Saturday, January 16, 2016

Tentang Rindu (2)

Malam tampak sepi kala tak dihiasi kerlip bintang. Meski saat itu bulan bersinar terang, rasanya langit hanya sekedar lukisan abstrak yang didominasi warna hitam pekat. Membuatmu mengurungkan niat untuk mulai bercerita, karena terbiasa melihatnya berjejer harmonis dengan ratusan bintang.

Sama halnya dengan rindu. Rindu adalah hal paling menyenangkan, jika seseorang yang kau rindukan merasakan besaran rindu yang sama denganmu. Menanti tiap detik yang berlalu dengan penuh harap, ingin lekas-lekas bertemu dengannya. Meski saat bertemu dengannya tiba, waktu berputar dua, bahkan tiga kali lebih cepat, rasanya kau tak peduli asal satu peluk yang menenangkan darinya tetap bisa kau dapat.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang telah kehilangan? Apa rindu tetap jadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan?

Cinta pertama.
Rindu ini tentang cinta pertama.

Layaknya potongan puzzle terakhir yang (pernah) membuat hatimu terasa lengkap, hari-hari bersamanya terasa seperti dongeng. Kau ketik sedikit demi sedikit, hingga merangkai cerita indah ratusan halaman bak novel-novel dari sang pengarang favorit yang alur ceritanya senantiasa membuatmu tersenyum di tiap halaman. Ekspektasi akan akhir yang indah dan penantian yang terjawab, bersahutan mendoktrin pikiran hingga kau memercayainya.

Sadarkah kamu? Ada korelasi antara hening malam dan kenangan, bertautan membentuk imajinasi, membawamu kembali pada cerita yang sempat membuatmu bahagia di waktu yang lama telah berlalu. Meski rindu yang tertimbun setiap harinya kian membuncah, bergejolak, meronta memintamu mengungkapkannya, kau sadar bahwa tak ada pilihan selain memendam bagi sebagian kamu yang telah kehilangan.

Sesak menyeruak di dasar hati ketika kau tahu perasaan rindumu tak terbalas. Sia-sia. Lantas apa yang salah? Kau sungguh tahu bahwa segala yang berubah takkan pernah kembali. Tapi mengapa terus berharap ada satu waktu dalam hidupnya yang dia habiskan untuk merindukanmu? Meski hanya sekali, dalam rangkaian ceritanya yang tampak normal-normal saja.

Kau tahu dia telah jatuh cinta lagi, bahkan berkali-kali setelah dalam waktu yang lama melewatkan harinya untuk mencintaimu, dan kaupun telah merasakan jatuh cinta yang lain, meski tak sebanyak dia. Lalu, mengapa selalu percaya ada ruang kecil di hatinya yang masih untukmu? Mengapa selalu percaya ada rindu darinya yang tersimpan rapat untukmu?

Pada akhirnya, kau hanya bisa berharap malam-malam yang pernah kau lalui dengan perasaan tak nyaman, sempat Tuhan jadikan rangkaian mimpi indah di lelap tidurnya. Walau rindumu tak terutarakan dengan kata, semoga kehadiranmu di mimpinya dapat membuatnya merasakan sedikit getar rindu yang tersirat. Bahwa pada malam-malam saat dia memimpikanmu, kau sempat memikirkannya sebelum tidur. Pesan tersirat, bahwa rindumu tak pernah berani kau ungkapkan.

Dan, ya. Kau benar. Mungkin rindu yang seperti ini adalah salah satu bentuk ironi. Ironi yang kau buat sendiri. Yang menjebakmu dalam kepayahan, hanya karena dulu rindumu pernah diabaikan.

No comments:

Post a Comment