewek yang lo taksir lihat gimana coba? Bisa-bisa diulek jadi sambel gue?"

"Dasar oon, cabe-cabean dong lo? Diulek jadi sambel gitu?" Mereka tergelak bersama.

Satu-persatu wahana mereka naiki dengan penuh perasaan gembira. Almira tertawa riang seakan beban akan masa lalunya bersama Dito telah menguap bersama tawanya dan Erik sore itu.

Setelah merasa lelah, Erik memberikan sebotol minuman pada Almira dan duduk di spot dekat wahana komidi putar.

"Al, lo tunggu sini sebentar ya, jangan kemana-mana. Gue ke toilet dulu sebentar." Erik berbohong.

"Oke, bos!" Kata Almira setelah meneguk habis minumannya.

Erik sedikit berlari untuk mencari pedagang harum manis kesukaan Almira. Erik bertekad akan menyatakan perasaannya saat itu dan tak ingin menundanya lagi. Tak sampai 15 menit, Erik kembali ke tempat dimana Almira menunggunya.

"Surprise!" Suara Erik mengagetkan Almira.

"Erik! Kebiasaan lo! Selalu aja bikin kaget! Aaaaaaa, mau mau mau. Itu buat gue kan yah?" Almira merengek manja.

"Yee, siapa bilang, orang ini buat badut dufan!"

"Haha, ye... dasar tutup salep! Ya nggak mungkin lah, lo kan cuma bisa so sweet sama gue! Lagi juga gue nggak rela kalo harum manisnya lo kasih ke badut. Emang dia lebih spesial buat lo dibanding gue! Hih!" Almira merebut harum manis tersebut dari genggaman Erik dengan cekatan.

"Al, ada yang pengen gue omongin sama lo, ini penting dan menyangkut soal kita berdua." Raut wajah Erik berubah serius.

"Apa? Apa? Wah lo mau kenalin cewek yang lo taksir ya, Rik? Dia ada di sini ya, Rik? Mana? Dia dimana?" Cerocos Almira tak sabar.

"Gue mau jujur sama lo, Al. Kalo..... kalo..... kalo..... hhhhh... kalo gue selama ini....."

"Selama ini apa sih? Aduh lo kok ngomong aja jadi belepetan gitu kayak belek lo, hahaha."

"Al, please be serious. Gue nggak lagi becanda."

"Iya, iya, maaf. Yaudah iya gue diem. Gue dengerin." Almira masih asik mencomot harum manisnya dengan cuek.

"Gue sayang lo, Al." Beban di hati Erik mulai terangkat.

"A.. Apa?" Almira tersentak dengan ucapan Erik dan menaruh harum manisnya di sebelahnya.

"L.. Lo bilang apa, Rik? Gue salah denger, ya?"

"Lo nggak salah denger, Al. Gue sayang sama lo. Sayang banget sama lo. Gue pengen bisa jadi alasan lo buat bahagia, pengen bisa jagain lo terus, lindungin lo dari rasa sakit. Gue udah nggak bisa bohong lagi sama lo. Beban buat gue rasanya pura-pura nggak punya perasaan apapun sama lo, gue capek bohong terus. Gue nggak tahu tepatnya kapan gue mulai jatuh cinta sama lo, bahkan sayang sama lo, semua ngalir gitu aja, Al, tanpa bisa gue kendaliin. Gue cuma mau utarain itu aja, apapun keputusan lo, gue terima."

Almira masih terpaku dengan mulutnya yang masih penuh dengan harum manis. "Ng, Rik. Gue nggak tahu, jujur gue kaget banget lo bilang semua ini ke gue. Gue nyaman kalo deket lo, nyaman banget sampe kadang gue lupa kalo kita udah ngakak bareng berjam-jam sampe tau-tau udah malem aja rasanya. Tapi kalo perasaan lebih, gue nggak tahu apa gue punya itu buat elo. Kita udah sahabatan lama, Rik. Lagipula, kalopun gue bisa jatuh cinta lagi, gue takut, gue masih takut, Rik. I'm too afraid for another goodbye." Almira memandang kosong ke langit yang mulai berubah warna menjadi oranye.

"Lo nggak perlu jawab sekarang, Al. Itu hak lo, lo mau kasih gue kesempatan atau enggak. Gue cuma mau bilang. Nggak semua laki-laki sama kayak apa yang lo pikirin. Dan nggak semua perubahan seseorang bakal bikin lo kehilangan. Seseorang berubah karena dia ingin, harus, atau "dipaksa" berubah. Kalo lo terus takut, artinya lo mutusin kesempatan buat seseorang yang lebih baik untuk bisa bahagiain elo. Yaudah yuk, kita pulang, udah sore. Eh, mau lihat sunset dulu, nggak?"

Almira menggapai uluran tangan Erik seraya berdiri dari duduknya dan terlihat tengah mimikirkan sesuatu.

"Kasih gue waktu ya, Rik."

Merekapun beranjak meninggalkan Dunia Fantasi untuk melihat sunset di pantai sore itu.

*seminggu kemudian*

"Hey, Rik. Bawa apaan tuh? Pasti mau nyogok gue biar diterima! Hahaha." Canda Almira sampai pipi Erik terlihat merah karena malu.

"Yeee... dari dulu gue bawain lo makanan kan karena emang gue tau kalo kerjaan lo makan mulu, liat aja tuh badan lo, udah kaya tabung gas elpiji. Bulet! Haha."

"Ke taman yuk, Rik. Gue udah sebulan ga kesana. Kangen pengen main ayunan, nih."

"Yaudah ayuk, dasar bocah kecil."

Sesampainya di taman, Almira langsung duduk di ayunan pojok sebelah kanan, posisi yang selalu dipilihnya tiap kali datang ke taman ini.

"Rik, soal yang di Dufan minggu lalu, gue.... gue pikir-pikir, nggak ada salahnya gue kasih lo kesempatan. Tapi gue nggak tahu apa gue bisa ngerasain perasaan itu sama lo, biar waktu aja yang jawab ya?"

"Jadi lo? Jadi lo terima gue, Al? Jadi lo mau jadi pacar gue, Al? Jadi kita? Jadi kita pacaran, Al?!" Tanpa sadar suara Erik terdengar cukup keras saking senangnya.

Almira mencubit lengan Erik sambil berbisik. "Astaga, Erik. Pelanin dikit kek suara lo. Malu, Rik!"

"Bilang kalo ini bukan mimpi, Al. Bilang!!!!!"

"Iya, Erik Prasetya. Ini bukan mimpi. Almira Shafila, sahabat lo dari SMP yang lucu dan imut ini bersedia jadi pacar lo."

"Al. Just keep my promises. I'll never let you down like he does. And I'll love you with all of my heart. Deeply."

"Rik, boleh gue minta satu hal?"

"Buat tuan putri, jelas."

"Gue minta selama kita sama-sama, lo jangan pernah janjiin apapun, bahkan tanpa lo sadar tolong hindarin itu. Kalo lo emang pengen bahagiain gue, jangan janjiin apapun, lakuin aja apa yang lo bisa, kayak biasanya. Kadang kita lupa disaat kita terlalu bahagia, kita suka ngumbar janji yang akhirnya justru bikin kita ingkar. Karena janji kapanpun bisa jadi ingkar tanpa tahu waktu kan, Rik?" Almira teringat kembali traumanya.

"Iya, Al. Maafin aku ya, sayang. Cuma pria bodoh yang nyia-nyiain kamu. Makasih banget, kamu udah mau kasih aku kesempatan. Karena aku lagi seneng, gimana kalo aku traktir es krim!"

"Dasar pria, kalo maunya udah terpenuhi aja langsung deh, haha. Lihat aja nanti, pasti nggak lama juga ditinggalin."

"Al, tuhkan, belum apa-apa aja udah su'udzon. Ucapan itu doa, berucap yang baik-baik, biar yang terealisasi juga yang baik-baik. Yaudah ayuk cari es krim." Erik bangkit dari duduknya seraya meraih tangan almira dan mengenggamnya seakan tak ingin melepasnya lagi.

"Ih, aku becanda, tutup salep!" Almira menjulurkan lidahnya, menunjukkan mimik wajahnya yang meledek.

"Terima kasih, Tuhan. Semoga laki-laki ini jawaban atas semua lukaku." Batin Almira seraya tersenyum menatap mata indah Erik.

Selesai.

Chapter 8

~~

We were best of friends since we were this high,

So why do I get nervous every time you walk by.

We would be on the phone all day,

Now I can't find the words to say to you,

Now what am I supposed to do?

~~

Terdengar alunan akustik lagu Catching Feelings - Justin Bieber, dari senar-senar gitar yang Erik petik. Erik melantunkan lagu itu dengan suara merdunya di halaman belakang kostnya. Tak lama, ia berhenti memetik senar gitarnya, sesaat teringat akan gadis yang begitu disayanginya.

"Almira Shafila, what am I supposed to do now?" Ceracau Erik, sambil memeluk gitar kesayangannya dan menatap indahnya bintang malam itu. "Gue harus gimana ya, Al? Gue nggak bisa terus-terusan bohongin perasaan gue kayak gini, kesiksa juga gue lama-lama."

"Woy! Rik, ngapain lo sendirian di belakang hari gini? Galau lo? Haha." Tiba-tiba Firas datang, mengagetkan dan membuyarkan lamunannya.

"Ah sialan lo, Ras, ngagetin gue aja. Ah enggak sih, ya masa seorang Erik Prasetya galau." Erik meminum kopi hangatnya beberapa teguk. "Gue nggak lagi galau, Ras. Tapi gundah gulana, hahaha." Lanjutnya.

"Ras. Misalnya nih ya, misalnya. Lo punya sahabat cewek, dan lo udah lama sahabatan sama dia. Selama lo sahabatan sama dia, lo selalu ngerasa wajib buat lindungin dia, pengen selalu lihat dia ketawa, gak pengen lihat dia sedih, dan tanpa sadar lo sayang sama dia. Menurut lo, itu salah nggak?" Tanya Erik hati-hati.

"Astaga, Rik, gue kira lo galau masalah kuliah apa kerjaan gitu sampe-sampe kayaknya muka lo keliatan depressed banget gitu. Haha, ya nggak salah lah, Rik. Kita kan manusia, punya perasaan, dan perasaan itu nggak bisa kita kendaliin kan? Kita suka sama siapa, kita sayang sama siapa, kita bahagia sama siapa, semua itu terjadi tanpa sadar."

"Sayang sama seseorang itu anugrah, Rik. Sekalipun dia sahabat lo sendiri. Semua ada resikonya. Tapi kalo cuma lo pendam aja, itu namanya lo pengecut. Sampein apa yang pengen lo sampein. Utarain apa yang pengen lo utarain." Lanjut Firas sambil membetulkan posisi kacamatanya.

"Kalo lo sayang sama Almira, bilang, sampein sama dia kalo lo sayang sama dia lebih dari sahabat, lebih dari apa yang selama ini dia tahu. Jujur aja, Rik. Urusan dia terima atau tolak, itu belakangan. Seenggaknya lo udah jujur sama perasaan lo sendiri."

Erik menghela nafas seraya bersandar di pilar teras kostnya. "Tapi gue ragu, Ras. Gue takut Almira malah jauhin gue nanti. Gue nggak mau itu terjadi. Kalo dia jauhin gue, siapa lagi yang bakal jagain dia, lindungin dia? Gue cuma nggak mau egois."

"Dengan lo mendam perasaan lo kayak gini, lo pikir lo nggak egois? Setiap orang berhak jatuh cinta sama siapa aja, Rik. Pikirin itu baik-baik, bro. Sebelum lo nyesel, kalo dia nanti jatuh ke pria yang lebih salah lagi daripada mantannya." Sahut Firas bijak seraya menepuk bahu Erik dan berlalu menuju kamarnya.

"Astaga, kenapa sayang sama seseorang harus serumit ini sih! Mungkin kalo Almira bukan sahabat gue bakalan lebih mudah." Dumal Erik.

Erik berjalan gontai menuju kamarnya. Memikirkan kata-kata Firas padanya barusan. Erik menjatuhkan dirinya diatas kasur lipat dengan seprainya yang berantakan, sama berantakannya dengan pikirannya saat ini.

Erik mengetik pesan singkatnya pada Almira via BBM,

"Al, lo lagi ngapain? Temenin gue makan kwetiau yuk. Gue traktir deh."

*new BBM message*
"Sorry, Rik, gue nggak bisa kalo hari ini, gue lagi nggak enak badan, Rik, maaf ya. Gue janji kalo udah enakan, lo mau kemana aja pasti gue temenin."

Erik kaget membaca pesan BBM yang Almira kirim. Setahunya, kemarin keadaan Almira masih baik-baik saja, setidaknya, itulah yang Almira katakan padanya lewat BBM kemarin malam.

Tangan Erik Cekatan menekan nomor 8 pada speed dial panggilannya untuk menelpon Almira.

"Al, lo sakit apa? Kenapa bisa sakit? Kemarin lo makan apa sampe bisa sakit? Lo salah makan ya, Al? Apa lo kecapekan kurang istirahat? Ya ampun, Al, makanya jangan bandel kenapa sih kalo gue bilangin!" Todong Erik tanpa helaan napas.

"Ya ampun, Rik. Bisa nggak sih nanyanya satu-satu, gue nggak kenapa-napa kok, cuma demam aja *uhuk* sama batuk pilek ringan doang, nggak usah lebay deh." Balas Almira dengan suaranya yang lemah.

"Yaudah, gue otw rumah lo sekarang. Gausah larang-larang gue, gue tetep kesana. Bye!" Sambungan telpon terputus.

"Erik, Erik. Nggak berubahnya deh. Udah kayak pacarnya aja gue, hahaha." Almira membenamkan tubuhnya makin dalam di selimutnya yang tebal dan nyaman.

15 menit kemudian

"Assalamualaikum, Bu. Maaf Erik baru sempet jenguk Almira, Erik baru tahu kalo Almira sakit, Almira nggak ngabarin soalnya."

"Ndak apa-apa nak Erik, lah wong cuma demam aja kok dia. Semalam kehujanan, ndak tahu abis darimana, ndak bilang dia soalnya. Gih bawa aja langsung itu ke Almiranya, daritadi ndak mau makan. dia di ruang tamu lagi nonton TV." Jelas Ibunda Almira ramah.

"Oh, yaudah, Bu, kalo gitu. Erik permisi ke dalam ya, Bu."

"Iya, iya. Monggo, nak Erik."

Seperti biasanya, Erik berniat untuk menjahili Almira sebelum menampakkan dirinya di depan Almira. Erik mengumpat di belakang sofa, lalu menarik telinga Almira dari belakang, kemudian sembunyi layaknya anak kecil yang meledek.

"Erik! Udah deh, gak lucu ah! Kayak anak kecil aja lo becandanya!" Almira mengomel dengan mimik wajah juteknya yang khas.

"Yaelah, Al, gitu aja ngambek. Jelek ih lo kalo ngambek."

"Biarin, emang udah jelek dari sananya!" Almira cemberut.

"Ya ampun, Al, mau muka lo iler semua juga buat gue cuma elo yang paling cantik, hahaha. Nih gue bawain bubur kacang ijo, masih anget, gue suapin ya, kata nyokap lo nggak mau makan daritadi. Gue udah repot-repot bawain ini semua jadi lo harus makan sampe habis. Gue nggak mau tahu." Kata Erik dengan nada sok galak.

"Idih, jadi lo nggak ikhlas nih! Yaudah kalo gitu gue nggak mau makan. Eh tapi gue nya laper, ding. Jadi mau deh, hahaha."

Erik menuang bubur kacang ijo yang masih hangat itu kedalam mangkuk dan mulai menyuapi Almira dengan sabar. Untung saja, Erik dengan senang hati melakukannya karena Almira adalah seorang gadis yang sangat manja saat dirinya sedang dalam keadaan sakit.

"Ya ampun, Al, lucu banget sih lo kalo lagi manja kayak gini, pengen gue peluk aja rasanya." Batin Erik.

Setelah suapan terakhir, Erik mengambilkan bungkusan obat milik Almira di kotak obat, membantu Almira untuk minum obat.

"Nih, teh angetnya. Tadi gue udah izin sama nyokap lo kok buat ke dapur, gak enak juga sih kan gue nggak pernah sampe ke dapur-dapur kalo main ke rumah lo."

"Rik, jangan lebay, please. Nyokap juga ngerti kali kalo kita udah temenan lama. Malah dia lebih kenal sama lo kali dibanding Dito." Almira meniup teh nya yang masih panas kemudian menyesapnya untuk membantu menelan obatnya.

"Yaudah lo tidur ya. Gue temenin sampe lo bener-bener tidur." Erik menarik ujung selimut Almira kemudian melebarkannya sampai ke leher Almira.

"Eh, Rik, btw gimana sama cewek yang lo taksir itu? Udah ada kemajuan? Gue udah lama ga denger lo cerita tentang tuh cewek." Tanya Almira tak sabar.

"Aduh, Al. Elo tuh lagi sakit kali, kayak nggak ada pokok bahasan lain aja deh. Yang itu kita omongin lain kali aja. Lo aja belum cerita kelanjutan lo sama Dito gimana, udah kepoin gue aja, haha." Erik mengacak-acak rambut Almira gemas.

"Ye, elo aja sering kepo masa gue nggak boleh kepo!" Almira hendak melempar bantal ke wajah Erik namun meleset, hingga mengenai lutut ibundanya.

"Almira, kamu ini kok ya nggak sopan sih becandanya, nduk, nduk. Nggak boleh kayak gitu. Nak Erik udah baik mau dateng kesini bawain kamu makanan kok malah kamu lemparin bantal begitu."

"Haha, nggak apa-apa kok, Bu. Ini kita cuma lagi becanda aja."

"Hm, yadudah kalo gitu Ibu tinggal ke belakang dulu ya mau buat kue untuk sajian ibu-ibu arisan besok." Lanjut Ibunda Almira masih dengan logat Jawa kentalnya.

Ibunda Almira tersenyum memperhatikan mereka berdua. Ia tahu bahwa Erik mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar sahabat pada putrinya, hanya saja, putrinya belum menyadarinya.

20 menit Erik bercerita pada Almira tentang kejadian-kejadian lucu yang dialaminya, Almira akhirnya tertidur. Erik membelai kepala Almira, dan mencium keningnya.

"Gue sayang lo, Al. Sayang banget sama lo sampai gue bingung, gue harus jujur atau tetap pendam semua perasaan ini sama lo."

Setelah berpamitan pada ibunda Almira, Erik pun pamit pulang dengan perasaan yang makin campur aduk.

"Gue harus utarain semuanya besok, harus."

-bersambung-

Thursday, December 18, 2014

Whatever You Wanna Call it

Haha, lucu sekali ya. Ternyata hatimu mudah sekali dipatahkan meskipun sekian lama kamu membangun jembatanmu untuk keluar dari sana, berusaha mematikan seluruh kesakitanmu karenanya. Seketika, ketika tak sengaja melihat rayu mesranya pada wanita lain. Sudahlah, untuk apa menyimpan hal yang membuat hatimu makin tersakiti? Sudah jelas bukan? Kurang jelas apalagi? Bahwa hidupnya sudah benar-benar sempurna tanpamu. Biar dia bahagia dengan hidup barunya tanpamu. Biar dia bahagia dengan pujaan hatinya yang baru. Biar dia bahagia dengan cintanya yang baru. Apalagi yang kamu harap? Sudahlah, berhentilah berharap, berhentilah mengasihani diri sendiri. Lanjutkan hidupmu. Berhentilah untuk merasakan kesakitan hatimu, anggap saja kau hanya kehabisan nafas beberapa detik :)

Dan, selamat tinggal, juga terima kasih..
karena kini akhirnya aku yakin untuk melangkah :)

Thursday, December 11, 2014

Ketika "Kamu" Yang Ia Maksud Bukanlah Dirimu

Hari-hari berlalu begitu saja semudah merobek kalender sobek harian. Ya, semudah itu hari berganti tapi hidupmu tetap nggak beranjak. Nggak ingin pergi kemana-mana. Hanya ingin sendiri, menyepi, karena kamu percaya bahwa sendiri adalah satu-satunya yang terbaik untuk menghindarkanmu dari kesakitan berikutnya. Dan kalimat itu selalu terngiang : "Sometimes there are things you'd rather forget because they cause you too much pain." Dan lagi-lagi, nyatanya melupakan nggak semudah mengucapkannya. Ada saat dimana kamu mengingat kembali hal-hal pahit yang membuatmu sakit. Dan yang lebih menyakitkan, kamu nggak bisa melakukan hal apapun untuk mengurangi rasa sakitnya, terlebih disaat kamu melihat satu momen yang mengingatkanmu bahwa kamu sering melakukan hal itu dengannya. Yakinlah, bahwa nggak ada seorangpun yang ingin mengenang hal-hal yang menyakitkan dirinya.

One day, saat kamu dalam perjalanan pulang menuju rumahmu sepulang lelahmu bekerja, saat itu malam, sunyi, senyap, dan sialnya playlistmu tak sengaja memutar lagu "Daughtry - Life After You". Betapa indahnya malammu saat itu bukan? Atau mungkin sial? Atau mungkin justru kamu menikmatinya? Menantikannya? Karena setelah sekian lama kamu (berusaha) mengabaikannya sebagai upaya menyembuhkan lukamu, momen itu membuatmu mengingatnya kembali. Membuatmu merasa rindu padanya lagi. Salah? Entahlah. Maybe, it's just a feeling. Mungkin itu bisa disebut salah karena kamu merindukan orang yang salah, karena kamu merindukan orang yang telah jauh melupakanmu. Lebih tepatnya, melupakanmu untuk orang lain. Orang yang telah bahagia tanpamu, bahagia dengan hidup barunya tanpamu, bahagia ketika "kamu" yang ia maksud dalam setiap celotehnya bukan dirimu.

Mungkin ada satu harapan kecilmu menginginkan dia merindukanmu. Tapi sadarlah, dunia selalu mendatangkan hal yang bertolak-belakang dengan inginmu. Sadarlah, bahwa harapan hanya menghancurkan perisai yang sudah dengan susah payah kamu buat. Lagi, dan lagi.

Maka, menangislah. Menangislah hingga saking banyaknya air matamu, kamu mampu membentuk sebuah sungai, menangislah hingga kamu lelah dengan sendirinya. Setelah itu bangkitlah, bangun jembatan untuk keluar daripadanya, dan lupakan :)

Sunday, December 7, 2014

Glad To See You In Your Happiest Day

Entah kenapa tiap liat kakak aku yang satu ini, mengharu biru kalo inget ceritanya. Dari awal ketemu, dapet berbagai ujian yang nggak mungkin muat dijabarin di sini, sampe akhirnya mereka bisa bersanding bersama di pelaminan. From the bitterest, til' finally she get the sweetest! Dear God, may I have a happy ending like her, please.....

I'm so Glad to be there, to see her smile in her happiest day, to see a beautiful bride wearing her beautiful wedding dress, to see her smile when her husband held her hand, standing next to her and sang her a love song. That's the most romantic moment that I've ever seen! Kalah deh drama korea, ciyus. Yang nikah siapa yang ngeharu-biru siapa....

And well, kita hanya perlu percaya bahwa semua kepahitan yang kita alami dalam hidup hanyalah awal menuju chapter berikutnya. I remember when I asked her a long time ago: "Kak, kapan ya aku kayak kamu, punya pacar yang baik banget, sayang banget, ah, aku iri." and then she said: "Ka Tari juga nggak gampang, sayang, sampai di titik ini sama dia. Banyak banget cobaannya. Nanti kamu juga pasti dapetin yang terbaik buat kamu, sabar aja, tunggu waktunya aja."

Entah, rasanya seperti ada secercah cahaya waktu dia bilang kayak gitu. Intinya, gue haru banget liat dia di hari bahagianya. Haru liat semua kisah mereka yang jatuh bangun berakhir indah dalam ikatan pernikahan. Bahagia banget liat kakak aku yang cantik ini udah sah jadi seorang istri. Congratulations, Kak Tari & Bang Andri! Ready to begin a new chapter of life! Always together, forever. Allah bless you both :)

Saturday, October 25, 2014

Untitled Lahyaaa :D

Hey, salam silent reader! Sebelumnya aim mohon maaf ya karena lanjutan cerpennya di jeda dulu. Soalnya aim lagi males mikir buat lanjutan ceritanya. By the way, di malam minggu yang bahagia ini, gue pengen share satu hal yang lucu. Kalo kata orang-orang sih sedih ya, tapi menurut gua ini kocak sekocak-kocaknya. Cekidot.

Jadi gini....
Lo punya pacar. Lo pacaran sama dia udah dari SMA nih ceritanya. Ya putus nyambung gitu lah ya. Dan dari dulu selalu lo yang mutusin dia, karena lo jenuh dengan gaya pacaran lo yang gitu-gitu aja. Terlebih lo pengen gaya pacaran lo "normal" kayak orang-orang yang lain. Tapi pada akhirnya suatu hari lo sadar bahwa disaat kita menerima kehadiran seseorang di kehidupan kita, disitulah kita harus menerima segala kekurangan yang dia punya. And then, lo mulai belajar dewasa dengan memperbaiki segala sifat buruk lo yang pernah lo lakuin ke dia dulu. Mulai dari belajar sabar ngadepin dia yang random dimana saat dia punya masalah selalu lo yang kena imbasnya, belajar nggak nurutin sifat lo yang gampang bosen sama pasangan yang bikin lo belajar nahan untuk nggak mutusin hubungan hanya karena jenuh, sampai mertahanin hubungan kalian mati-matian padahal pasangan lo udah ga ada rasa bahkan keinginan untuk bertahan. Perlahan-lahan, sampai pada akhirnya lo yang bener-bener jatuh cinta sama dia sekarang. Dan fakta yang bikin nyesek adalah : Dia ninggalin lo karena dia jenuh atau apalah. Saat dia ninggalin lo yang dia bilang cuma : "Maaf, tapi di sini udah nggak ada apa-apa lagi". Dhuarr!!!! Rasanya kayak dihantam batu yang ukurannya segede mammoth.

Dia ninggalin lo karena dia ngerasa tugasnya udah selesai. Bilangnya sih, dulu dia balikan sama lo karena dia ngerasa berhutang buat bahagiain elo. Padahal lo tahu betul saat pertama balikan sama lo, dia masih dia yang dulu. Bukan seperti beberapa bulan terakhir sebelum dia mutusin untuk ninggalin elo, yang kalo mau diperjelas, disaat dia udah mengenal dan makin dekat sama seorang cewek (sebut saja : rafflesia). Dan dia bilang sekarang dia lega karena dia udah menuhin semua keinginan lo. Jin botol, kali ah :)))

Kalo lo jadi cewek ini, apa yang lo rasain? Desperated banget, kah? Hahaha. Slowly, baby. Ini nggak se-menyedihkan yang kalian bayangin, kok. Oke, lanjut.

Setiap hari lo selalu galauin dia. Nangis-nangis nggak jelas, selalu buka galeri foto yang isinya album foto kenangan lo sama dia, denger lagu galau, meluk boneka yang dia kasih, trus nangis deh. Dan yang lebih sakitnya lagi, akhirnya lo tahu kalo dia ninggalin lo bukan hanya karena dia jenuh atau pengen sendiri atau bla bla bla, as he say. Tapi karena deket sama cewek lain bahkan ngarep buat bisa jadi pacarnya. Karena si rafflesia ngasih tanda-tanda kaliya kalo suka sama ini cowok, mulai dari curhat nyerempet-nyerempet yang bikin si cowok ge-er, minta berangkat kerja bareng, pulang kerja bareng, break bareng, sholat bareng, atau mungkin udah bobo bareng? *ups haha. Sorry, yang terakhir kita skip aja.

Setiap ceweknya marah kalo si cowok ini kegep "berbuat baik" sama si rafflesia tadi, dia malah balik marah dan bilang: "Salah ya jadi orang baik? Salah ya nolongin orang? Kalo gitu mending aku jadi jahat aja, ya?" Itulah senjata si cowok buat bikin ceweknya percaya lagi, maafin lagi, begitu aja terus sampe detektif conan jadi pencopet. Padahal kalo mau ditelisik si cewek ini udah nerima cobaan banget pacaran sama si cowok ini. Si cowok yang super sibuk kuliah sambil kerja, ketemu cuma disaat cowoknya mau aja jemput dia. Karena si cewek nggak tega, cowok ini mau jemput dia beberapa kali aja rasanya udah berasa sweet banget. Kadang di hati si cewek pengen kayak temen-temennya, di banggain di depan temen-temen si cowok, di tag path kemanapun dia berdua sama si cewek, sampai diajak main kerumahnya untuk dikenalin ke orang tua si cowok. Si cewek ini ngerasa mungkin wajar kalo dia nggak diakuin. Si cewek ngerti bahwa dia nggak cukup cantik (baca: jelek) jadi si cowok mungkin ngerasa malu mengakui bahwa si cewek ini adalah pacarnya. Mungkin si cowok ngerasa sekarang penampilannya jauh lebih baik, nggak cupu kayak dulu. ngerasa keren jadi bisa ngedapetin cewek manapun yang dia mau. Si cowok pernah bilang dulu ke si cewek: "Kalo mau mah, aku punya cewek kayak make kaos kaki." Wow.

Oh ya, fokus lagi ke topik yang tadi. Tapi, walaupun seringkali nggak diakui, si cewek sejujurnya pengen banget ngerasain diajak cowoknya ke banyak tempat. Karena cowoknya nggak pernah bisa dengan alasan finansial atau mungkin nggak mau, nggak ngerti juga lah ya. Mungkin itu yang ngebuat cowoknya ngerasa udah menuhin semua keinginan si cewek, disaat si cowok berhasil ngajak liburan si cewek ke suatu tempat. Yang padahal itu nggak bisa dibilang wow juga. Tapi si cewek tetep menghargai niat baik si cowok, walaupun sayangnya, si cowok nggak dengan tulus ngelakuin itu semua. Si cewek tetep berusaha untuk ngerti dan terima semua itu dengan nggak banyak protes Dia cuma bisa ngeluh di blog pribadinya. Yang entah kapan, tiba-tiba si cowok baca blognya. Dan dari situlah pertengkaran demi pertengkaran dimulai.

Oh ya, perlu digaris bawahi, sebenernya si cowok ini dulunya nice guy. Walaupun agak dongo sih, tapi overall dia itu baik. Mungkin karena polos kali ya. Hingga datang saatnya ketika dia berubah. Mungkin karena pergaulan, juga kembali lagi kepada hukum alam bahwa semua orang pasti berubah.

Finally, pacarnya tahu dia berhubungan sama si rafflesia. Satu kali dimaafkan, dua kali dimaafkan, sampai seterusnya pacarnya selalu maafin si cowok ini. Hingga pada akhirnya ketahuanlah si cowok ini masih ada something sama si rafflesia. Pacarnya nangis, ngerasa di bohongin, ngerasa di khianatin. Tapi karena rasa sayang yang udah makin tumbuh tiap hari, si cewek ini selalu maafin si cowok. Mungkin hal itu yang bikin si cowok nggak ngotak dan makin dengan santainya ngulangin kesalahan. Nah, karena si cowok ini udah terbiasa deket sama si rafflesia, akhirnya si cowok ngerasa perasaannya udah beda ke pacarnya. Hingga pada saat dia kegep lagi masih ada affair sama tuh cewek, seperti biasanya, pacarnya nangis, tapi selalu bersedia buat maafin. Dan tahu apa yang si cowok ini pilih? Cowok ini minta putus dengan alasan yang udah gue sebutin diatas tadi, dan dia bilang dia mau pergi karena nggak pengen nyakitin lo lagi. Uh, baiknya....

Karena si cewek ini udah terbiasa untuk belajar menumbuhkan rasa sayangnya ke si cowok dan akhirnya sayang beneran, dia ngerasa nggak bisa hidup tanpa si cowok. Dan belum bisa terima kenyataan kalo secepat ini pacarnya berubah. Bahkan sampai sebulan putus pun si cewek masih memohon-mohon agar si cowok nggak pergi. Mengenaskan.

Hingga pada suatu hari si cowok bilang:
"Lupain gue."

Mulai saat itu si cewek berhenti mengganggu si cowok. Awalnya dia ngerasa sulit. Bahkan sangat sulit karena dia ngerasa buat nafas aja rasanya sesak banget. Tapi setiap hari dia belajar. Belajar merelakan, belajar lebih dekat dengan Tuhan, belajar menerima karena dia ingat bahwa semua ini adalah balasan atas segala perlakuan buruknya terhadap si cowok dulu. Dia ngerasa apa yang dia rasakan saat ini adalah apa yang si cowok rasakan dulu. Walaupun sejahat-jahatnya cewek ini, dia nggak pernah ninggalin pacarnya buat oranglain, dulu. But, well, pain always makes us stronger, right? Si cewek ini mulai bertekad buat membiasakan dirinya tanpa si cowok. Mulai dari mencoba berhenti mikirin kenapa semua ini bisa terjadi, berhenti puter lagu galau sambil nangis mandangin foto si cowok, sampai berhenti stalking all of his social media. Ya paling apes-apesnya sih kalo dia nongol di timeline, mau nggak mau lo pasti baca update-an nya, kan?

And then bagaimana dengan si cowok? Si cowok ini ternyata cuma diberi harapan palsu sama si rafflesia. Nggak ngerti sih. Ceweknya yang PHP atau cowoknya yang ke-ge-er-an, ya pokoknya intinya gitu. Kebayang dong? Gimana nyeseknya? Haha.... dia ninggalin yang udah berjuang buat sayang sama dia gitu buat hal yang nggak pasti. Selamat ya bro, lo udah buang berlian demi sebuah biji jagung. Dan sekarang? Mungkin si cowok lagi nyanyi When I Was Your Man-nya Bruno Mars :))))

Tuesday, October 21, 2014

Chapter 7

Erik memikirkan banyak hal tentang perasaannya malam ini. Perasaan yang dipendamnya pada Almira lebih tepatnya. Erik rebah di kasurnya dan merasakan hatinya makin tak karuan.

Erik memeluk gitar kesayangannya, kemudian memetik asal senarnya. Kesal. "Ya ampun gue kenapa sih! Jadi nggak fokus gini. Jangan dengerin perasaan, Rik. Atau persahabatan lo sama Almira bakal hancur." Erik merenung. Diam. Membiarkan kata hati memberikan hak suaranya.

"Gue nggak bisa kayak gini terus nih. Bisa gila kalo gue pendam terus-terusan kayak gini. Gue harus ngomong sama Almira. Harus. Seenggaknya gue bisa jujur sama perasaan gue sendiri. Urusan respon dia itu belakangan deh."

Erik menyumbat telinganya dengan headset superbassnya. Hanyut dalam alunan lagu-lagu yang membuatnya makin mengingat Almira. Erik mencoba memejamkan matanya. Mencoba menenangkan perasaannya yang tak terkendali malam itu.

*3 hari kemudian*

"Hey, Al. Lo mau kemana? Rapi bener. Mau ngedate ya sama Dito?" Ledek Erik cengar-cengir.

"Erik, jangan mulai deh. Gue lagi nggak mau ngomel sama lo hari ini. Lo nggak lihat nih, apa yang gue bawa?" Almira menunduk menatap benda-benda bawaannya. Lemas.

"Yah, lo seriusan mau balikin itu semua, Al, ternyata. Gue kira lo becanda doang. Mau gue anter nggak? Si macho abis gue cuci kok, gue jamin lo nggak akan ceramah pas lihat dia. Hehe."

"Nggak deh, Rik, makasih. Gue bisa sendiri kok. Kalo gue butuh lo nanti gue telfon lo deh ya. Lo doain gue aja supaya gue kuat dan nggak nangis pas ketemu Dito nanti. Nanti malem gue ke kostan lo deh. Udah ya gue buru-buru nih, dah Erik!" Almira melambaikan tangannya dan berlalu.

"Al, Al. Gue tahu lo mau balikin itu semua cuma alesan aja kan karena lo masih pengen lihat Dito. Lo nggak bisa bohongin gue, Al. Kenapa sih lo nggak sadar-sadar. Kapan lo mau berhenti nyiksa diri lo sendiri?" Keluh Erik berdebat dengan pikirannya sendiri.

Erik menstater kemudian melajukan motor menuju kampusnya. Sebetulnya dia sedang tak ingin kemana-mana di hari libur kerjanya hari ini. "Tapi, namanya juga usaha jadi lebih baik". Batin Erik selalu berkata begitu.

Almira sampai di kedai serabi dekat taman sedikit terlambat. Dito sudah sampai di sana lebih dulu. Seperti biasa, Dito mengambil spot di pojok sebelah kanan dekat jendela yang mengarah ke ayunan yang biasa jadi tempat Almira berkeluh-kesah. Kedai tak begitu ramai sore itu.

"Hey, Dit, udah lama? Maaf ya nunggu. Tadi gue ada urusan." Ucap Almira berbasa-basi.

"Eh, enggak kok, Al. Belum lama, aku juga baru sampe. Aku...." Dito terbata-bata melanjutkan kalimatnya.

Belum selesai Dito berucap, Almira memberikan semua yang dia bawa pada Dito. "Nih, Dit, makasih ya udah nyempetin waktu buat kesini." Almira menyerahkan semua pemberian Dito yang sudah ia kemas dalam satu paperbag besar dengan gugup. "Sekali lagi makasih ya, Dit." Ucap Almira dengan suara bergetar.

"Iya, Al, sama-sama. Nih, makasih juga ya." Dito menyerahkan paperbag hijau yang berisi poloshirt hitam dan jaket yang Almira pinjamkan karena Dito basah kuyup kehujanan saat pertemuan terakhir mereka. "Sweater hoodie merah yang dari kamu, aku simpen, ya. Nggak apa-apa kan?"

"Iya nggak apa-apa kok, Dit. Simpen aja. Yaudah gue pulang dulu ya."

"Kamu pulang sama siapa? Aku anter ya."

"Gue pulang sendiri. Nggak usah. Gue bisa sendiri kok." Almira tersenyum pahit dan segera berlalu, takut Dito melihat air matanya yang hampir jatuh.

Dito hanya dapat melihat punggung Almira yang semakin menjauh. Dito menyesap hot cappucino nya hingga habis kemudian meletakkan beberapa lembar puluhan ribu di meja dan meninggalkan kedai dengan sedih.

Sementara itu...

Almira sedikit berlari untuk segera menjauhi kedai serabi itu. Almira tak mungkin duduk di ayunan saat ini karena Dito pasti akan dapat melihatnya. Akhirnya Almira memutuskan untuk menelepon Erik untuk menjemputnya. Almira berusaha mengendalikan nada suaranya agar Erik tak menceramahinya saat mendengar suaranya di telpon.

"Halo, Rik? Rik, jemput gua ya, please. Gua ada di dekat kedai serabi yang depan ayunan nih. Tapi gue di utara ya. Gue di bangku taman deket tukang harum manis. Cepet ya, Rik. Abangnya udah nagih nih. Gue minta 3 bungkus soalnya. Bye!" Almira tertawa saat memutus sambungan teleponnya.

"Eh, Al, Al.... Yeee, dasar anak kurang ajar. Nggak sopan, belom juga gue ngomong udah maen matiin aja telponnya. Kalo gue nggak sayang udah gue apain kali lo." Erik menggerutu memaki layar handphonenya.

Erik menyalakan motornya dan bergegas menjemput Almira. Tak sampai 10 menit Erik telah sampai di sana.

"Stop. Bayar dulu sama abangnya, Rik. Dia mau pulang tuh, gue nggak bawa uang, hehe." Almira cengar-cengir membuat Erik tak fokus.

Erik memberikan selembar dua puluh ribuan dan penjual harum manis itu pun berlalu.

"Al, Al. Lo itu gila apa gimana sih. Beli harum manis sampe 3 bungkus gitu, siapa yang mau makan?" Erik memasang raut wajah datarnya. "Al, lo habis nangis ya, mata lo kok merah?"

"Eh, enggak kok. Tadi gue kelilipan. Itu tuh tadi bocah-bocah pada main pasir." Almira berbohong.

"Al, kenapa sih nggak ada capeknya bohong sama gue. Kita sahabatan udah lama, nggak usah lo pake bohong segala."

"Rik, sekali aja. Pura-pura percaya, ya." Almira tersenyum simpul.

"Yaudah, ayuk pulang atau lo mau gue temenin kemana?"

"Duduk di ayunan sebentar ya, Rik. Kita abisin semua gulali ini abis itu kita ke kostan lo."

"Yaudah, iya."

Almira berjalan lebih dulu mendahului Erik. Duduk, memandang kedai serabi di depannya dengan sedih, dan melamun seperti biasanya. Dan Erik pun sama, hanya dapat memaki dalam hati seperti biasanya.

"Al, pulang yuk, udah sore."

"Bentar, ya, Rik. Bentar lagi, please..."

"Al, udah kek. Lo mau sampai kapan sih kayak gini?"

"Nggak tau, Rik. Mungkin sampai air mata gue habis." Almira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menangis untuk mengeluarkan beban di hatinya. "Biarin gue kayak gini dulu ya, Rik. Nanti kalo gue capek juga gue berhenti sendiri, kok. Biarin gue begini sampai gue capek dan air mata gue habis."

Erik hanya bisa diam, menatap dan menemani Almira sore itu.