Thursday, March 20, 2014

Tuhan, Salahkah Aku Mengeluh?

Life is never flat. Ya, kata itulah yang sering kulihat saat commercial break produk makanan ringan menjeda acara televisi favoritku.

Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, hatiku gelisah tak menentu, entah memikirkan apa. Segera kuambil wudhu dan melakukan sholat Isya.

Rasanya sedikit lebih tenang, tapi tak menghilangkan rasa sesakku akan banyak pemikiran tentang hidup. Terlebih kehidupan pribadiku. Masalah keluarga, pekerjaan, hingga kadang masalah cinta seringkali membuat aku banyak berpikir.

Mengeluh. Ya, tak jarang aku mengeluhkan banyak hal dari hidupku. Kadang merasa bahwa Tuhan tak adil. Kehidupanku yang serba kurang jadi salah satu alasan nya.
Kadang aku iri melihat teman sebayaku berbahagia atas apa yang mereka miliki. Sedangkan aku? Rasanya tak ada satupun yang dapat membuatku berbahagia saat ini.

Tuhan, salahkah jika aku mengeluh? Maafkan aku karena lebih sering mengeluh daripada bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu. Aku sadar begitu banyak hal yang seharusnya aku syukuri ketimbang memikirkan apa yang harus aku keluhkan dari sekian banyak pemberian-Mu. Tapi jujur, sesak rasanya menahan semua ini. Kadang aku berpikir apakah aku tak pantas merasakan kebahagiaan dari-Mu? Aku tahu itu tak kekal, tapi bolehkah aku meminta?

Aku tak minta jadi orang yang bergelimang harta, punya mobil mewah, rumah seperti istana, tinggal tunjuk saat aku menginginkan sesuatu untuk jadi milikku saat itu. Tidak. Aku hanya ingin bahagia dalam kecukupan.

Tuhan maafkan aku karena telah mengaku bosan atas cobaan yang selama ini Kau berikan. Aku hanya jenuh dan berharap bahwa Engkau akan memberikan jawaban atas semua ujian ini dengan segera. Percayalah, aku masih berharap semua ini hanya mimpi. Semoga saat aku bangun keesokan hari, cerita hidupku akan berjalan indah hingga akhir nanti dan selamanya.

Wednesday, February 19, 2014

How to beat your ego?

Manusia nggak pernah puas. Ya, pasti hati kecil kita pernah bilang kayak gitu. Tapi sadarkah kita? Semua akan lebih dari sekedar cukup kalo kita selalu bersyukur, selalu berpikir kalo apa yang kita punya itu adalah yang terbaik yang Tuhan kasih. Sadarkah bahwa banyaaaaaak banget orang-orang yang nggak seberuntung kita saat ini? Nggak bisa tinggal dirumah yang layak, nggak bisa dapet pendidikan yang baik, bahkan untuk makan aja kadang mereka bingung. Tapi kita? Selalu ngeluh. Jangankan tentang hidup. Nggak punya pacar, ngeluh. Punya pacar ga sesuai harapan, ngeluh. Ujungnya, nggak punya pacar lagipun, masih ngeluh juga. Serba salah kayak lagunya Raisa. It's so easy to complain that we don't have what we want. Hey, guys, life is to short to spend it with complaining!

Sadar nggak? Kadang kita suka ngejudge Tuhan nggak adil sama kita atas segala hal buruk yang pernah kita alami (hayooo ngaku!). Entah apapun itu. Misalnya, fisik, ekonomi, pasangan, sampai yang hidupnya termasuk udah beruntung juga masih banyak ngeluh. Jangan pernah lihat keatas, karena kita pasti akan selalu ngerasa kurang. Coba deh, lihat kebawah. Kamu pasti akan ngerasa jauuuuuuuh lebih beruntung. Kata bijak yang bilang : "Tuhan itu ngasih apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan". And that's absolutely right. Karena Tuhan lebih tahu, apa yang kamu pengenin belum tentu baik buat kamu. Contohnya: kamu pengen hidup bergelimang harta tanpa harus susah payah nyarinya, alias udah keturunan darah biru. Kamu pasti nggak akan tahu cara menghargai apa yang kamu punya, karena kamu selalu bisa dapetin apa yang kamu pengen dengan sekali ucap. Beda ceritanya kalo orang sukses yang memulai semuanya dari nol. Terlebih dari orang-orang yang kekurangan pada awalnya. Pasti mereka akan menghargai apa yang mereka punya karena susah payah buat dapetinnya. Makanya, gue salut banget sama orang-orang yang struggle buat kerja sambil kuliah. Itu bukan hal gampang loh. Cuma kerja aja lelahnya bukan main, apalagi harus dituntut buat mikir pas nyambi kuliah. God bless them all....

Dan pertanyaan nya adalah :
"How to beat your ego?"
Gimana caranya ngalahin ego kita untuk selalu nuntut lebih atas apa yang udah kita punya di dalam hidup kita. Kuncinya cuma satu : BERSYUKUR.

Dan guepun sama, sama dengan manusia-manusia normal lainnya. Pengen segala sesuatunya berjalan seperti apa yang gue mau. But, in fact? Tuhan selalu kasih kebalikannya. Kadang gue ngerasa Tuhan ngga adil. Tapi hati kecil gue selalu bilang, ada saatnya nanti dimana semua akan berakhir dengan bahagia. Walaupun balik lagi ke poin awal : ga seperti yang kita pengenin, karena kita itu BUTUH bahagia, bukan sekedar PENGEN bahagia ;)

Sunday, January 19, 2014

Maaf, Aku Jenuh (Ending)

Tak terasa sebulan dilalui Almira tanpa kabar dari Dito. Almira mulai merasakan gusar, tiap malam yang ada di pikirannya hanya Dito, Dito, dan  Dito. Almira mulai berpikir untuk mengalah dan menghubungi Dito lebih dulu.

"Telpon, enggak, telpon, enggak, telpon, ah telpon aja deh, gue gak mungkin digantungin gini terus. Pahit ya pahit sekalian, Bismillah". Terdengar ucapan Almira yang masih ragu sebelum menekan tombol call di handphonenya

*tuuuuut..... tuuuuut..... tuuuuut*

Terdengar nada sambung yang begitu lama, menandakan bahwa sang empunya nomor yang dituju tak mengangkat adanya telpon masuk.

Almira mulai kebingungan dan tambah gusar, hingga tak terasa meneteskan air matanya (lagi). Akhirnya Almira memilih untuk mengirimkan pesan Whatsapp saja, setidaknya Dito pasti akan membacanya walaupun mungkin tak mau membalasnya.

Almira:
"Dito, maaf sebelumnya. Aku cuma mau tanya kejelasan kamu, kejelasan hubungan kita. Aku nggak bisa terus-terusan kamu gantungin gini terus, aku manusia, aku punya perasaan, bukan robot!".

Almira menunggu dan terus menunggu, Almira mencoba stalking akun-akun social media milik Dito, namun masih tak ada titik terang. Hingga kira-kira 2 jam lamanya, barulah ada balasan dari Dito.

*1 message received*

Dito:
"Al, maaf. Aku baru bisa whatsapp kamu, dan kayaknya lebih baik kita sendiri-sendiri aja. Maaf, tapi mungkin ini yang terbaik, aku bingung harus gimana. Salah aku yang nggak pernah bisa bikin kamu seneng, bikin kamu ngerasa kayak temen-temen kamu yang lain, dan aku juga lagi ada masalah yang nggak bisa aku ceritain sama kamu, yang ngebuat waktu aku makin kesita, yang pastinya makin nggak punya waktu buat kamu, dan ngebuat aku nggak fokus juga sama diri aku. Daripada kamu tambah jenuh, tambah bosen, lebih baik kita sendiri-sendiri dulu aja, Al. Mudah-mudahan kamu nggak bosen liat aku minta maaf. Maaf, sekali lagi maaf, Al.

Almira:
"Oh, gitu? Jadi segini aja? Oke, fine" Balas Almira singkat karena saking sesaknya ia melihat jawaban yang begitu ia tak inginkan keluar dari kata-kata Dito.

Almira:
"Aku pikir dengan aku ngalah, coba hubungin kamu duluan, bisa perbaikin semuanya yang udah kacau, tapi apa yang aku dapet? Seolah aku kaya sampah. Sia-sia. Nyesel aku ngehubungin kamu duluan kalo tau endingnya bakal kayak gini. Apa? Dimana yang kamu bilang perjuangan? Yang kamu bilang bertahan? Cuma segini aja? Bertahun-tahun kamu bikin aku seolah kayak orang bodoh. Buat apa kamu dateng lagi kalo akhirnya pergi lagi, hah, kamu punya idaman lain? jawab!" Emosi Almira meledak ke puncaknya hingga tak terasa bulir-bulir air matanya berjatuhan

Dito:
"Nggak kok, aku punya alasan yang nggak mungkin aku kasih tau sama kamu, Al. Rumit"

Seketika Almira merasakan pisau menancap di jantungnya, tak menyangka Dito akan begitu mudahnya mengakhiri ini semua.

Almira:
"Gila, gila, gila!!!! Hebat banget lo, Dit! Standing applause buat lo! Dateng, pergi, terus dateng, terus pergi, terus dateng, terus pergi lagi. Lo kira gue halte yang bisa lo datengin kapan aja lo mau? Duh, bodoh banget ya gue, selalu terjebak lagi dan lagi sama permainan lo. Haha stupid"

Dito:
"Aku ngga pernah punya niat, Al, buat mainin kamu, berpikir untuk punya niat pun enggak. Nggak taulah, Al. Aku cuma bingung harus gimana".

Almira:
"Hebat, Dit. Hebat banget lo. Disaat gue dari awal mencoba sayang, mulai nyaman, sampe akhirnya gue bener-bener sayang. Dan saat itu juga lo tinggalin gue, makasih, makasih banget".

Dito:
"Al, udah ya, Al, udah"

Almira:
"Lo lupa, ya, alasan lo balik lagi, lo bilang coba buat memperbaiki, dan "katanya" sih mau bertahan, jadi cuma segini aja? Cuma disini aja?"

Dito:
"Al, udah kek, Al udaaaaah, stop".

Almira:
"Oke, semoga lo bahagia dengan pilihan lo, dan semoga dapet pengganti yang gak egois, yang bisa selalu support lo apapun keadaan lo".

Satu jam, 2 jam, hingga 3 jam Almira menunggu, namun nihil, tak ada balasan apapun dari Dito. Jam sudah menunjukkan pukul 03.45. Almira saat ini masih terjaga dan mata nya kini sembab karena menangis tersedu sedan. Padahal esoknya, ia harus kembali menjalankan rutinitasnya, harus tetap kuliah seperti biasanya. Tapi rasanya Almira ingin bolos saja. Karena Almira tak pernah merasa sekacau ini sebelumnya..

Almira memutar lagu-lagu di handphonenya, lagu yang selalu mengingatkan nya pada Dito : David Cook - Always Be My Baby dan Yovie and The Nuno - Sempat Memiliki. Tak bosan ia selalu me-repeat 2 lagu itu sampai telinganya merasa lelah. Almira tak bisa berhenti menangis. Hingga kini tak terasa bantalnya telah basah oleh bulir-bulir air matanya. Lembar tissue bertebaran dimana-mana, kamar Almira terlihat sangat kacau, sekacau pikiran dan perasaannya saat itu.

"Ya ampun, Dit. Apa lo tau disini gue nangisin elo. Apa lo tau sakit yang gue rasain kaya apa, jelasin, Dit, sama gue lo kenapa. Kenapa, Dit!!" Seru Almira saat bercermin melihat dirinya yang saat ini sangat berantakan.

Jam menunjukkan pukul 04:45. Almira sadar ia harus tetap tidur walau hanya 2-3 jam. Almira mulai merasakan pusing hebat di kepalanya. Hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah. Dengan segera ia mengambil selembar tissue dan mengelap sisa sisa darah yang keluar dari hidungnya. Sebelum tidur, ia mencari buku diary usangnya yang ia ingat masih bisa dijadikkannya tempat untuk mencurahkan isi hati. Almira sesegukan membuka lembar kosong di dalamnya, seraya menggoreskan pena dan memulai cerita dukanya.

Sabtu, 18 Januari 2014

"Selamat tinggal, Dit. Selamat menjalani hari-hari lo yang indah tanpa gue. Selamat berbahagia dengan wanita lo yang lain, yang bisa nerima apapun keadaan lo dan nggak pernah ngeluh jenuh sama semua perhatian lo yang tulus. Maaf, dari awal emang gue terlalu bodoh untuk sadar, kalo gue nggak pernah pantes buat lo. You're too good to be mine, Dit. Terima kasih jagoanku, udah ngajarin aku rasanya menyayangi dan disayangi. Terima kasih sudah mau menghabiskan sebagian waktu dari hidupmu untuk wanita nggak penting macem aku. Terima kasih udah sudi nyediain bahu buat tempat aku bersandar, menangis, sampai nyembuhin sakit, hehe. Nggak tau kamu masih ingat atau enggak kalau aku sakit pasti pengennya nyender sama kamu. Tapi sekarang, kalo aku sakit nyendernya sama siapa dong? Aku nggak punya bahu lagi buat disenderin, nggak punya lengan lagi buat dipeluk, nggak punya seseorang lagi yang dijadiin teman berbagi. Mungkin ini hukuman buat aku. Aku tau betapapun aku menunjukkan kalo aku nggak pengen kehilangan kamu, kamu nggak akan peduli karena kamu nggak ngerasain luka yang sama. Mungkin kalo aku mati nanti, kamu baru sudi datengin aku kan, Dit. Baru sudi liat aku yang udah jadi gundukan tanah disaat aku nggak bisa lihat kamu lagi. Aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa hidup. Padahal aku cuma pengen habisin sisa hidup aku buat ketawa-tawa bareng kamu. Tapi yaudah, yang udah ya udah, aku sadar waktu nggak bisa balik lagi. Dan sekarang yang harus aku lakuin adalah move on! Yay! Semangat, Almira Shafila!".

Wajah Almira tampak semakin pucat, tapi ia tak ingin memberitahu Dito bahwa ia merasakan sakit luar biasa. Pikirnya, ia tak mau membebani Dito karena Almira tau masalah Dito sudah begitu banyak. Almira tak ingin dikasihani. Tak ingin orang yang disayanginya, menyayangi Almira karena kasihan.

"Lagipula Dito juga udah nggak peduli lagi sama gue, bales whatsapp gue yang udah kayak orang desperated gini aja dia cuma bales seperlunya". Batin Almira

Malam semakin larut, dan tak terasa hampir pagi.

4 lembar sudah diary usang Almira telah penuh dengan cerita dukanya. Saat ini Almira sudah sedikit lebih tenang, walaupun ia masih tetap tak percaya semua ini terjadi padanya. Dihati kecilnya, ia masih berharap semua ini hanya mimpi buruk yang keesokan harinya akan kembali normal. Masih ada sapaan hangat selamat pagi dari Dito, pertanyaan-pertanyaan Dito yang membosankan, dan lelucon-lelucon Dito yang sebenarnya tak pernah lucu.

"Aku kangen kamu, Dit. Aku pengen nyender dibahu kamu sekarang".

Almira menarik selimutnya, mencoba memejamkan mata dan meneteskan air matanya yang terakhir.

TAMAT

Saturday, January 18, 2014

Aku Cinta, Atau Hanya Persinggahannya Saja?

Tuhan, mengapa kebahagiaan rasanya sangat mahal untukku? Aku hanya butuh bahu untuk bersandar, lengan untuk dirangkul, dipeluk saat menangis, dihibur saat bersedih dan ungkapan sayang walau aku berkata aku jenuh bahwa setiap hari rasanya sama.

Apa salah jika aku jenuh? Aku tahu diri bahwa aku bukanlah hamba-Mu yang pandai mengucap syukur. Tapi apakah hamba-Mu yang sepertiku nyatanya juga tak layak merasakan kebahagiaan dari-Mu walau hanya sedikit?

Aku tak marah, karena aku tahu aku tak berhak untuk marah. Aku hanya bingung, apa maksud-Mu membuatnya datang (kembali) jika dia harus pergi (lagi)? Disaat aku mulai lengah dan menjatuhkan hatiku (lagi) padanya. Hingga kemudian tiba-tiba diretakkannya (lagi dan lagi). Apakah aku adalah cinta atau hanya dijadikan tempat persinggahannya saja? Entah apa yang dia sebut perjuangan, apa yang dia sebut bertahan, dan apa yang dia sebut kesabaran. Yang kutahu aku tulus menyayanginya.

Tak akan pernah kulupa kejutan-kejutan kecil darinya yang dia rasa tak pernah cukup dan aku anggap berarti, namun bagiku sebaliknya. Dan perjuangannya bertahan sejauh ini, walaupun egoku pada akhirnya selalu membuat dia menyerah dan pergi.

Terima kasih, laki-laki terbaik dan terhebat dihidupku, takkan pernah putus doa dariku agar kau bahagia disana, tentunya tanpaku :')

Wednesday, January 15, 2014

Maaf, Aku Jenuh (Part 2)

Sudah beberapa minggu Dito tak ada kabar. Memang semenjak Almira bertengkar dengan Dito, Dito lebih memilih untuk diam dan memberikan Almira keleluasaan untuk menenangkan diri.

"Entahlah aku nggak tau mau kamu apa, Dito. Aku capek". Gumam Almira dalam hati, sembari meneteskan air matanya.

Almira sadar bahwa ia salah. Tapi ia selalu merasa ragu untuk meminta maaf lebih dulu. Ia bingung harus memulainya dari mana. Entahlah apa yang sedang terjadi antara Almira dengan Dito.

Almira terlihat semakin tak bersemangat setiap harinya. Namun ia mencoba untuk menjalani hari-harinya seperti biasa, seakan tak ada masalah.

"Yaudahlah, let it flow aja. Terserah aja apa maunya dia. You're strong enough, Almira". Ucap Almira sembari mengepalkan tangannya saat ia sedang bercermin.

Almira duduk di meja belajarnya dan membuka buku diary yang telah lama ia abaikan, mungkin sudah 3 tahun lamanya, lembar-lembar di dalamnya tak ia tulis dengan cerita konyolnya.

Kamis, 9 Januari 2014
Dear, diary.
Maaf ya aku baru nulis lagi, abis aku nggak tahu apa yang harus aku bagi sama kamu. Karena apa yang pengen aku ceritain, pasti semua aku ceritain ke Dito. Iya, Dito teman SMA-ku dulu itu loh, yang nyebelin. Kamu pasti tahu kan. Aku bingung kenapa kami selalu memaksa untuk bersama, padahal kami tahu semua akan jadi rumit. Entah ini cobaan, atau hanya perasaan aku aja. Aku sayang sama dia, tapi kenapa rasanya sulit ya untuk bahagia sama dia? Apa belum saatnya? Orang-orang bilang semua akan indah pada waktunya. Tapi kapan, diary?

Almira termenung sesaat, memandangi layar handphone nya, entah apa yang sedang ia tunggu. Jam dinding di kamar Almira menunjukkan pukul 00.25 dan saat ini ia masih terjaga. Almira memutuskan untuk memutar lagu-lagu kesukaannya. Hingga akhirnya ia mulai mengantuk, dan tertidur.

*keesokan harinya*

*1 message received*
  From: Dito

Almira yang baru saja bangun tidur melihat notifikasi di handphone nya saat masih setengah sadar. Matanya berkedip sebelah menahan silau dari layar handphone nya.

"Dito?. Ah, salah liat nih gue kayaknya". Ucap Almira dengan suara sengau.

Sesegera mungkin Almira beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Setelah mengeringkan wajah dengan handuk kecil bergambar stitch kesayangannya, Almira melihat isi pesan yang tadi hanya ia lihat notifikasi nya.

Dito:
"Selamat tangggal 10 Januari :)"

Almira:
"Oh, masih inget kalo ini tanggal 10 Januari, Oh". Balas Almira sinis

Dito:
"Iya, aku inget. Dan akan selalu inget. Iya aku minta maaf karena udah cuekin kamu, kan katanya kamu bosen setiap hari aku tanya hal yang sama, makanya aku diem. Iya aku tau aku salah, karena emang aku selalu salah"

Almira:
"Kesel mah, ya kesel aja, nggak usah ditahan-tahan".

Dito:
"Iya, aku kesel. Makanya aku diem".

Almira:
"Gak taulah, gak mau mikirin".

Hening.....
Semenjak balasan Whatsapp terakhir yang Almira kirim, Dito tak pernah lagi mengabari Almira. Almira pun tak berbuat apa-apa, walaupun  hanya untuk sekedar menjelaskan pada Dito apa yang seharusnya mereka perbaiki.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, hingga hampir satu bulan Dito tak kunjung memberi kabar. Almira mulai khawatir dan gelisah. Tapi ia tetap saja keras kepala

"Kalau dia gentle pasti dia bisa selesain.semuanya kok". Batin Almira.

*bersambung*

Saturday, December 28, 2013

Maaf, Aku Jenuh.

* 1 message received *

"Kamu udah makan belum?"

Entah itu kalimat yang sama untuk ke-berapa ratus kalinya yang Dito kirim untuk Almira.

Dito adalah pacar Almira sejak SMA. Entah sudah berapa kali mereka putus-nyambung karena sifat Almira yang kekanakan dan memutuskan hubungannya dengan Dito secara sepihak.

Dito pria yang dewasa, sedernana dan baik, namun membosankan menurut Almira. Sedangkan Almira adalah gadis biasa, yang menurut orang-orang disekelilingnya, ia baik dan ramah namun sedikit menyebalkan. Egois, moody, dan terkadang emosinya meledak-ledak. Tapi Dito menyayanginya dengan tulus.

Almira tahu menjalin hubungan dengan Dito akan terasa sama walaupun kini mereka sudah beranjak dewasa. Intensitas waktu mereka untuk bertemu sangatlah jarang. Apalagi sekarang Dito tidak hanya bekerja, tetapi juga kuliah. Jadilah sebagian besar waktu Dito tersita untuk urusan pekerjaan dan kuliahnya.

"Udah"

"Tadi makan apa?"

"Makan nasi goreng"

"Aku juga makan nasi goreng, tadi. Kamu lagi apa?"

Almira makin badmood tiap kali membaca isi pesan yang sama dari Dito setiap harinya. Sampai-sampai ia hafal akan urutan dari semua pertanyaan Dito untuknya.

"Bisa nggak sih tiap hari nggak usah nanya itu terus, bosen tau ngga!".

Stuck. Dito termenung sesaat setelah membaca balasan terakhir dari Almira. Dito tahu bahwa Almira saat ini pasti sedang jenuh padanya. Namun ia tetap mencoba bersikap baik pada Almira.

"Iya, iyaa :)"

Almira mengacuhkan balasan pesan Whatsapp terakhir dari Dito. Almira bingung. Ia sebenarnya sedih saat merasakan bahwa dirinya sedang jenuh pada hubungannya dengan Dito.

Dihati kecil Almira, sesungguhnya ia hanya ingin merasakan seperti teman-temannya, yang selalu bisa bersenang-senang bersama pacarnya tiap saat yang ia inginkan. Jalan-jalan, nonton bioskop, belanja sampai dinner romantis hanya ada di khayalannya. Jangankan dinner romantis, untuk bertemu Dito pun rasanya sulit. Kadang Almira berpikir, apakah hubungannya dengan Dito sebaiknya disudahi atau tidak. Almira merasa lelah. Tapi disatu sisi Almira berpikir, Dito adalah pria yang baik yang selayaknya dipertahankan.

"Dito kan cowok baik. Ya, meskipun dia membosankan. Apa pantes gue memperlakukan dia kayak gini?"

Tak sadar Almira mengucapkan kalimat itu saat melihat mie instan yang dimasaknya overcook.

"Yah, mie gue....."

Almira membawa mangkuknya ke meja makan, kebetulan saat itu ia sedang sendirian dirumah. Karena sedang memikirkan banyak hal tentang Dito, selera makan Almira jadi hilang.

"Dito, Dito. Lo baik sih, tapi kenapa harus ngebosenin?"

* 1 message received *

"Hai, sayang :). Kamu lagi apa? Udah makan belum?"

Lagi-lagi isi pesan yang sama Almira terima dari Dito. Almira tak membalasnya.

* 2 messages received *

"Kamu kenapa sih, sayang? Lagi ada masalah? Cerita sini sama aku"

* 2 messages unread *

Almira langsung mendelete semua notifikasi Whatsapp yang masuk dari Dito, tanpa ia baca satupun.

Dito cemas. Tapi Dito tahu mengapa Almira tak membalas satupun pesannya.

"Mungkin Almira jenuh sama aku yang nggak pernah bisa bikin dia bahagia". Gumam Dito dalam hati.

Almira menyetel lagu-lagu kesukaannya di handphone. Sampai akhirnya terputarlah lagu David cook - Always Be My Baby. Ini adalah lagu favorit Almira. Almira selalu teringat pada Dito tiap kali mendengar lagu ini. Seketika Almira teringat 2 pesan Dito yang ia abaikan.

"Dito, maafin aku ya. Jujur, aku emang lagi jenuh sama kamu, sama hubungan kita. Makanya aku selalu ketus tiap bales Whatsapp kamu"

"Iya, aku tau kok, Al kalo kamu lagi jenuh sama aku. Aku kan nggak sehari dua hari kenal kamu, sayang :)"

Dito tak pernah ketinggalan menyertakan emoticon smile dalam tiap pesannya untuk Almira.

"Yaudah, kamu maunya gimana? Mau kita break aja? Yang pasti aku nggak mau kita putus. Aku nggak mau ngelepas kamu lagi kaya yang dulu-dulu. Aku tau kok aku nggak pernah bisa kasih kamu lebih kayak cowok-cowok yang lain. Aku cuma cowok biasa yang cuma punya sedikit rencana masa depan yang Insya Allah buat kita. Apapun terbaik menurut kamu, aku pasti lakuin kok"

Seluruh rasa sesak yang ada didadanya, coba Dito tahan sebisa mungkin. Dito adalah tipe cowok yang tak mau kesedihannya diketahui oleh siapapun, sekalipun itu Almira, pacarnya sendiri.

Tak terasa airmata Almira mengalir. Dito selalu bisa membuat Almira menangis dengan kata-katanya yang menyesakkan.

"Maafin aku ya, Dit. Aku tau aku salah. Nggak seharusnya aku giniin kamu. Aku emang kayak anak kecil. Nggak pernah bisa ngertiin kamu"

"Nggak apa-apa kok, Al. Kalo kamu marah, sedih, kecewa, keluarin aja. Nggak usah kamu pendem. Ya, walaupun aku nggak bisa selalu disisi kamu, aku masih punya waktu kok kalo untuk dengerin curhatan kamu. Maafin aku ya, Al. Aku nggak pernah bisa jadi apa yang kamu mau"

Almira semakin menangis sesegukan membaca pesan dari Dito.

"Yaudah ya, Dit. Kita nggak usah bahas ini lagi. Aku yakin kok bakalan ada banyak jenuh aku yang lainnya setelah ini. Mungkin aku bukan tipe cewek ekspresif yang bisa ngungkapin sayangnya setiap hari. Tapi yang penting kamu tau kalo aku sayang kamu, Dit"

"Iya, aku tau kok, Al. Udah ya jangan nangis lagi. Muka kamu jelek tuh kalo nangis, coba deh ngaca :p"

Dito mencoba sedikit bercanda dengan Almira.

"Ih, Dito. Kamu tau darimana aku nangis?"

"Mata aku kan disekeliling kamu, sayang. Ya aku pasti tau lah"

"Dito, aku serius"

"Ya, kan aku bilang. Aku nggak sehari dua hari kenal kamu, Almira Shafila :)"

*bersambung*

Thursday, October 17, 2013

Masih Sehangat Dulu

Hei, pelukan ini rasanya tak asing. Tangan ini, bahu ini. Hangatnya masih sama, dan aku masih suka. Entah karena aku yang terlalu rindu bersandar dibahumu, atau memang bahumu terlalu nyaman? Aku tidak peduli :)

Sekian lama kita tak bertemu, aku tahu, kita bukan tak mencoba untuk saling melupakan. Saling memperlihatkan seolah kita baik-baik saja saat melepaskan satu sama lain, nyatanya tak membuat kita bahagia. Dan sekeras apapun kita berusaha menolak, nyatanya perasaan kita masih sama. Dan saat ini semuanya terjadi begitu saja. Bingung? Ya. aku juga sama sepertimu. Tak pernah mengerti mengapa akhirnya begini.

Aku hanya takut semua akan berakhir seperti dulu. Keegoisannku, hal utama dan yang paling sering membuatmu terluka. Maafkan aku karena membiarkanmu masuk lebih dalam lagi di kehidupanku. Maaf, karena aku selalu membuatmu lelah dengan keegoisanku. Dan maaf, karena rasa nyaman ini terlalu kuat hingga (masih) mengalahkan keinginanku untuk melihatmu bahagia dengan yang lain. Aku tahu kamu adalah yang terbaik untukku. Hanya saja, aku yang tak cukup baik untukmu.

Tapi Tuhan, disamping semua itu, terimakasih karena Engkau menciptakan pria sebaik dia untukku. Caranya memanjakanku, caranya mengistimewakan aku, caranya bicara padaku, membuatku nyaman saat berada di dekatnya. Dan terimakasih, karena bahunya masih sehangat dulu :)