Thursday, December 11, 2014

Ketika "Kamu" Yang Ia Maksud Bukanlah Dirimu

Hari-hari berlalu begitu saja semudah merobek kalender sobek harian. Ya, semudah itu hari berganti tapi hidupmu tetap nggak beranjak. Nggak ingin pergi kemana-mana. Hanya ingin sendiri, menyepi, karena kamu percaya bahwa sendiri adalah satu-satunya yang terbaik untuk menghindarkanmu dari kesakitan berikutnya. Dan kalimat itu selalu terngiang : "Sometimes there are things you'd rather forget because they cause you too much pain." Dan lagi-lagi, nyatanya melupakan nggak semudah mengucapkannya. Ada saat dimana kamu mengingat kembali hal-hal pahit yang membuatmu sakit. Dan yang lebih menyakitkan, kamu nggak bisa melakukan hal apapun untuk mengurangi rasa sakitnya, terlebih disaat kamu melihat satu momen yang mengingatkanmu bahwa kamu sering melakukan hal itu dengannya. Yakinlah, bahwa nggak ada seorangpun yang ingin mengenang hal-hal yang menyakitkan dirinya.

One day, saat kamu dalam perjalanan pulang menuju rumahmu sepulang lelahmu bekerja, saat itu malam, sunyi, senyap, dan sialnya playlistmu tak sengaja memutar lagu "Daughtry - Life After You". Betapa indahnya malammu saat itu bukan? Atau mungkin sial? Atau mungkin justru kamu menikmatinya? Menantikannya? Karena setelah sekian lama kamu (berusaha) mengabaikannya sebagai upaya menyembuhkan lukamu, momen itu membuatmu mengingatnya kembali. Membuatmu merasa rindu padanya lagi. Salah? Entahlah. Maybe, it's just a feeling. Mungkin itu bisa disebut salah karena kamu merindukan orang yang salah, karena kamu merindukan orang yang telah jauh melupakanmu. Lebih tepatnya, melupakanmu untuk orang lain. Orang yang telah bahagia tanpamu, bahagia dengan hidup barunya tanpamu, bahagia ketika "kamu" yang ia maksud dalam setiap celotehnya bukan dirimu.

Mungkin ada satu harapan kecilmu menginginkan dia merindukanmu. Tapi sadarlah, dunia selalu mendatangkan hal yang bertolak-belakang dengan inginmu. Sadarlah, bahwa harapan hanya menghancurkan perisai yang sudah dengan susah payah kamu buat. Lagi, dan lagi.

Maka, menangislah. Menangislah hingga saking banyaknya air matamu, kamu mampu membentuk sebuah sungai, menangislah hingga kamu lelah dengan sendirinya. Setelah itu bangkitlah, bangun jembatan untuk keluar daripadanya, dan lupakan :)

No comments:

Post a Comment