Tuesday, January 19, 2016

Cerita Tentang Hujan

Hujan selalu membawa perasaan damai bagi mereka yang menikmatinya, bagi mereka yang percaya selalu ada keajaiban di tiap tetesnya yang jatuh, salah satunya aku.

Bagiku, suara deras hujan yang turun membentur tanah adalah melodi terbaik dan paling indah yang pernah Tuhan ciptakan. Selalu terdengar syahdu di telingaku yang terlalu sering mendengar suara klakson berbagai kendaraan dalam hiruk-pikuk kemacetan kota.

Saat rintik hujan menyentuh wajahku, aku seolah lupa bahwa aku sedang dalam suasana hati yang tak baik, bahkan hancur. Putus cinta, patah hati, dikecewakan, semua hal buruk yang mungkin membuatmu kehilangan selera makan dalam waktu yang lama, yang membuatmu terlihat menyedihkan.

Berada di bawah rintik hujan adalah momen terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Karena saat basah kuyup, aku selalu teringat akan banyak kenangan indah yang berlalu begitu saja. Mengingat betapa bahagianya masa kecil saat aku dan teman-teman menerobos hujan sepulang sekolah karena tak sabar menunggunya reda, naik motor bersama ayah dengan sangat pelan sambil memegang payung lipat karena tak punya jas hujan, atau momen-momen indah yang lain saat aku beranjak dewasa, seperti berhujan-hujanan di malam sebelum hari ulang tahunku tiba bersama cinta pertamaku, yang justru jadi kado paling manis yang pernah kudapat selama dua puluh dua tahun aku bernafas, saat-saat terbaik yang takkan pernah terlupakan sepanjang hidup.

Saat hujan, semua memori indah yang bernostalgia di pikiranku seolah terjadi kembali. Seolah waktu berhenti dan dengan senang hati membiarkanku bahagia bersama kenangan indah yang pernah kupunya.

Lantas, kenapa harus berteduh jika berhujan-hujanan itu menyenangkan?

Saturday, January 16, 2016

Tentang Rindu (2)

Malam tampak sepi kala tak dihiasi kerlip bintang. Meski saat itu bulan bersinar terang, rasanya langit hanya sekedar lukisan abstrak yang didominasi warna hitam pekat. Membuatmu mengurungkan niat untuk mulai bercerita, karena terbiasa melihatnya berjejer harmonis dengan ratusan bintang.

Sama halnya dengan rindu. Rindu adalah hal paling menyenangkan, jika seseorang yang kau rindukan merasakan besaran rindu yang sama denganmu. Menanti tiap detik yang berlalu dengan penuh harap, ingin lekas-lekas bertemu dengannya. Meski saat bertemu dengannya tiba, waktu berputar dua, bahkan tiga kali lebih cepat, rasanya kau tak peduli asal satu peluk yang menenangkan darinya tetap bisa kau dapat.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang telah kehilangan? Apa rindu tetap jadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan?

Cinta pertama.
Rindu ini tentang cinta pertama.

Layaknya potongan puzzle terakhir yang (pernah) membuat hatimu terasa lengkap, hari-hari bersamanya terasa seperti dongeng. Kau ketik sedikit demi sedikit, hingga merangkai cerita indah ratusan halaman bak novel-novel dari sang pengarang favorit yang alur ceritanya senantiasa membuatmu tersenyum di tiap halaman. Ekspektasi akan akhir yang indah dan penantian yang terjawab, bersahutan mendoktrin pikiran hingga kau memercayainya.

Sadarkah kamu? Ada korelasi antara hening malam dan kenangan, bertautan membentuk imajinasi, membawamu kembali pada cerita yang sempat membuatmu bahagia di waktu yang lama telah berlalu. Meski rindu yang tertimbun setiap harinya kian membuncah, bergejolak, meronta memintamu mengungkapkannya, kau sadar bahwa tak ada pilihan selain memendam bagi sebagian kamu yang telah kehilangan.

Sesak menyeruak di dasar hati ketika kau tahu perasaan rindumu tak terbalas. Sia-sia. Lantas apa yang salah? Kau sungguh tahu bahwa segala yang berubah takkan pernah kembali. Tapi mengapa terus berharap ada satu waktu dalam hidupnya yang dia habiskan untuk merindukanmu? Meski hanya sekali, dalam rangkaian ceritanya yang tampak normal-normal saja.

Kau tahu dia telah jatuh cinta lagi, bahkan berkali-kali setelah dalam waktu yang lama melewatkan harinya untuk mencintaimu, dan kaupun telah merasakan jatuh cinta yang lain, meski tak sebanyak dia. Lalu, mengapa selalu percaya ada ruang kecil di hatinya yang masih untukmu? Mengapa selalu percaya ada rindu darinya yang tersimpan rapat untukmu?

Pada akhirnya, kau hanya bisa berharap malam-malam yang pernah kau lalui dengan perasaan tak nyaman, sempat Tuhan jadikan rangkaian mimpi indah di lelap tidurnya. Walau rindumu tak terutarakan dengan kata, semoga kehadiranmu di mimpinya dapat membuatnya merasakan sedikit getar rindu yang tersirat. Bahwa pada malam-malam saat dia memimpikanmu, kau sempat memikirkannya sebelum tidur. Pesan tersirat, bahwa rindumu tak pernah berani kau ungkapkan.

Dan, ya. Kau benar. Mungkin rindu yang seperti ini adalah salah satu bentuk ironi. Ironi yang kau buat sendiri. Yang menjebakmu dalam kepayahan, hanya karena dulu rindumu pernah diabaikan.

Friday, January 15, 2016

Tentang Rindu

"Sesak adalah salah satu cara kenangan menegurmu untuk tidak coba-coba menimbun rindu." - Ikram Wahyudi

Merindukan seseorang kerap kali menyenangkan selama ia masih jadi bagian penting dari hidupmu. Dan, semua terasa cukup walau hanya dengan sebuah peluk, genggam tangan, atau kecupan di ujung kepala saat melepasnya.

Tapi, masihkah itu terasa menyenangkan saat kau hanya serpihan masa lalu tak bermakna yang lenyap dengan satu tiupan kecil? Saat tujuan hidupnya tak lagi padamu. Saat debar jantungnya bukan lagi untukmu. Saat matamu bukan lagi tempat berteduhnya. Saat genggam tanganmu tak lagi dirindunya. Saat posisimu di hatinya tergantikan orang lain. Saat langkah kakinya sudah melesat jauh, tanpa sudi ia menoleh hanya untuk melihatmu yang tengah berjalan tertatih-tatih.

Rindu seringkali membuatmu bertanya-tanya, haruskah semua yang kau pendam itu kau sampaikan? Selalu ada bimbang antara ya dan tidak. Hatimu bilang ingin, tapi otakmu tak pernah setuju dengannya karena dulu hari merasa pernah menyampaikannya, namun tak diindahkan.

Begitu saja, sampai rindu-rindu yang terabaikan tertimbun di bawah egomu, sementara rindumu yang kau timbun tadi kian hari kian membukit. Begitu saja, hingga kau bisa mencium siku tanganmu. Begitu saja, hingga pelangi muncul diantara bulan dan bintang. Begitu saja, hingga ilalang yang kau tanam bertumbuh jadi padi.

Rasa rindumu tak salah. Hanya saja, masih sanggupkah kau menimbun sesak karena tak mendapat rasa rindu yang sama?

Dan... sesepele itukah rindumu baginya?

"Kau tahu aku merelakanmu. Aku cuma rindu, aku cuma rindu. Takkan mencoba tuk merebutmu. Aku cuma rindu, itu saja." - The Rain, Gagal Bersembunyi

Friday, January 1, 2016

Pentingnya Sebuah Perjalanan

Hei, silent reader. Di suasana malam sehabis hujan begini, daripada ngangenin orang yang udah terlanjur pergi dari hidup kita, mending ngebahas tentang pentingnya perjalanan hidup. Kalian pasti tahu kalau hidup nggak melulu bahagia, apalagi makhluk kayak kita-kita yang disebut manusia ini, yang notabene sering ngeluh.

Nggak ada orang yang nggak pernah ngeluh, yang membedakan, hanya cara dia mengutarakannya. Entah dia marah-marah, curhat ke teman dekatnya, atau malah di keep sendiri. Dan, ya... gue adalah salah satu dari sekian banyak orang yang suka mengeluh. Nggak munafik kok. Gue orang yang sering bilang capek dalam banyak hal, pekerjaan, keadaan ekonomi, bahkan... cinta. Gue kadang bingung aja, kenapa gue harus putus asa, harus ngerasain berkali-kali patah hati padahal gue udah sering ngalaminnya? Gue bingung aja, kenapa gue nggak bisa menanggapi semua dengan perasaan nggak khawatir. Gue terlalu khawatir, kalau gue nggak bisa bahagia.

Mungkin karena gue orangnya nggak sabaran kali ya, makanya, mungkin Allah kesel sama gue (hikz), jadi tiap orang yang dekat sama gue dijauhkan hingga akhirnya... menghilang.

Gue tipe orang yang susah banget jatuh cinta. Suka, mungkin. Tapi untuk sayang, gue harus mengenal dan dekat dengan dia dalam waktu yang lama. Kenapa? Ya mana gue tahu, pake nanya?! Hehe, becanda.

Satu hal yang membuat gue MUNGKIN sulit banget buat jatuh cinta adalah, rasa tidak percaya gue bahwa akan ada yang lebih baik nantinya, karena gue selalu percaya akhir cerita gue akan selalu sama, meski peran si pangeran dalam dongeng hidup gue tergantikan. Pria yang lebih baik, kisah cinta yang lebih baik, hingga akhir untuk awal yang lebih baik. Capek nggak sih, ngerasain sesak buat hal yang sama berkali-kali?

Gue pernah sayaaaaaaang banget sama seorang cowok, and, that's my very first time to being in love. Maksutnya bukan pertama kali jatuh cinta sih, lebih tepatnya, dia itu cinta pertama gue. Dulu gue pernah berpikir, kalau cinta pertama itu pacar pertama kita. Tapi ternyata gue salah. Cinta pertama itu, orang yang mempertemukan lo dengan perasaan yang nggak pernah lo temuin sebelumnya. Satu-satunya orang yang bisa bikin lo mengalah sama ego lo sendiri. Satu-satunya orang yang... pertama kalinya bikin hidup lo terasa meaningful.

Gue kadang lupa, kalo bahagia sama duka itu sepaket. Saat gue terlalu bahagia, gue lupa, bahwa bisa aja besok tiba-tiba gue bakal sedih.

"Menyakitkan ketika kamu akhirnya menemukan seseorang yang begitu berarti dalam hidupmu hanya untuk belajar bagaimana cara melepaskannya."

Ya. Kira-kira kayak gitu. Di sebelah dia itu kayak... saat kutu buku baca buku favoritnya sendirian di sofa yang ada di balcony, yang menghadap langsung ke taman penuh bunga waktu pagi hari. Nyaman, bikin gue ngerasa, waktu berputar 2 bahkan 3 kali lebih cepat. Ketawa, sharing cerita jayus, garing, sampe becanda hal yang sama sekali nggak lucu, yang anehnya, justru gue selalu rindu momen-momen itu tiap kali nggak bisa ketemu dia. Emang aneh sih, tapi mungkin itu yang bisa dibilang magic hour.

Dan pada akhirnya, semua momen itu meluluhkan hati gue hingga bisa ngerasain perasaan itu. Sayang. Yang bahkan pacaran dari SMA, bertahun-tahun, putus-nyambung sama dia, baru bisa ngerasain bener-bener sayang disaat ngadepin banyak masalah dan proses sama dia. Panjaaaaaang ceritanya sampai akhirnya kami (lebih tepatnya dia) dipertemukan dengan orang ketiga. Yaudah deh, the end. Nggak lucu ya endingnya? Emang. Wkwk.

Dan memang, saat gue masih pacaran sama dia, gue lagi dekat sama seseorang. Awalnya cuma kagum sih, tapi cowok ini adalah salah satu orang yang berperan dalam mengobati luka hati gue. Satu tahun, waktu yang gue butuhkan untuk benar-benar bisa berdamai dengan kebodohan gue sendiri. Ditemani dia yang... selalu bersedia dengerin cerita gue yang galaunya itu-itu aja. Dan nggak tahu, sejak kapan kadar rasa gue ke dia... berubah.

Gue kadang nggak ngerti. Apa gue dekat dengan orang yang salah atau mungkin cuma keadaannya yang salah, intinya, disaat gue menemukan kenyamanan yang bisa bikin gue ngelupain luka karena galau menahun, pasti ujungnya gue tahu bahwa dia udah jadi milik orang lain. Pahit ya? Iya, banget.

Dan lagi, gue harus kembali kehilangan orang itu. Yang awalnya cuma berusaha merelakan yang udah terjadi dengan berusaha menjauh karena nggak mau merusak hubungan orang lain, akhirnya malah sakit sendiri. Gue tahu, gue harus menjauh karena gue nggak mau jadi benalu di hubungan orang lain. Karena gue tahu, tahu banget rasanya saat hubungan gue dirusak, tahu banget rasanya ditinggalkan saat gue lagi sayang-sayangnya. Daripada gue menyakiti hati orang yang nggak seharusnya disakitin, lebih baik gue menjauh walau akhirnya gue tahu bahwa gue sudah terlalu dalam terjebak kenyamanan itu. Jadi, gue harus bisa memosisikan diri gue sebagai "cewek" kan?

Dan sekarang, saatnya gue kembali jadi Riana Ayodya yang galau. Yang nge-listen to lagu-lagu galau di path. Yang pasang display picture sedih terus, yang cuma bisa ngutarain kangen dengan ngomong sama teddy bear gue, si Bo. Dan ya, mungkin emang harus selalu kayak gini kali ya, endingnya. Harusnya gue tahu, nggak seharusnya gue jatuh cinta. Disaat gue berani menyimpulkan kalau gue jatuh cinta, gue juga harus siap dengan resiko satu paketnya, yap, patah hati.

Tapi, semua itu adalah bagian dari pentingnya sebuah perjalanan. Bagaimana cara lo menjalani proses, dan fase di mana lo terpuruk, nggak tahu bahu mana lagi yang bisa lo sandarin. Tapi lo nggak perlu takut, selama lo punya sahabat yang bisa lo percaya, yang selalu ada buat lo dan selalu ada untuk berbagi tawa bersama. :)

Friday, December 25, 2015

Life is Not Fair. Always Unfair.

Hidup kadang nggak adil? Emang. Malah buat gue, selalu nggak adil. Capek? Iya, banget. Dibilang ngeluh mulu? Bodo amat, emang gue pikirin, hehe. :')

Well, to be honest, gue lelah jadi cewek lemah. Gue capek jadi pihak yang selalu dikecewakan. Gue capek jadi orang bodoh dan selalu jadi loser. Gue lelah, saat gue jatuh dan sekuat tenaga berusaha bangkit, tapi pertahanan gue selalu dirobohkan dengan perasaan sepele yang dinamakan jatuh cinta.

Gue lelah, disaat gue udah bisa melupakan luka lama, seseorang yang udah bikin taman bunga di hati gue, dalam sedetik ngebakar taman yang udah susah payah gue rawat itu. #apasih. Gue lelah, berkali-kali dibuat kecewa saat gue percaya masih ada pria baik diantara sekian ribu pria brengsek. Apa sih yang salah? Kenapa semua seolah selalu sulit buat gue?

Satu pria datang, menawarkan kenyamanan, gue jatuh, dan ternyata gue cuma dijadiin bahan taruhan, lalu dia pergi, hilang gitu aja. Pria lain datang, menawarkan dirinya yang selalu bisa dengerin apapun cerita gue, gue nyaman, hingga akhirnya bisa ngerasain jatuh cinta lagi, setelah gue benar-benar jatuh, dia menjauh, kita lost contact sampai akhirnya gue dengar kabar dia udah menikah. Datang lagi pria lain yang notabene pria baik-baik, sederhana, penyayang, nyaris tanpa cela, menawarkan kebaikan dan membuat gue percaya lagi bahwa masih ada pria baik, sampai akhirnya tiba-tiba dia berubah, dekat sama entah cabe-cabean, entah dajjal, akhirnya gue tahu dia selingkuh, dan dia memilih meninggalkan gue karena mungkin selingkuhannya lebih cantik. Suatu hari, setelah setahun gue mencoba untuk sembuh, di saat gue udah lupa, ada pria lain, menawarkan kebaikan yang lain, bikin gue lupa kalo gue pernah benar-benar patah hati, bikin gue bahagia sampai tiba saatnya gue tahu kalo selama ini dia udah jadi milik orang lain. Gue galau, sakit, dan ngerasa kalo perasaan yang udah gue rasain setahun lamanya akhirnya sia-sia. Gue berusaha menjauh, menghindar walaupun masih sering nggak sengaja ketemu, mencoba bersikap biasa aja walaupun rasanya selalu pengin nangis di saat punggungnya berlalu.

Kenapa? Kenapa gue harus tahu semua yang nggak mau gue tahu disaat gue udah terlanjur jatuh? Kenapa gue harus ngerasain sayang kalau mereka akhirnya pergi? Kenapa gue harus selalu ngerasain patah hati yang ngebuat otak gue nggak konsen kerja? Kenapa gue harus selalu nangis tiap gue ngerasain patah hati lainnya padahal gue udah sering ngalaminnya? Kenapa gue nggak bisa kayak cewek kebanyakan yang mau dengan mudah membuka dirinya buat orang lain? Kenapa gue ditakdirin jadi cewek yang susah move on? Kenapa sih? Kenapa?!

Gue capek jadi orang yang terlalu lama butuh waktu buat move on. Gue capek nerima kenyataan bahwa memang nggak pernah ada pria baik di dunia ini. Gue capek, nangis sesegukan tiap malam sampai mata sembab dan nggak bisa cerita ke siapapun soal hati gue yang udah lapuk ini. Gue capek selalu mengubur impian yang udah gue bangun dengan indah. Gue capek denger temen-temen gue bilang "bukannya nggak ada pria baik, tapi belum saatnya aja".

�� Kubenci sendiri, kubenci sendiri, harus terus begini...
Kubenci sendiri, kubenci sendiri, harus terus begini...
Kubenci sendiri, kubenci sendiri, takut gagal terus begini... ��

Thursday, November 5, 2015

Merelakan Yang Datang Untuk Pergi

Hei, kamu. Iya, kamu. Orang yang selama satu tahun terakhir aku kagumi. Orang yang selama ini jadi alasan aku buat move on. Orang yang selama ini ngajarin aku bahwa nggak ada gunanya nangisin masa lalu. Satu-satunya orang yang bisa bikin relung hatiku dipenuhi kupu-kupu lagi. Ngerasain jatuh cinta, cemburu, bahagia, rindu bahkan kehangatan dalam hati setelah perasaanku membeku karena capek ngerasain berkali-kali patah hati. Satu-satunya orang yang bisa bikin aku ketawa saat mendengar leluconnya yang nggak lucu. Dan, kamu adalah orang yang akhirnya bisa...... mengubah mindset aku tentang kehilangan.

Kamu tahu, cung? Sakit saat aku tahu kalau aku nggak bisa jadi apapun selain pengagum rahasia kamu. Sakit saat aku tahu perasaan kamu akhirnya dimiliki orang lain. Sakit saat aku tahu kalau aku nggak lebih dari seorang pecundang karena hanya bisa memeluk kamu dalam doa. Dari awal harusnya aku tahu diri, tapi.... hey, mengagumi seseorang itu hak setiap orang, bukan?

Aku nggak menyesal pernah mengagumi bahkan memendam semua pujianku terhadapmu hanya dalam hati saja. Aku nggak menyesal pernah jadi orang yang dengan senang hati mendengar leluconmu yang menurut sebagian orang nggak punya selera humor. Aku nggak menyesal pernah diam-diam tersenyum saat punggung kamu menjauh. Dan aku, nggak menyesal pernah meluangkan waktuku untuk merasa bahagia karenamu. Kadang, ingin rasanya aku berbisik dibelakang telingamu bahwa sebenarnya aku butuh kamu buat bersandar. Ingin rasanya, aku berbisik bahwa sebenarnya kamu udah berhasil bikin aku nggak ngerasa sendirian lagi, dan bilang kalau kamu sebenarnya..... sangat berarti buat aku.

Kamu tahu, cung? Lelah buat jadi perempuan yang selalu pura-pura kuat kayak aku. Saat sadar senyum manis kamu bukan buat aku, saat sadar ada tembok diantara kita yang nggak bisa ngubah status kita untuk bisa lebih dari sekedar teman, saat sadar hanya punggung kamu yang menjauh yang selama setahun ini melihat senyumku. Dan.... saat sadar aku telah patah hati.

Au revoir, cung. Merci pour tout. Selamat tinggal. Terima kasih, untuk segalanya. Terima kasih, karena kamu udah dengan senang hati ngebagi cerita absurd kamu ke aku. Terima kasih, karena kamu udah mengisi hari-hari aku dengan semua kekonyolan kamu. Terima kasih, karena kamu nggak pernah sadar kalau kebahagiaanku beberapa bulan terakhir ini berkat kamu. Terima kasih, karena selama setahun terakhir senyum kamu udah berhasil bikin aku lupa kalau aku pernah patah hati saat mengingat senyum yang lain, senyum sebelum kamu. Terima kasih, karena kamu udah ngajarin aku bagaimana cara merelakan yang datang untuk pergi.

Sunday, November 1, 2015

Ketika Jatuh Cinta

Ketika jatuh cinta, apa yang kau rasa? Bahagia? Ingin seisi dunia tahu jika hatimu tengah berbunga? Tanpa ragu mengekspresikannya, menunjukkan perhatianmu padanya atau membuatnya nyaman hingga dia tahu bahwa selama ini dirinya kau anggap spesial? Merasakan letupan kecil dalam dada yang membuat dirimu salah tingkah ketika bicara dengannya? Atau... hanya ingin menyimpannya dalam diam?

Aku, salah satu diantara sekian banyak yang memilih pernyataan terakhir. Ya, ketika aku jatuh cinta, aku hanya ingin menyimpannya dalam diam saja. Bagiku, ada satu keuntungan di saat aku memuja seseorang secara rahasia, diam-diam, yang bahkan sahabatku sendiri tak pernah tahu persis apa yang sebenarnya tengah kurasakan.

Bagi sebagian orang, jatuh cinta itu indah. Bagi sebagian orang, jatuh cinta adalah hal yang dengan mudah dapat mereka ekspresikan. Bagi sebagian orang, jatuh cinta adalah hal yang membuat mereka bahagia, yang menurutku, justru perasaan konyol yang menjebak dalam luka yang sama.

Di saat aku jatuh cinta pada seseorang, kebahagiaanku cukup dengan melihatnya dari kejauhan saja. Aku bahagia, ketika kami bertegur sapa. Aku bahagia, ketika dia menyapaku dengan senyum tulusnya walau hanya sekedar berbasa-basi. Aku bahagia, ketika kami sempat bertukar cerita walau yang seringkali dia ceritakan adalah hal yang menurutku sama sekali tak lucu. Aku bahagia, ketika aku dapat memastikan dirinya hadir hari ini, esok, dan seterusnya, meski seringkali aku sedih ketika menatap punggungnya menjauh pergi dariku, merasa jadi seorang pecundang karena tak bisa jujur dengan perasaanku sendiri.

Ya, apalah aku ini yang hanya pandai menyembunyikan, bukan mengekspresikan, menunjukkan, bahkan mengutarakan. Seorang wanita yang selalu merasa nyaman memujinya dalam hati. Entah, mengapa tak bosan hanya sampai disini batasku menyukainya. Keinginan untuk dianggap lebih dari sekedar teman, hanya sebatas kata saja. Dan... tak terasa, satu tahun aku telah jatuh cinta padanya, kurasa, aku tetap bahagia meski statusku hanya jadi pemuja rahasianya.

Setidaknya, lewat jatuh cinta Tuhan memberikanku bahagia saat melihat senyum tulusnya. Tuhan memberikanku bahagia saat aku mendengar sapaan hangatnya. Tuhan memberikanku bahagia saat aku bertemu dengannya lagi, dan lagi, tanpa sengaja.

Sungguh, jika bisa memilih, tak ingin rasanya aku jatuh cinta lagi karena aku lelah. Lelah disakiti. Lelah menangis setiap malam. Lelah akan perasaan yang tak berguna. Lelah dibuang begitu saja. Lelah akan akhir yang tak bahagia. Lelah menangisi hal yang itu-itu saja.

Bisakah, Tuhan..... kendalikan perasaan ini hingga Kau pertemukan aku dengan pria yang tepat. Hingga Kau pertemukan aku dengan pria yang tak hanya manis ucapannya. Hingga Kau pertemukan aku dengan pria yang...... dapat menerimaku apa adanya. Pria yang tak tergoda dengan cinta semu, tipu muslihat keelokkan ragawi wanita-wanita yang berada di sekelilingnya selain aku. Aku rela.... rela Kau jatuhkan sejatuh-jatuhnya, ketika Kau meridhoi dia datang.