Thursday, September 25, 2014

Chapter 2

"Woy! Lo kenapa sih, Al. Melamun terus, mikirin Dito kalih? Hahaha." Celetuk Erik.

Erik adalah sahabat dekat Almira sejak duduk di bangku SMP, lebih tepatnya, Erik adalah tetangga yang dikenalnya pertama kali dan dekat hingga sekarang.

"Hahaha, apaan sih lo, Rik. Dasar gorilla sok tahu! Nggak kok, gue emang lagi nggak enak badan aja. Makanya bawaannya lesu." Jawab Almira.

Almira yang sedang ingin menyendiri di taman kompleks dekat rumahnya itu sebenarnya merasa agak terganggu dengan kehadiran sahabatnya yang super menyebalkan ini. Erik memang tipikal sahabat yang menyebalkan, bahkan menjengkelkan. Tapi di satu waktu, dia dapat berubah menjadi Erik yang super serius dan dewasa di saat-saat seperti ini. Di saat Almira membutuhkan sandaran dan tempat berbagi.

"Al, Al. Lo pikir gue baru kenal lo kemaren kali?" Kata Erik seraya mengacak-acak rambut Almira yang sudah tersisir rapi

"Ih, apaan sih lo, Rik. Gue tuh paling nggak suka diacak-acak rambutnya. Apalagi sama elo! Dasar nyebelin." Sahut Almira jutek.

Erik memandang Almira dengan perasaan yang sama sakitnya. Hatinya sakit melihat orang yang amat disayanginya terluka.

"Udahlah, Al. Nggak usah pake bohong-bohong segala sama gue. Mata lo tuh ngga bisa bohong. Dua minggu ini gue liat lo bengong terus. Kata nyokap lo, lo juga jarang makan. Ga inget 3 hari yang lalu lo nelpon gue malem-malem terus dateng ke kostan gue dengan kondisi muka kucel, mata sembab, rambut acak-acakan, berantakan! Gue nggak suka lihat sahabat gue nggak karuan kayak gini! Mana Almira yang gue kenal? Masa cuma gara-gara diputusin sama cowok cemen macem Dito aja lo rapuh sih. Dasar cengeng!"

Almira masih terus saja melamun sambil mengayun-ayunkan dirinya diatas ayunan tua yang ada di taman tersebut. Sedangkan Erik duduk di ayunan sebelahnya dan masih terus saja mengoceh.

"Mau sampe kapan sih lo kayak gini, Al? Semua udah terjadi. Dia udah pergi. Terus apalagi yang lo tunggu? Udah lah, Al, sadar. Bangun dari mimpi lo. Lo udah terlalu lama hidup dalam mimpi. Bahagia lo sama Dito selama ini cuma semu. Apa sih untungnya nyiksa diri lo kayak gini?"

"Al!! Lo daritadi dengerin gue ngomong nggak sih!" Suara Erik meninggi, agak emosi merasa diabaikan Almira.

"Hah? Iya, Rik? Apa? Lo ngomong apa tadi? Maaf gue nggak konsen."

"Nah, liat sendiri kan? Orang yang gantengnya setara Thomas Brodie Sangster gini aja lo cuekin. Helow, jatoh deh ini mah harga diri gue." Cerocos Erik tak henti

"Haha. Apaan sih, Rik. Nggak aus apa lo daritadi nyerocoooooooos terus. Gue cuma pengen sendiri, Rik. Gue nggak pengen ngapa-ngapain. Lo ngerti nggak sih? Gue cuma butuh waktu buat sendiri. Gue butuh ketenangan. Lo nggak ngerti rasanya, nggak sayang sama seseorang terus seiring berjalannya waktu semua berubah hanya karena lo pengen bikin dia bahagia. Lo pengen kasih dia apa yang dulu nggak pernah lo kasih. Sayang, perhatian, ketulusan. Semua yang nggak pernah gue kasih ke dia dulu, Rik. Gue hanya mencoba jadi Almira yang lebih baik buat dia. Tapi kenapa kayak gini akhirnya? Terus buat apa dia balik lagi ke kehidupan gue kalo cuma buat ngancurin gue aja? Sakit, Rik. Sakit." Air mata Almira menetes.

Erik beranjak dari posisi duduknya dari ayunan sebelah Almira. Berjongok di depan Almira dan menggenggam tangannya.

"Al. Lo tahu? Mungkin Tuhan nggak kasih apa yang kita pengen, tapi Tuhan selalu ngasih yang kita butuh kan? Coba lah lo ambil positifnya dari semua kejadian ini. Jangan melulu ngeluh sama Tuhan. Saat lo dikasih bahagia, pernah nggak lo inget buat sujud sama Dia dan ucap syukur? Pernah lo berterimakasih sama Dia lo dikasih kebahagiaan yang begitu besar walau hanya sekedar dipeluk Dito? Lo lupa, Al. Lo udah lupa terlalu jauh kalo ada Tuhan yang harusnya lo kasih cinta lo yang terlalu besar itu. Bukan Dito. Pernah lo mikir kayak gitu?" Ceramah Erik panjang lebar.

"Masya Allah, Rik. Iya. Lo bener. Kenapa gue nggak pernah berpikir kayak gitu ya. Ya Allah, nggak ada manusia yang lebih hina daripada gue saat ini, Rik. Gue malu. Kenapa gue bisa begini ya, Rik? Gue juga nggak ngerti. Eh, tapi tumben, Rik. Kok otak sama omongan lo bener. Bisa sinkron gitu. Biasanya kan...... Hahaha." Mendadak tangis Almira terhenti dan tawanya meledak saat meledek Erik.

"Biasanya apa! Dasar lo anak kurang ajar. Udah diingetin, bukannya makasih malah nyela gue lagi lo. Tapi nggak apa-apa lah, itung-itung banyakin pahala karena ngehibur sahabat gue yang mukanya kaya pantat panci ini. Hahaha." Kata Erik bersemangat sambil menjewer kuping Almira.

"Denger ya, Al. Tuhan itu bukan kayak kita. Yang nyimpen dendam kalo kita lupa sama Dia. Dia bakal selalu ada buat lo disaat lo butuh. Pun seandainya lo kebalikannya. Meskipun disaat lo bahagia lo nggak pernah inget dia. Dia nggak pernah marah kan? Anggap ini semua ujian buat lo. Akankah lo sadar setelah kehilangan satu-satunya yang lo anggap paling berharga buat lo. Minta maaf sama Dia, Al. Lo udah terlalu jauh ngelupain Dia. Dan anggep aja ini karma lo karena lo pernah bikin Dito kecewa kan dulu? Ya walaupun gue tau nggak sesakit yang Dito kasih ke elo. Tapi, Tuhan selalu punya cara untuk menuntun hamba-Nya kembali kok. Kembali untuk dekat sama Dia."

"Iya, Rik. Makasih ya. Iya gue sadar banget gue udah terlalu jauh lupa sama Dia. Yaa Allah, kenapa gue bisa kayak gini sih? Buta banget sama cinta. Dan lo tahu, Rik? Gue sempet pengen ngerusak diri gue sendiri karena gue ngerasa gue nggak bisa tanpa dia. Dan belakangan ini gue sering kesini dan ngelamun itu, ya karena gue ngehindarin hal-hal buruk yang mungkin gue lakuin. Tapi gue bersyukur gue bisa nahan ide-ide bodoh itu buat nggak gue lakuin."

"Tapi, Rik. Apa mungkin kalo Dito suatu saat bakal kembali lagi sama gue? Apa dia bakal minta maaf dan mohon-mohon sama gue untuk kembali sama dia dan ngelupain semua ini? Apa itu mungkin, Rik? Apa itu mungkin setelah dia bilang kalo "Disini udah nggak ada apa-apa, Al." Apa itu mungkin, Rik?" Kata Almira lirih, setengah berharap.

"Lo juga. Kenapa sih lo selalu marahin gue kalo gue gak bisa move on, lebih tepatnya nggak mau move on. Lo nggak ngerti, Rik. Lo nggak tahu rasanya." Tatap Almira sedih pada kedai serabi depan taman itu yang dulu sering dia kunjungi bersama Dito.

Erik menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Dalam hati ia berteriak: "Al, Al. Lo yang nggak ngerti! Lo yang nggak tahu rasanya! Segitu cintanya kah lo sama Dito sampai lo nggak liat kalo disini selalu ada gue yang nemenin lo, yang jadi bahu lo saat lo sedih, yang selalu berusaha bikin lo ketawa tanpa lo tahu perasaan gue sama lo masih ada sampe sekarang. Apa nggak ada kesempatan buat gue sedikit aja masuk ke sela-sela hati lo dan memperlakukan lo lebih baik dari Dito? Nggak ada, Al?"

Erik memang pernah memiliki perasaan yang lebih pada Almira. Perasaan lebih dari sekedar sahabat. Erik tak mengerti itu perasaan apa. Mungkin sayang, atau cinta? Entah apalah itu. Yang Erik tahu dia hanya ingin selalu ada untuk Almira. Menjadi pelipur laranya, menjadi orang yang bisa Almira andalkan di segala situasi. Dulu, Erik pernah menyatakan perasaannya dan Almira malah menganggap semua hanya leluconnya saja. Kata Almira, dia dan Almira bahkan sudah seperti adik dan kakak, jadi bagaimana mungkin Erik bisa memiliki perasaan semacam itu padanya? Dan sejak saat itu, Erik memilih untuk tetap memendam perasaannya. Yang hingga saat ini, tak pernah berkurang, bahkan semakin hari kian bertambah. Erik mencoba menyayangi Almira dalam diam.

"Woy!! Kok jadi elo yang bengong sih, Rik. Ntar ayamnya Pakde Kumis mati aja! Hahaha. Mikirin apaan sih lo? Mikirin cewek yaa? Ciyeeee.... anak semester berapa? Cerita dong sama gue!" Kata Almira cengengesan lalu meninju bahu Erik.

Erik mendudukkan dirinya di tumpukan batu bata yang ada di depan ayunan Almira. "Apaan sih lo, Al. Cara lo ngalihin pembicaraan nggak lucu. Apa yang gue pikirin itu nggak penting. Yang penting sekarang gimana caranya lo nggak berantakan kaya gini lagi. Ilfeel gue liat muka lo dekil kaya gitu, mandi orang mah. Galau sih boleh aja tapi ya nggak sampe dua minggu nggak mandi juga kali, Al!"

"Astaga, Erik. Jahat banget mulut lo. Enak aja! Lo nggak liat gue udah kayak bidadari gini. Abis luluran nih gue tadi!"

"Yaelah, Al. Buat apa juga lo segala luluran sampe ngerasa lo setara bidadari gitu kalo tujuannya cuma nyepi di taman kompleks, duduk sambil ngelamun di ayunan, dan berkaca-kaca natap kedai serabi itu?"

Almira diam saja. Almira benar-benar kaget bahwa sahabatnya yang satu ini benar-benar memahami dirinya. Dalam hati dia berharap "Andai Dito kayak lo, Rik."

"Haha. Apaan sih lo? Kebiasaan buruk lo tuh. SOK TAHU." Kata Almira lantang mempertegas kalimat terakhirnya.

"Haha. Sumpah ya, Al. Gue suka pengen ngakak kalo lo berusaha bohongin perasaan lo depan gue. Lo itu sahabat gue dari SMP, gimana bisa sih gue nggak tahu gerak-gerik lo kalo lagi galau? Kalo lagi desperated kaya orang di pending gaji 3 bulan?"

"Anjrit. Emang gue se-ngenes itu apa, Rik? Hadeeeeeh, gue lagi sedih, bukannya dihibur malah dicela-cela mulu?" Jawab Almira dengan raut muka datarnya

"Haha. Terserah lo, lah. Gue laper nih, cepetan traktir gue bakso Mas Man. Lo kan udah gue kasih pencerahan sore ini. Masa lo nggak ada balas budinya sih sama gue?"

"Hih, dasar. Sahabat macam apa lo. Mana ada begitu ceritanya. Dimana-mana orang mah ada sahabatnya lagi sedih ya ngehibur sukarela lah, lagi juga harusnya elo yang traktir gue. Kan gue yang lagi sedih hari ini. Huuu!"

"Yaudah, oke oke. Lo beruntung, Al, hari ini. Berhubung hari ini gue udah kelar UAS dan kebetulan dapet bonus karena achieve target, boleh lah traktir sahabat gue yang oon ini kalo cuma bakso mah. Yaudah ayo bangun, mau sampe kapan lo duduk di ayunan reyot itu? Sampe ambruk? Hahaha." Erik berdiri dari duduknya seraya meraih tangan Almira untuk mengajaknya ke kedai bakso Mas Man di ujung kompleks.

Erik menggandeng Almira dan sesekali mengacak-acak rambutnya gemas. Walaupun Almira selalu menunjukkan mimik wajahnya yang dia pikir dapat membuat Erik takut. Sepanjang jalan, Erik terus menghiburnya dengan candaan-candaan khasnya yang konyol dan garing. Hingga tanpa sadar Almira lupa, bahwa ia sedang galau saat itu.

-bersambung.

Tuesday, September 23, 2014

Chapter 1

"Jangankan mereka, akupun lebih-lebih nggak percaya akhirnya seperti ini." Kata Almira saat melihat pantulan wajahnya di meja rias.

Almira melamun saat duduk di meja riasnya. Wajah Almira kusut, matanya sembab. Tampak lingkaran hitam di kantung matanya. Dirinya terlihat sangat berantakan malam itu.

Almira merasa rindu akan sosok Dito yang dulu. Entah, apa yang membuat Dito berubah begitu banyak saat ini. Almira begitu merindukan Dito yang sangat baik, sangat perhatian, dan malah yang sangat membosankan.

---- 1 bulan yang lalu ----

"Secepat itukah, Dit? Kamu ngerasa perasaan kamu ke aku udah berubah? 4 tahun, Dit. Semua itu nggak sebentar. Nggak ada artinyakah buat kamu? Perjuangan aku? Perjuangan kita? Walaupun kita dari dulu selalu putus nyambung? Dan secepat itukah kamu bilang perasaan yang kamu punya buat aku hilang? Aku tau, Dit, awal kita balikan dulu kamu nggak begini. Tatapan kamu nggak berubah kaya beberapa bulan terakhir yang aku bilang. Kamu berubah sejak kamu kenal dia. Aku kenal kamu nggak setahun dua tahun, Dit. Tega ya kamu kayak gini. Setelah kamu buat aku bener-bener bisa ngasih semua rasa sayang aku ke kamu, yang padahal dulu cuma bisa aku kasih setengahnya. Kamu yang narik-narik aku sampe akhirnya aku jatuh. Aku coba berubah untuk jadi Almira yang lebih baik buat kamu. Jadi Almira yang nggak egois, yang sabar, yang lebih perhatiin kamu. Semua aku lakuin buat kamu, Dit. Aku pengen bahagiain kamu. Tapi inikah balasannya? Setelah semua usahaku buat berubah, sedikit... sedikit.... sampe akhirnya aku bisa jadi Almira yang perhatian, yang cemburuan, yang ngambek kalo nggak ketemu kamu. Yang bahkan tadinya aku mikirin juga nggak, kamu seharian mau ngabarin aku atau enggak. Ini cara kamu ngebales semua sakit kamu dulu? Kalo iya, makasih ya, Dit. Kamu berhasil. Berhasil banget."

"Aku minta maaf, Al. Aku.... udah nggak ngerasa apa-apa lagi di sini. Bener yang kamu bilang, semua yang aku lakuin buat kamu, itu terpaksa. Karena aku ngerasa bersalah sama kamu. Karena aku ngerasa, aku punya hutang untuk bahagiain kamu. Setelah aku bisa sedikit-sedikit menuhin mau kamu, mulai dari ngelewatin Ramadhan bareng, ngasih kamu kado saat kamu ulang tahun, sampe liburan berdua sama kamu, setelah aku bisa menuhin itu semua, rasa yang aku punya buat kamu hilang, Al. Dulu waktu kamu bilang kamu kangen sama aku, aku ngerasa itu waktu yang tepat buat bikin kamu bahagia. Tapi justru aku malah bikin semuanya makin kacau. Aku tahu itu. Tapi aku lega karena aku ngerasa sekarang tugas aku udah selesai. Aku juga nggak ngerti kenapa bisa kayak gini, Al. Aku..... cuma nggak ingin pura-pura, aku nggak mau bohongin kamu lagi. Aku jahat, Al. Aku udah terlalu banyak bohongin kamu, dan aku... aku nggak mau lebih lama lagi pura-pura, aku nggak mau nyakitin kamu lebih dalem lagi, makanya aku mau pergi."

Almira bingung harus berkata apa, semua berkecamuk di pikirannya. Marah, sedih, kecewa, bahkan sungguh tidak percaya atas apa yang Dito katakan.

Beberapa hari sebelum Dito mengucapkan kata-kata yang begitu meluluh-lantakkan hati Almira itu, mereka sempat bertengkar karena Almira tahu, Dito sedang dekat dengan wanita lain. Yang Almira rasa, telah memberikan rasa nyaman yang lebih dari yang Almira bisa berikan. Hingga akhirnya Almira merasa begitu sakit, sangat sakit. Dan ketika itu, hanya air matanya yang berbicara.....

Setiap hari Almira menangis tiada henti. Mungkin orang lain berpikir dia berlebihan, tapi tentu hanya Almira yang tahu bagaimana rasanya begitu sedih dan hancur saat itu. Hanya buku diary lusuhnya yang tahu dan mengerti perasaan Almira yang berantakan saat itu.

-----------------------------------------

Dear Diary...
Aku nggak tahu harus bilang apa sama kamu. Yang pasti, hatiku begitu hancur saat ini. Kamu tahu? Seorang Dito Arvian, yang dulu sangat memuja aku, yang terlalu sering aku sakiti, sekarang udah bisa nyakitin aku. Bahkan, lebih sakit. Sangat sakit. Dan kamu tahu, diary? Dia bilang disana udah nggak ada apa-apa lagi, hampa, dan dia bilang dia nggak mau bohongin aku lagi. Nggak mau pura-pura lagi. Ya, aku pikir ini semua karma buat aku karena aku dulu selalu nyakitin dia. Aku pengen balik lagi sama dia dulu, karena aku pengen bahagiain dia yang aku ngerasa dulu aku nggak pernah bisa, nggak pernah sempat. Karena aku terlalu egois, terlalu jahat dan memikirkan kebahagiaan aku sendiri. Tapi, disaat aku berubah sedikit demi sedikit jadi lebih baik buat dia, bisa nahan emosi aku sedikit demi sedikit buat dia, bahkan yang paling drastis jadi perhatian banget sama dia, yang aku sadar banget dulu aku terlalu cuek bahkan untuk sekedar nanya dia udah makan atau belum. Kamu tahu, diary?  Sulit, bahkan sangat sulit buat aku untuk jadi aku yang sekarang. Yang sangat peduli sama dia. Setiap hari aku belajar. Belajar dari kesalahan aku, belajar dari semua masalah kita, mencoba nanggepin dengan dewasa karena aku tahu udah bukan saatnya main-main lagi. Tapi disaat semua yang aku usahakan dengan begitu susah payah udah aku kasih ke dia? Dia hanncurkan semua itu dengan mudahnya. Tahu rasanya? Seperti ingin ia bawa ke langit ke-tujuh, tapi saat di langit ke-enam genggamannya sengaja dilepas karena ingin melihatku terjatuh kemudian menertawakan aku. Seburuk apapun aku di masa laluku, aku nggak pernah meninggalkan dia karena merasa nyaman dengan orang lain, bahkan demi orang lain. Yang bahkan setelah putus hubungan bahkan makin dekat. Dia nggak mengakui kalau ada orang lain di hatinya, tapi aku tahu diary. Aku tahu. Karena aku memahami dia. Aku kenal dia. Yang membuatku amat sangat tidak percaya semua ini terjadi, karena memang sebelumnya dia nggak pernah kayak gini. Yang bahkan hanya salah bicarapun, memohon maaf hingga berhari-hari karena takut aku terluka. Benar yang dia bilang, "Dulu sama sekarang itu beda, Al." Iya. Aku tahu. Bahkan disaat aku mencoba meyakinkan perasaannya, tak sedikitpun dia meminta waktu sama aku untuk merenungkannya. Dia bilang "Aku mau putus, Al." Akan selalu ada cara Tuhan untuk membalas setiap kejahatan bukan, diary?  Bahkan yang telah bertahun-tahun kupikir telah terkubur. Firasatku ternyata benar, bahwa suatu saat dia pasti akan berubah, dan saat itu semua berbalik. Kini aku yang memujanya. Tuhan, mohon maafkan hamba-Mu ini yang hanya datang kepada-Mu disaat sulit, disaat duka, disaat tak ada pilihan untuk bersandar selain Engkau. Biarlah kesakitanku dapat membuatnya bahagia. Dulu, kamu nggak pernah sempat bikin dia bahagia kan, Al? Sekarang saatnya kamu membalas semua kebaikan dia dulu. Walaupun semua harus kamu bayar dengan kesakitan, kamu jadi nggak akan ngerasa berhutang sama dia lagi kan? Percaya aja, jodoh nggak akan kemana. Kalau memang dia jodoh kamu, kelak pasti dia akan kembali. Kalau bukan, pasti Tuhan sudah siapkan yang terbaik buat kamu. Berprasangka baiklah, Almira...

Almira menutup buku diary nya dengan perasaan yang makin tak karuan. Dia memegang ponselnya. Mencari kontak seseorang disana dan memencet tombol call setelah kontaknya ditemukan.

"Halo, Rik? Lo ada di kostan ngga? Gue kesana ya?" Kata Almira sesegukan.

-Bersambung...

Monday, September 1, 2014

Tak Lagi Sama :")

Hei, kamu. Iya kamu. Tahu nggak kalo aku sekarang lagi kangen banget sama kamu? Mengingat lagi akan semua kenangan kita yang nggak pernah lelah untuk aku coba lupakan. Tahukah kamu di sini aku selalu bertanya-tanya kenapa kita jadi serumit ini? Yang padahal, dua minggu sebelumnya kita masih tertawa bersama, bahagia bersama, oh maaf, maksudku mungkin hanya aku yang merasakannya.

Aku nggak pernah ngerti apa yang bikin kamu tega, tanpa memikirkan, tanpa mencoba mencari tahu apa yang salah sama diri kamu dan aku. Tanpa mencoba berhati-hati bertanya pada hati kamu. Apakah ini hanya perasaan sesaat aja.

Sadarkah kamu memilih meninggalkan aku hanya karena jenuh dan merasa ingin sendiri? Karena merasa kamu hampa saat bersamaku? Merasakah kamu bahwa nggak mudah untuk aku sampai disini, sampai di titik ini, level ini. Semua aku lakukan buat perjuangin kamu, buat perjuangin kita. Aku cuma kecewa kenapa kamu nggak meminta aku memberi kamu sedikit waktu untuk berfikir. Untuk memikirkan apa jalan keluar dari masalah hati yang kamu hadapi. 4 tahun, sayang. Nggak berartikah itu untuk kamu? Segala kesabaran aku, kesabaran kamu, kesabaran kita menghadapi semua cobaan untuk mempertahankan hubungan kita hingga di level ini.

Padahal, hampir satu tahun kita genap kembali lagi. Ingatkah kamu, kalau ini bulan September? Bulan dimana kita kembali dekat, dimana kamu pelan-pelan yakinin aku lagi bahwa kamu ingin aku temenin kamu ngelewatin semua masa sulit kamu. Yakinin aku, bahwa kamu pengen ubah mindset aku tentang "semua pria itu brengsek".

Dimana semua keyakinan kamu akan kita. Keyakinan akan kamu dan aku bisa ngelewatin ujian di tiap level dalam hubungan kita. Dimana semua keyakinan itu sekarang? Dulu, kamu yang memohon aku untuk tetap tinggal. Aku nggak ingkar. Aku hanya pernah hampir ingkar. Tapi aku tahu aku akan sama bodohnya seperti dulu kalau aku kembali ingkar. Tapi kamu? Sadarkah? Selama ini kamu yang minta aku untuk tetap nemenin kamu, ngelewatin masa-masa sulit dalam hidup kamu. Tapi nyatanya? Kamu sendiri yang ingkar. Kamu sendiri yang ninggalin aku.

Aku tau kamu berhak, sangat berhak untuk menentukan apa yang kamu pilih, apa yang kamu rasa bisa membahagiakan kamu. Aku tahu kamu memilih ninggalin aku karena kamu nggak ingin luka aku semakin lebar dan dalam. Makanya, kamu milih buat pergi sesegera mungkin sebelum kamu sakitin aku makin dalam lagi. Aku tahu yang kamu rasakan karena aku juga pernah merasakan jenuh yang sama. Walaupun kamu bilang, "tapi ini beda, Rhyy". Aku hargai keputusan kamu yang nggak ingin berpura-pura sayang sama aku lagi. Kamu, pria yang baik. Memilih jujur walaupun nyakitin aku, daripada membahagiakan aku tapi kamu berpura-pura. You're a real gentleman :")

Entahlah, aku sebenarnya hanya mencoba meyakinkan kamu agar kamu tidak menyesal nantinya, agar kamu dapat menghargai apa yang udah kamu milikin, apa yang udah kamu perjuangkan untuk dapetin apa yang dulu pengen kamu milikin (lagi).

Aku sadar aku udah ngga punya hak untuk hubungin kamu, karena aku nggak ingin di cap nggak tau diri. Jelas-jelas kita udah pisah dan kamu minta aku untuk cuekin kamu. Aku takut, padahal aku pengeeeen banget tau keadaan kamu. Kamu lagi ngapain, gimana aktifitas kamu hari ini, gimana kuliahnya, gimana kerjanya.

Aku cuma kangen, kangeeeen banget semua tentang kamu. Kangen dikasih semangat sama kamu, kangen diucapin selamat pagi sama kamu, kangen dipanggil sayang sama kamu, dipeluk, dijadiin sandaran, dijadiin tempat buat kamu ngelepas lelah, sampe...... dibawain kwetiau sama kamu tengah malem :")

Aku, kangen kamu, Jey :")

Monday, August 25, 2014

Tuhan, Tak Sudikah Kau Memberiku Sedikit Kebahagiaan?

Bagai jantung yang diremuk. Sesak. Atau mungkin lebih parahnya, saking terlalu sering dipatahkan, kini tak lagi terbentuk. Kadang aku tak mengerti apa tujuan Tuhan memberi takdir seperti ini. Kalau aku takkan jadi yang terakhir untuknya, takkan jadi bahagianya, takkan jadi tujuannya, lantas untuk apa yaa Allah, untuk apa Kau temukan aku lagi dengannya? Aku ikhlas memberi pintu maafku untuk dia, karena dia telah memberiku maaf terlebih dulu atas semua khilafku yang lalu. Mencoba merangkai kembali bagian yang mungkin sudah sulit disatukan, melanjutkan kisah yang tertunda, yang kami pikir akan indah pada akhirnya, seperti harapan kami. Oh maaf. Maksudku, mungkin kini hanya harapanku saja.

Aku hanya lelah. Lelah mencari dimana letak bahagiaku, lelah mencari tahu dimana Kau simpan bahagiaku. Kupikir, semua usahaku untuk mencari telah berakhir. Karena aku merasa, saat dia disisiku seluruh dunia dan bahagia adalah milikku. Mengapa sulit rasanya untuk menemukan kebahagiaan untukku? Apa aku tak layak? Ingin rasanya aku bertanya pada-Mu langsung. Haruskah aku kesana? Agar aku bisa berbagi dengan-Mu, memeluk-Mu, bersandar pada-Mu, mencurahkan segala kekecewaanku pada-Mu.

Perih rasanya. Tak dapat kuungkapkan betapa perih hatiku menerima semua ini. Masih tak dapat aku percaya bahwa dia bisa melakukan hal ini. Aku tahu, menerimanya kembali sama saja membuka jahitan lukaku yang hampir sembuh. Tapi aku rela, karena aku sadar bahwa hanya dialah duniaku, dialah tempatku berbagi, dialah yang kusayangi, dialah yang memenuhi ruang hatiku, seluruhnya, tanpa terkecuali.

Kupikir, Kau kembalikan dia lagi di sini, di sisiku, di hatiku, di pikiranku, karena Kau ingin menyatukan kami, karena Kau hanya memberi kerikil-kerikil kecil untuk kami. Tapi nyatanya, hanya karena wanita itu, wanita yang.... ah sudahlah... aku tak ingin lagi mengingat karena apa dia meninggalkanku. Aku hanya.... aku hanya kecewa. Kecewa dia meninggalkanku untuk wanita lain. Kecewa menyadari hatinya telah diisi oleh wanita lain. Kenapa dia berubah? Kenapa dia tega? Kenapa dia tak menyadari bahwa tak mudah bagiku untuk berjuang sejauh ini? Kenapa dia lupakan semuanya? Aku tak tahu apa yang merasuki pikirannya hingga dia tega memutuskan untuk meninggalkan aku. Yang aku ingat, aku telah memaafkannya berulang kali walau dia tetap melakukan salah yang sama. Tapi tak sadarkah dia, bahwa aku perlu hati yang lapang untuk melupakan semua kesalahannya? Memaafkannya lagi dan lagi. Mencoba percaya lagi padanya. Tapi kenapa dia tak pernah menghargai akan setiap kesempatan dan maaf yang kuberi? Kenapa secepat dan semudah itu dia mengambil semua keputusan ini? Bahkan setelahnya, seakan dia tak peduli betapa hancurnya aku, tak peduli lagi kabarku, tak peduli lagi apakah aku baik- baik saja atau tidak. Setidaknya dulu, disaat dia memilih meninggalkanku, dia masih memperhatikan aku setiap hari, seperti biasanya. Ucapan selamat pagi, semua perhatian yang biasa dia berikan padaku tak berkurang. Tapi kenapa sekarang semua berbeda? Apa kelebihan wanita itu dibanding aku? Apa yang membuat dia terhipnotis akan wanita itu? Aku tahu aku tak selalu ada di dekatnya, tapi aku selalu bisa menjaga setiaku untuknya. Kenapa dia tidak? Kenapa dia lupakan semua impian dan tujuan kami kembali bersama dulu.

Sakit rasanya tak pernah dianggap berharga dan istimewa dalam hidupnya. Sakit rasanya mengetahui bahwa aku bukan bahagia yang dia cari. Semua berubah, semua berubah semenjak dia mengenal wanita itu. Semakin dekat dan semakin dekat lagi padanya setiap hari. Tak sadarkah dia bahwa aku disini rela menghabiskan begitu banyak waktuku untuk menunggunya mewujudkan semua janji-janjinya? Tak ingatkah dia bahwa kami pernah ingin bersama sampai tua nanti? Hingga aku jadi yang sah mendampinginya, hingga aku jadi ibu dari anak-anaknya. Hingga rambut kami memutih, hingga tubuh kami renta dan seluruh kekuatan kami menghilang. Hingga yang tertinggal hanyalah kasih sayang, kebiasaan bersama, kebiasaan untuk saling menyayangi dan saling mengisi satu sama lain hingga ajal memisahkan. Apakah dia masih mengingatnya? Mengingat akan semua impian kami, yang mungkin, kini hanya jadi impianku saja :")

Friday, August 22, 2014

Just For You :)

Hei kamu, iya kamu. Kamu yang selalu bisa buat aku tersenyum. Kamu yang selalu bisa buat aku bahagia dengan hal-hal kecil yang kamu lakuin. Kamu.... pria yang sangat baik buat aku :)

Begitu banyak orang yang merasa aku bodoh, bahkan sangat bodoh karena masih mengharapkan kamu, karena masih ingin tetap mempertahankan kamu disini, walaupun kamu yang minta untuk pergi karena merasa semua yang kamu rasain ke aku udah beda.

Aku gak memaksa kamu untuk punya perasaan yang sama seperti dulu lagi. Aku nggak akan memaksakan kehendakku yang membuat orang lain merasa terpaksa dan keberatan. Aku... hanya ingin tetap menyayangi kamu dengan tulus, tetap memberikan perhatian yang biasa aku kasih ke kamu, tetap ngasih kamu support. Aku nggak ingin kemana-mana.

Tolong, jangan larang aku untuk tetap menyayangi kamu dari sini. Jangan larang aku untuk tetap merhatiin kamu, ngasih kamu semangat, ngasih kamu dukungan, ngasih kamu semua ketulusan yang aku punya. Aku nggak akan minta kamu balas dengan perlakuan yang sama. Aku... hanya percaya semua yang kamu lakuin bukanlah dari lubuk hati kamu yang sebenarnya. Perasaan aku bilang, kalo kamu hanya butuh waktu untuk berpikir, aku percaya saat ini kamu hanya khilaf. Toh dulu aku pernah banyak melakukan khilaf yang sama. Meskipun nggak pernah ada keinginan dari kamu untuk mempertahankan aku seperti apa yang aku lakukan.

Aku hanya mempertahankan apa yang aku rasa layak dipertahankan. Mungkin kamu pikir dengan kamu pergi aku akan membenci dan berusaha melupakan kamu, ngebuka hati aku untuk yang lain, dan mendapatkan pria yang (kamu bilang) lebih baik. Tapi kamu nggak akan berhasil. Kalo kamu ngerasa udah lemah dan mau stop di level ini, nggak begitu halnya dengan aku. Semua ini justru akan semakin membuat aku kuat melatih kesabaran aku buat kamu. Aku akan tetap berjuang dengan atau tanpa kamu.

Jangan kamu pikir dengan kamu berbuat seperti ini, aku akan benci sama kamu, menghapus begitu aja semua kebaikan-kebaikan yang kamu kasih ke aku. Memang, kata orang, karena nila setetes, rusak susu sebelanga. Tapi aku bukan tipe orang yang langsung menjudge orang hanya karena satu kesalahan.

Kamu sendiri yang nulis di cerpen kamu, bahwa "Pindah ke lain hati, tak semudah mengganti jenis rokok yang akan dihisap. Melupakan kenangan bersama seseorang, tak semudah menghembuskan asap rokok yang dihisap. Karena masalah hati, tak semudah mengganti rokok yang sudah tidak cocok dengan mulut".

Walaupun aku nggak tau rasa rokok itu seperti apa, tapi aku ngerti, aku paham. Semua tersirat dari apa yang kamu tulis. Aku hanya meyakini apa yang aku ingin yakini. Tolong jangan berusaha untuk membuat aku membenci kamu. Kamu boleh merasa perasaan kamu ke aku udah beda, udah hilang. Tapi jangan paksa aku untuk melakukan hal yang sama. Karena aku melakukan semua ini bukan semata-mata hanya karena aku sayang sama kamu, bukan, bukan itu. Karena sayang itu ngga harus memiliki kan? Tapi aku ingat, aku ingat akan janji aku untuk nggak kemana-mana, untuk tetap disini nemenin kamu, ngga peduli gimana perasaan aku ke kamu. Aku ingat kita (pernah) punya tujuan yang sama, untuk nggak main-main lagi, untuk nggak ngegampangin hubungan kita lagi kayak dulu. Aku nggak menyalahkan kamu kalo kamu ingin nyerah, karena mungkin kapasitas kita berbeda. Dan ada sesuatu yang nggak aku tahu di dalam sana, di dalam relung hati kamu. Walaupun mungkin kalo aku tau, itu akan menyakitkan, aku nggak peduli.

Sekalipun apa yang orang lain katakan tentang kamu itu benar, aku nggak akan kecewa. Maksudku, aku akan berusaha supaya nggak kecewa. Mungkin nanti, aku akan mengikhlaskan kamu atas apa yang kamu pilih, atas apa yang kamu rasa bisa membahagiakan kamu.

Aku tau kamu seperti ini karena kamu berada di puncak titik jenuh kamu. Karena aku nggak bisa selalu berada di dekat kamu, karena waktu kamu terlalu padat untuk cari nafkah sekaligus ngejar harapan untuk ngebuat hidup kamu lebih baik kelak. Jadi, aku nggak bisa nyalahin kamu kalo kamu terjebak rasa nyaman dengan orang lain, wanita lain, yang mungkin ada satu hal dari diri dia yang hampir sama dengan aku, yang nggak kamu dapat dari aku, sehingga semakin lama, kamu semakin nggak bisa menarik diri dari apa yang sebenarnya salah. Aku hanya nggak ingin berpikir picik. Karena aku pernah merasakan hal yang sama kayak kamu, rasanya nggak adil kalau aku berhenti hanya karena hal ini.

seandainya kelak kamu bertemu dengan wanita yang kamu inginkan, yang bisa jadi apa yang kamu mau, yang mengerti kamu, bahkan yang mungkin, lebih tulus dari aku, aku tetap akan turut berbahagia buat kamu. Hanya saja, aku nggak akan berhenti untuk sayang sama kamu. Karena kebaikan kamu, jauh lebih banyak daripada perlakuan-perlakuan buruk kamu ke aku.

Aku hanya berharap, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Seandainya memang dia yang kamu harapkan, aku hanya ingin bilang aku nggak akan benci sama kamu. Aku akan tetap sayang sama kamu, selalu. I will always love you, jey. As Always, I always will :)

Wednesday, August 13, 2014

I do really miss the old you :')

Hei. Udah lama kayaknya Riana ga posting di blog usang ini, hehe. Hari ini Riana mau posting lagi nih. Tapi sedikit cerita duka sih kayanya. Ya ngga apa-apa kan ya sekali-kali sedih mah. Ini cuma luapan perasaan aja, nggak salah kan yah? Hehe :')

Sampai saat ini, sebenernya gue masih ga nyangka sih kita masih bisa bertahan. Dari hari ke hari semua rasanya makin berubah, makin banyak ujian. Tapi tetep kok, nggak mengurangi rasa sayang gue ke dia.

Gue kangen banget dianggep istimewa sama dia, gue tau sekarang nggak lagi sama kayak dulu, gue coba buat terima. Karena toh memang semua pasti akan berubah kan? Udah hukum alam. Usia, fisik, begitu juga perasaan.

Dulu dia yang terlalu sayang sama gue. Tapi sekarang, semua seakan terbalik. Gue tahu perasaan dia udah ngga sedalam dulu. Cara dia ngomong ke gue, bahasa tulisannya waktu bbm gue, semua berubah. Jujur, dia yang sekarang emang lebih bisa bahagiain gue dengan hal-hal kecil yang dia lakuin. Ga cuma sekedar kata-kata aja kayak dulu, waktu kita SMA. Waktu semua yang kita lakuin, walaupun cuma ngobrol, rasanya kikuk banget. Tapi jujur gue kangen, kangeeeeeen banget sama dia yang dulu. Kangen saat gue ngerendahin diri dan ngerasa paling aneh, paling jelek dan paling beast lah pokoknya, dia bilang cuma gue yang paling cantik buat dia. Ya walaupun gue tau gue nggak cantik, gue selalu ngerasa istimewa saat dia bilang cuma gue yang cantik di matanya. Sekarang, gue nggak pernah denger, atau setidaknya baca bbm dari dia yang bilang cuma gue yang cantik di matanya, kayak dulu. Dan yang bikin gue sedih, ternyata dia nggak inget semua itu. Saat gue bilang kalo gue kangen dulu, kangen beberapa hal yang dulu sering dia bilang ke gue,
he just said : apa? Aku lupa. Aku emang pelupa :( (ga lupa dengan emoticon yang jujur aja, gue selalu sebel liatnya).

Gue juga iri sama cewek-cewek lain. Kayaknya, pacarnya bangga banget punya pacar kaya mereka. Di tag path di tiap moment yang di post cowoknya, di tag path di location waktu lagi jalan bareng sama cowoknya, atau kalo ceweknya post moment atau tag location, cowoknya pasti ninggalin comment. Sampe kalo ceweknya upload foto editan berdua beserta ucapan waktu mereka anniversary pun, pasti cowoknya ikutan repath dan ngasih comment yang sweet. Disitu gue bisa lihat kalo cowoknya pasti bangga dan bahagia banget deh punya cewek kayak dia. Kayak yang lain. Yang ngelakuin hal-hal serupa. Gue... cuma pengen aja pacar gue ngerasa bangga punya gue. Ya mungkin gue belum secantik dan sesempurna bidadari kaliya kayak cewek-cewek lain, makanya dia malu mungkin, untuk tag path di tiap moment saat lagi sama gue.

Sedih sebenernya, karena dia pun nggak sadar kalo selama ini udah berubah. Justru hal-hal kecil yang sering dia bilang dulu yang bikin gue kangen sama dia. Iya dia, dia yang dulu lebih tepatnya.

Honestly, gue kangeeeen banget jey sama lo yang dulu, gue pengen lo tahu dan sadar sendiri akan semua perubahan lo. Tapi nyatanya lo lupa. Lupa kalo lo pernah bilang cuma gue yang paling cantik di mata lo. Lupa kalo gue pernah jadi yang paling cantik buat lo. Gue ngga tau apa yang ngebuat lo berubah. Mungkin sekarang ini udah terlalu banyak cewek cantik di sekeliling lo, sampe mata lo lupa kalo dulu cuma gue yang bisa lo bilang cantik (setidaknya yang gue denger). Tapi gue nggak akan nuntut banyak kok, gue udah bersyukur lo bisa banyak berubah, udah bisa tahu banyak cara buat bahagiain gue dengan hal-hal kecil yang lo lakuin. Ya, walaupun perubahan lo ngebuat hal-hal kecil yang dulu bikin gue bahagia juga hilang :')

Monday, May 12, 2014

Mungkin Lukaku Tak Terlihat, Tapi Mutlak Membekas.

Pernahkah kau merasa dikecewakan seseorang ketika kau berharap terlalu dalam padanya, namun dia menghempaskan harapanmu seketika? Pernahkah kau merasa telah memberikan yang terbaik dari yang kau punya tapi ia tak merasa dirimu adalah bagian hidupnya yang berharga? Pernahkah kau belajar menyayangi seseorang dari nol dan akhirnya benar-benar menyayanginya mendekati sempurna, tapi sikapnya membuatmu berpikir kembali bahwa mungkin kau telah salah jika membuka hatimu untuknya?

Ya. Aku pernah.
Mungkin lukaku tak terlihat, tapi mutlak membekas. Tak pernahkah ia berpikir bahwa aku merelakan semua waktuku hanya untuk menunggunya? Tak pernahkah ia menghargaiku atas usahaku untuk mempertahankannya dan mengesampingkan pikiranku untuk membanding-bandingkannya dengan yang lain? Menghargai kesabaranku menantinya mewujudkan segala janji-janji(busuk)nya? Pernahkah ia berpikir bahwa apa yang dilakukannya telah menyakiti perasaanku? Kurasa tidak. Karena laki-laki memang diciptakan untuk selalu merasa benar.

Lelah rasanya selalu mencoba bertahan untuk terus bersamanya. Aku tahu aku menyayanginya dan kurasa tak ada salahnya mempertahankan apa yang menurutku baik untuk dipertahankan. Tapi rasanya sekarang sudah terbalik, mungkin dia berpikir aku akan memohon, memintanya tetap disisiku dan mengingat janjinya saat kami menapaki titik awal. Tapi aku takkan melakukannya. Aku hanya ingin mengingatkannya bahwa aku tak pernah memintanya memberikanku layaknya semua laki-laki memberikan apa yang wanitanya inginkan, meskipun dalam hati aku menginginkannya. Aku tak pernah menuntutnya selalu ada disisiku, menuntutnya kemana dia harus melangkah, menuntut dia jadi apa yang kumau. Tidakkah dia sadar rasa lelahku sudah di ufuk barat jikalau diibaratkan sang mentari yang sebentar lagi digantikan malam. Habis. Gelap.

Aku hanya ingin ia sadar. Aku lelah memberinya kesempatan berulang kali yang hanya disia-siakannya. Tidakkah ia menyadari aku menutup diri dari yang lain hanya untuk dia? Menunggu dia yang harusnya aku tahu bahwa aku selalu diberi ketidakjelasan?

Aku tak tahu jika suatu saat aku akan benar-benar berada pada titik lelahku yang paling ujung, apakah aku masih dapat membelanya di dalam hati dan tetap mengatakan bahwa dirinyalah yang terbaik? Aku hanya manusia biasa yang punya rasa lelah. Kali ini tak akan pernah lagi aku membuai diriku dengan keyakinan bahwa laki-laki yang tulus itu ada. Karena, percayalah, laki-laki yang tulus dan akhir bahagia hanya ada di novel teenlit.

Aku bukan melawan takdir Tuhan. Tidak. Aku hanya kecewa mengapa harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Aku tahu, toh kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan? Tapi salahkah jika aku berharap, hanya sedikit berharap, kelak aku bisa sedikit berbahagia dengan salah satu impianku. Menjadi tujuannya, menjadi pendampingnya, dan menjadi ibu dari anak-anaknya.

Inikah yang dia anggap...
Ah, sudahlah. Tak jarang aku diperlakukan seenaknya. Dan rasa-rasanya, aku layaknya taman wisata yang bisa kapan saja dia kunjungi disaat dia bosan, hanya disaat dia butuh hiburan. Tapi toh dia pasti meninggalkan aku karena aku bukan rumah tinggalnya, bukan prioritas utamanya.

Aku hanya berpikir semua terasa tak penting lagi. Aku benci ketidakjelasan. Jika memang kau laki-laki, akhirilah jika memang ingin ada kata akhir. Tapi tenang, aku masih punya banyak orang yang menyayangiku. Dan ternyata, sendiri itu tidak buruk dan sepertinya menyenangkan :)