Wednesday, August 13, 2014

I do really miss the old you :')

Hei. Udah lama kayaknya Riana ga posting di blog usang ini, hehe. Hari ini Riana mau posting lagi nih. Tapi sedikit cerita duka sih kayanya. Ya ngga apa-apa kan ya sekali-kali sedih mah. Ini cuma luapan perasaan aja, nggak salah kan yah? Hehe :')

Sampai saat ini, sebenernya gue masih ga nyangka sih kita masih bisa bertahan. Dari hari ke hari semua rasanya makin berubah, makin banyak ujian. Tapi tetep kok, nggak mengurangi rasa sayang gue ke dia.

Gue kangen banget dianggep istimewa sama dia, gue tau sekarang nggak lagi sama kayak dulu, gue coba buat terima. Karena toh memang semua pasti akan berubah kan? Udah hukum alam. Usia, fisik, begitu juga perasaan.

Dulu dia yang terlalu sayang sama gue. Tapi sekarang, semua seakan terbalik. Gue tahu perasaan dia udah ngga sedalam dulu. Cara dia ngomong ke gue, bahasa tulisannya waktu bbm gue, semua berubah. Jujur, dia yang sekarang emang lebih bisa bahagiain gue dengan hal-hal kecil yang dia lakuin. Ga cuma sekedar kata-kata aja kayak dulu, waktu kita SMA. Waktu semua yang kita lakuin, walaupun cuma ngobrol, rasanya kikuk banget. Tapi jujur gue kangen, kangeeeeeen banget sama dia yang dulu. Kangen saat gue ngerendahin diri dan ngerasa paling aneh, paling jelek dan paling beast lah pokoknya, dia bilang cuma gue yang paling cantik buat dia. Ya walaupun gue tau gue nggak cantik, gue selalu ngerasa istimewa saat dia bilang cuma gue yang cantik di matanya. Sekarang, gue nggak pernah denger, atau setidaknya baca bbm dari dia yang bilang cuma gue yang cantik di matanya, kayak dulu. Dan yang bikin gue sedih, ternyata dia nggak inget semua itu. Saat gue bilang kalo gue kangen dulu, kangen beberapa hal yang dulu sering dia bilang ke gue,
he just said : apa? Aku lupa. Aku emang pelupa :( (ga lupa dengan emoticon yang jujur aja, gue selalu sebel liatnya).

Gue juga iri sama cewek-cewek lain. Kayaknya, pacarnya bangga banget punya pacar kaya mereka. Di tag path di tiap moment yang di post cowoknya, di tag path di location waktu lagi jalan bareng sama cowoknya, atau kalo ceweknya post moment atau tag location, cowoknya pasti ninggalin comment. Sampe kalo ceweknya upload foto editan berdua beserta ucapan waktu mereka anniversary pun, pasti cowoknya ikutan repath dan ngasih comment yang sweet. Disitu gue bisa lihat kalo cowoknya pasti bangga dan bahagia banget deh punya cewek kayak dia. Kayak yang lain. Yang ngelakuin hal-hal serupa. Gue... cuma pengen aja pacar gue ngerasa bangga punya gue. Ya mungkin gue belum secantik dan sesempurna bidadari kaliya kayak cewek-cewek lain, makanya dia malu mungkin, untuk tag path di tiap moment saat lagi sama gue.

Sedih sebenernya, karena dia pun nggak sadar kalo selama ini udah berubah. Justru hal-hal kecil yang sering dia bilang dulu yang bikin gue kangen sama dia. Iya dia, dia yang dulu lebih tepatnya.

Honestly, gue kangeeeen banget jey sama lo yang dulu, gue pengen lo tahu dan sadar sendiri akan semua perubahan lo. Tapi nyatanya lo lupa. Lupa kalo lo pernah bilang cuma gue yang paling cantik di mata lo. Lupa kalo gue pernah jadi yang paling cantik buat lo. Gue ngga tau apa yang ngebuat lo berubah. Mungkin sekarang ini udah terlalu banyak cewek cantik di sekeliling lo, sampe mata lo lupa kalo dulu cuma gue yang bisa lo bilang cantik (setidaknya yang gue denger). Tapi gue nggak akan nuntut banyak kok, gue udah bersyukur lo bisa banyak berubah, udah bisa tahu banyak cara buat bahagiain gue dengan hal-hal kecil yang lo lakuin. Ya, walaupun perubahan lo ngebuat hal-hal kecil yang dulu bikin gue bahagia juga hilang :')

Monday, May 12, 2014

Mungkin Lukaku Tak Terlihat, Tapi Mutlak Membekas.

Pernahkah kau merasa dikecewakan seseorang ketika kau berharap terlalu dalam padanya, namun dia menghempaskan harapanmu seketika? Pernahkah kau merasa telah memberikan yang terbaik dari yang kau punya tapi ia tak merasa dirimu adalah bagian hidupnya yang berharga? Pernahkah kau belajar menyayangi seseorang dari nol dan akhirnya benar-benar menyayanginya mendekati sempurna, tapi sikapnya membuatmu berpikir kembali bahwa mungkin kau telah salah jika membuka hatimu untuknya?

Ya. Aku pernah.
Mungkin lukaku tak terlihat, tapi mutlak membekas. Tak pernahkah ia berpikir bahwa aku merelakan semua waktuku hanya untuk menunggunya? Tak pernahkah ia menghargaiku atas usahaku untuk mempertahankannya dan mengesampingkan pikiranku untuk membanding-bandingkannya dengan yang lain? Menghargai kesabaranku menantinya mewujudkan segala janji-janji(busuk)nya? Pernahkah ia berpikir bahwa apa yang dilakukannya telah menyakiti perasaanku? Kurasa tidak. Karena laki-laki memang diciptakan untuk selalu merasa benar.

Lelah rasanya selalu mencoba bertahan untuk terus bersamanya. Aku tahu aku menyayanginya dan kurasa tak ada salahnya mempertahankan apa yang menurutku baik untuk dipertahankan. Tapi rasanya sekarang sudah terbalik, mungkin dia berpikir aku akan memohon, memintanya tetap disisiku dan mengingat janjinya saat kami menapaki titik awal. Tapi aku takkan melakukannya. Aku hanya ingin mengingatkannya bahwa aku tak pernah memintanya memberikanku layaknya semua laki-laki memberikan apa yang wanitanya inginkan, meskipun dalam hati aku menginginkannya. Aku tak pernah menuntutnya selalu ada disisiku, menuntutnya kemana dia harus melangkah, menuntut dia jadi apa yang kumau. Tidakkah dia sadar rasa lelahku sudah di ufuk barat jikalau diibaratkan sang mentari yang sebentar lagi digantikan malam. Habis. Gelap.

Aku hanya ingin ia sadar. Aku lelah memberinya kesempatan berulang kali yang hanya disia-siakannya. Tidakkah ia menyadari aku menutup diri dari yang lain hanya untuk dia? Menunggu dia yang harusnya aku tahu bahwa aku selalu diberi ketidakjelasan?

Aku tak tahu jika suatu saat aku akan benar-benar berada pada titik lelahku yang paling ujung, apakah aku masih dapat membelanya di dalam hati dan tetap mengatakan bahwa dirinyalah yang terbaik? Aku hanya manusia biasa yang punya rasa lelah. Kali ini tak akan pernah lagi aku membuai diriku dengan keyakinan bahwa laki-laki yang tulus itu ada. Karena, percayalah, laki-laki yang tulus dan akhir bahagia hanya ada di novel teenlit.

Aku bukan melawan takdir Tuhan. Tidak. Aku hanya kecewa mengapa harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Aku tahu, toh kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan? Tapi salahkah jika aku berharap, hanya sedikit berharap, kelak aku bisa sedikit berbahagia dengan salah satu impianku. Menjadi tujuannya, menjadi pendampingnya, dan menjadi ibu dari anak-anaknya.

Inikah yang dia anggap...
Ah, sudahlah. Tak jarang aku diperlakukan seenaknya. Dan rasa-rasanya, aku layaknya taman wisata yang bisa kapan saja dia kunjungi disaat dia bosan, hanya disaat dia butuh hiburan. Tapi toh dia pasti meninggalkan aku karena aku bukan rumah tinggalnya, bukan prioritas utamanya.

Aku hanya berpikir semua terasa tak penting lagi. Aku benci ketidakjelasan. Jika memang kau laki-laki, akhirilah jika memang ingin ada kata akhir. Tapi tenang, aku masih punya banyak orang yang menyayangiku. Dan ternyata, sendiri itu tidak buruk dan sepertinya menyenangkan :)

Thursday, March 20, 2014

Tuhan, Salahkah Aku Mengeluh?

Life is never flat. Ya, kata itulah yang sering kulihat saat commercial break produk makanan ringan menjeda acara televisi favoritku.

Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, hatiku gelisah tak menentu, entah memikirkan apa. Segera kuambil wudhu dan melakukan sholat Isya.

Rasanya sedikit lebih tenang, tapi tak menghilangkan rasa sesakku akan banyak pemikiran tentang hidup. Terlebih kehidupan pribadiku. Masalah keluarga, pekerjaan, hingga kadang masalah cinta seringkali membuat aku banyak berpikir.

Mengeluh. Ya, tak jarang aku mengeluhkan banyak hal dari hidupku. Kadang merasa bahwa Tuhan tak adil. Kehidupanku yang serba kurang jadi salah satu alasan nya.
Kadang aku iri melihat teman sebayaku berbahagia atas apa yang mereka miliki. Sedangkan aku? Rasanya tak ada satupun yang dapat membuatku berbahagia saat ini.

Tuhan, salahkah jika aku mengeluh? Maafkan aku karena lebih sering mengeluh daripada bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu. Aku sadar begitu banyak hal yang seharusnya aku syukuri ketimbang memikirkan apa yang harus aku keluhkan dari sekian banyak pemberian-Mu. Tapi jujur, sesak rasanya menahan semua ini. Kadang aku berpikir apakah aku tak pantas merasakan kebahagiaan dari-Mu? Aku tahu itu tak kekal, tapi bolehkah aku meminta?

Aku tak minta jadi orang yang bergelimang harta, punya mobil mewah, rumah seperti istana, tinggal tunjuk saat aku menginginkan sesuatu untuk jadi milikku saat itu. Tidak. Aku hanya ingin bahagia dalam kecukupan.

Tuhan maafkan aku karena telah mengaku bosan atas cobaan yang selama ini Kau berikan. Aku hanya jenuh dan berharap bahwa Engkau akan memberikan jawaban atas semua ujian ini dengan segera. Percayalah, aku masih berharap semua ini hanya mimpi. Semoga saat aku bangun keesokan hari, cerita hidupku akan berjalan indah hingga akhir nanti dan selamanya.

Wednesday, February 19, 2014

How to beat your ego?

Manusia nggak pernah puas. Ya, pasti hati kecil kita pernah bilang kayak gitu. Tapi sadarkah kita? Semua akan lebih dari sekedar cukup kalo kita selalu bersyukur, selalu berpikir kalo apa yang kita punya itu adalah yang terbaik yang Tuhan kasih. Sadarkah bahwa banyaaaaaak banget orang-orang yang nggak seberuntung kita saat ini? Nggak bisa tinggal dirumah yang layak, nggak bisa dapet pendidikan yang baik, bahkan untuk makan aja kadang mereka bingung. Tapi kita? Selalu ngeluh. Jangankan tentang hidup. Nggak punya pacar, ngeluh. Punya pacar ga sesuai harapan, ngeluh. Ujungnya, nggak punya pacar lagipun, masih ngeluh juga. Serba salah kayak lagunya Raisa. It's so easy to complain that we don't have what we want. Hey, guys, life is to short to spend it with complaining!

Sadar nggak? Kadang kita suka ngejudge Tuhan nggak adil sama kita atas segala hal buruk yang pernah kita alami (hayooo ngaku!). Entah apapun itu. Misalnya, fisik, ekonomi, pasangan, sampai yang hidupnya termasuk udah beruntung juga masih banyak ngeluh. Jangan pernah lihat keatas, karena kita pasti akan selalu ngerasa kurang. Coba deh, lihat kebawah. Kamu pasti akan ngerasa jauuuuuuuh lebih beruntung. Kata bijak yang bilang : "Tuhan itu ngasih apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan". And that's absolutely right. Karena Tuhan lebih tahu, apa yang kamu pengenin belum tentu baik buat kamu. Contohnya: kamu pengen hidup bergelimang harta tanpa harus susah payah nyarinya, alias udah keturunan darah biru. Kamu pasti nggak akan tahu cara menghargai apa yang kamu punya, karena kamu selalu bisa dapetin apa yang kamu pengen dengan sekali ucap. Beda ceritanya kalo orang sukses yang memulai semuanya dari nol. Terlebih dari orang-orang yang kekurangan pada awalnya. Pasti mereka akan menghargai apa yang mereka punya karena susah payah buat dapetinnya. Makanya, gue salut banget sama orang-orang yang struggle buat kerja sambil kuliah. Itu bukan hal gampang loh. Cuma kerja aja lelahnya bukan main, apalagi harus dituntut buat mikir pas nyambi kuliah. God bless them all....

Dan pertanyaan nya adalah :
"How to beat your ego?"
Gimana caranya ngalahin ego kita untuk selalu nuntut lebih atas apa yang udah kita punya di dalam hidup kita. Kuncinya cuma satu : BERSYUKUR.

Dan guepun sama, sama dengan manusia-manusia normal lainnya. Pengen segala sesuatunya berjalan seperti apa yang gue mau. But, in fact? Tuhan selalu kasih kebalikannya. Kadang gue ngerasa Tuhan ngga adil. Tapi hati kecil gue selalu bilang, ada saatnya nanti dimana semua akan berakhir dengan bahagia. Walaupun balik lagi ke poin awal : ga seperti yang kita pengenin, karena kita itu BUTUH bahagia, bukan sekedar PENGEN bahagia ;)

Sunday, January 19, 2014

Maaf, Aku Jenuh (Ending)

Tak terasa sebulan dilalui Almira tanpa kabar dari Dito. Almira mulai merasakan gusar, tiap malam yang ada di pikirannya hanya Dito, Dito, dan  Dito. Almira mulai berpikir untuk mengalah dan menghubungi Dito lebih dulu.

"Telpon, enggak, telpon, enggak, telpon, ah telpon aja deh, gue gak mungkin digantungin gini terus. Pahit ya pahit sekalian, Bismillah". Terdengar ucapan Almira yang masih ragu sebelum menekan tombol call di handphonenya

*tuuuuut..... tuuuuut..... tuuuuut*

Terdengar nada sambung yang begitu lama, menandakan bahwa sang empunya nomor yang dituju tak mengangkat adanya telpon masuk.

Almira mulai kebingungan dan tambah gusar, hingga tak terasa meneteskan air matanya (lagi). Akhirnya Almira memilih untuk mengirimkan pesan Whatsapp saja, setidaknya Dito pasti akan membacanya walaupun mungkin tak mau membalasnya.

Almira:
"Dito, maaf sebelumnya. Aku cuma mau tanya kejelasan kamu, kejelasan hubungan kita. Aku nggak bisa terus-terusan kamu gantungin gini terus, aku manusia, aku punya perasaan, bukan robot!".

Almira menunggu dan terus menunggu, Almira mencoba stalking akun-akun social media milik Dito, namun masih tak ada titik terang. Hingga kira-kira 2 jam lamanya, barulah ada balasan dari Dito.

*1 message received*

Dito:
"Al, maaf. Aku baru bisa whatsapp kamu, dan kayaknya lebih baik kita sendiri-sendiri aja. Maaf, tapi mungkin ini yang terbaik, aku bingung harus gimana. Salah aku yang nggak pernah bisa bikin kamu seneng, bikin kamu ngerasa kayak temen-temen kamu yang lain, dan aku juga lagi ada masalah yang nggak bisa aku ceritain sama kamu, yang ngebuat waktu aku makin kesita, yang pastinya makin nggak punya waktu buat kamu, dan ngebuat aku nggak fokus juga sama diri aku. Daripada kamu tambah jenuh, tambah bosen, lebih baik kita sendiri-sendiri dulu aja, Al. Mudah-mudahan kamu nggak bosen liat aku minta maaf. Maaf, sekali lagi maaf, Al.

Almira:
"Oh, gitu? Jadi segini aja? Oke, fine" Balas Almira singkat karena saking sesaknya ia melihat jawaban yang begitu ia tak inginkan keluar dari kata-kata Dito.

Almira:
"Aku pikir dengan aku ngalah, coba hubungin kamu duluan, bisa perbaikin semuanya yang udah kacau, tapi apa yang aku dapet? Seolah aku kaya sampah. Sia-sia. Nyesel aku ngehubungin kamu duluan kalo tau endingnya bakal kayak gini. Apa? Dimana yang kamu bilang perjuangan? Yang kamu bilang bertahan? Cuma segini aja? Bertahun-tahun kamu bikin aku seolah kayak orang bodoh. Buat apa kamu dateng lagi kalo akhirnya pergi lagi, hah, kamu punya idaman lain? jawab!" Emosi Almira meledak ke puncaknya hingga tak terasa bulir-bulir air matanya berjatuhan

Dito:
"Nggak kok, aku punya alasan yang nggak mungkin aku kasih tau sama kamu, Al. Rumit"

Seketika Almira merasakan pisau menancap di jantungnya, tak menyangka Dito akan begitu mudahnya mengakhiri ini semua.

Almira:
"Gila, gila, gila!!!! Hebat banget lo, Dit! Standing applause buat lo! Dateng, pergi, terus dateng, terus pergi, terus dateng, terus pergi lagi. Lo kira gue halte yang bisa lo datengin kapan aja lo mau? Duh, bodoh banget ya gue, selalu terjebak lagi dan lagi sama permainan lo. Haha stupid"

Dito:
"Aku ngga pernah punya niat, Al, buat mainin kamu, berpikir untuk punya niat pun enggak. Nggak taulah, Al. Aku cuma bingung harus gimana".

Almira:
"Hebat, Dit. Hebat banget lo. Disaat gue dari awal mencoba sayang, mulai nyaman, sampe akhirnya gue bener-bener sayang. Dan saat itu juga lo tinggalin gue, makasih, makasih banget".

Dito:
"Al, udah ya, Al, udah"

Almira:
"Lo lupa, ya, alasan lo balik lagi, lo bilang coba buat memperbaiki, dan "katanya" sih mau bertahan, jadi cuma segini aja? Cuma disini aja?"

Dito:
"Al, udah kek, Al udaaaaah, stop".

Almira:
"Oke, semoga lo bahagia dengan pilihan lo, dan semoga dapet pengganti yang gak egois, yang bisa selalu support lo apapun keadaan lo".

Satu jam, 2 jam, hingga 3 jam Almira menunggu, namun nihil, tak ada balasan apapun dari Dito. Jam sudah menunjukkan pukul 03.45. Almira saat ini masih terjaga dan mata nya kini sembab karena menangis tersedu sedan. Padahal esoknya, ia harus kembali menjalankan rutinitasnya, harus tetap kuliah seperti biasanya. Tapi rasanya Almira ingin bolos saja. Karena Almira tak pernah merasa sekacau ini sebelumnya..

Almira memutar lagu-lagu di handphonenya, lagu yang selalu mengingatkan nya pada Dito : David Cook - Always Be My Baby dan Yovie and The Nuno - Sempat Memiliki. Tak bosan ia selalu me-repeat 2 lagu itu sampai telinganya merasa lelah. Almira tak bisa berhenti menangis. Hingga kini tak terasa bantalnya telah basah oleh bulir-bulir air matanya. Lembar tissue bertebaran dimana-mana, kamar Almira terlihat sangat kacau, sekacau pikiran dan perasaannya saat itu.

"Ya ampun, Dit. Apa lo tau disini gue nangisin elo. Apa lo tau sakit yang gue rasain kaya apa, jelasin, Dit, sama gue lo kenapa. Kenapa, Dit!!" Seru Almira saat bercermin melihat dirinya yang saat ini sangat berantakan.

Jam menunjukkan pukul 04:45. Almira sadar ia harus tetap tidur walau hanya 2-3 jam. Almira mulai merasakan pusing hebat di kepalanya. Hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah. Dengan segera ia mengambil selembar tissue dan mengelap sisa sisa darah yang keluar dari hidungnya. Sebelum tidur, ia mencari buku diary usangnya yang ia ingat masih bisa dijadikkannya tempat untuk mencurahkan isi hati. Almira sesegukan membuka lembar kosong di dalamnya, seraya menggoreskan pena dan memulai cerita dukanya.

Sabtu, 18 Januari 2014

"Selamat tinggal, Dit. Selamat menjalani hari-hari lo yang indah tanpa gue. Selamat berbahagia dengan wanita lo yang lain, yang bisa nerima apapun keadaan lo dan nggak pernah ngeluh jenuh sama semua perhatian lo yang tulus. Maaf, dari awal emang gue terlalu bodoh untuk sadar, kalo gue nggak pernah pantes buat lo. You're too good to be mine, Dit. Terima kasih jagoanku, udah ngajarin aku rasanya menyayangi dan disayangi. Terima kasih sudah mau menghabiskan sebagian waktu dari hidupmu untuk wanita nggak penting macem aku. Terima kasih udah sudi nyediain bahu buat tempat aku bersandar, menangis, sampai nyembuhin sakit, hehe. Nggak tau kamu masih ingat atau enggak kalau aku sakit pasti pengennya nyender sama kamu. Tapi sekarang, kalo aku sakit nyendernya sama siapa dong? Aku nggak punya bahu lagi buat disenderin, nggak punya lengan lagi buat dipeluk, nggak punya seseorang lagi yang dijadiin teman berbagi. Mungkin ini hukuman buat aku. Aku tau betapapun aku menunjukkan kalo aku nggak pengen kehilangan kamu, kamu nggak akan peduli karena kamu nggak ngerasain luka yang sama. Mungkin kalo aku mati nanti, kamu baru sudi datengin aku kan, Dit. Baru sudi liat aku yang udah jadi gundukan tanah disaat aku nggak bisa lihat kamu lagi. Aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa hidup. Padahal aku cuma pengen habisin sisa hidup aku buat ketawa-tawa bareng kamu. Tapi yaudah, yang udah ya udah, aku sadar waktu nggak bisa balik lagi. Dan sekarang yang harus aku lakuin adalah move on! Yay! Semangat, Almira Shafila!".

Wajah Almira tampak semakin pucat, tapi ia tak ingin memberitahu Dito bahwa ia merasakan sakit luar biasa. Pikirnya, ia tak mau membebani Dito karena Almira tau masalah Dito sudah begitu banyak. Almira tak ingin dikasihani. Tak ingin orang yang disayanginya, menyayangi Almira karena kasihan.

"Lagipula Dito juga udah nggak peduli lagi sama gue, bales whatsapp gue yang udah kayak orang desperated gini aja dia cuma bales seperlunya". Batin Almira

Malam semakin larut, dan tak terasa hampir pagi.

4 lembar sudah diary usang Almira telah penuh dengan cerita dukanya. Saat ini Almira sudah sedikit lebih tenang, walaupun ia masih tetap tak percaya semua ini terjadi padanya. Dihati kecilnya, ia masih berharap semua ini hanya mimpi buruk yang keesokan harinya akan kembali normal. Masih ada sapaan hangat selamat pagi dari Dito, pertanyaan-pertanyaan Dito yang membosankan, dan lelucon-lelucon Dito yang sebenarnya tak pernah lucu.

"Aku kangen kamu, Dit. Aku pengen nyender dibahu kamu sekarang".

Almira menarik selimutnya, mencoba memejamkan mata dan meneteskan air matanya yang terakhir.

TAMAT

Saturday, January 18, 2014

Aku Cinta, Atau Hanya Persinggahannya Saja?

Tuhan, mengapa kebahagiaan rasanya sangat mahal untukku? Aku hanya butuh bahu untuk bersandar, lengan untuk dirangkul, dipeluk saat menangis, dihibur saat bersedih dan ungkapan sayang walau aku berkata aku jenuh bahwa setiap hari rasanya sama.

Apa salah jika aku jenuh? Aku tahu diri bahwa aku bukanlah hamba-Mu yang pandai mengucap syukur. Tapi apakah hamba-Mu yang sepertiku nyatanya juga tak layak merasakan kebahagiaan dari-Mu walau hanya sedikit?

Aku tak marah, karena aku tahu aku tak berhak untuk marah. Aku hanya bingung, apa maksud-Mu membuatnya datang (kembali) jika dia harus pergi (lagi)? Disaat aku mulai lengah dan menjatuhkan hatiku (lagi) padanya. Hingga kemudian tiba-tiba diretakkannya (lagi dan lagi). Apakah aku adalah cinta atau hanya dijadikan tempat persinggahannya saja? Entah apa yang dia sebut perjuangan, apa yang dia sebut bertahan, dan apa yang dia sebut kesabaran. Yang kutahu aku tulus menyayanginya.

Tak akan pernah kulupa kejutan-kejutan kecil darinya yang dia rasa tak pernah cukup dan aku anggap berarti, namun bagiku sebaliknya. Dan perjuangannya bertahan sejauh ini, walaupun egoku pada akhirnya selalu membuat dia menyerah dan pergi.

Terima kasih, laki-laki terbaik dan terhebat dihidupku, takkan pernah putus doa dariku agar kau bahagia disana, tentunya tanpaku :')

Wednesday, January 15, 2014

Maaf, Aku Jenuh (Part 2)

Sudah beberapa minggu Dito tak ada kabar. Memang semenjak Almira bertengkar dengan Dito, Dito lebih memilih untuk diam dan memberikan Almira keleluasaan untuk menenangkan diri.

"Entahlah aku nggak tau mau kamu apa, Dito. Aku capek". Gumam Almira dalam hati, sembari meneteskan air matanya.

Almira sadar bahwa ia salah. Tapi ia selalu merasa ragu untuk meminta maaf lebih dulu. Ia bingung harus memulainya dari mana. Entahlah apa yang sedang terjadi antara Almira dengan Dito.

Almira terlihat semakin tak bersemangat setiap harinya. Namun ia mencoba untuk menjalani hari-harinya seperti biasa, seakan tak ada masalah.

"Yaudahlah, let it flow aja. Terserah aja apa maunya dia. You're strong enough, Almira". Ucap Almira sembari mengepalkan tangannya saat ia sedang bercermin.

Almira duduk di meja belajarnya dan membuka buku diary yang telah lama ia abaikan, mungkin sudah 3 tahun lamanya, lembar-lembar di dalamnya tak ia tulis dengan cerita konyolnya.

Kamis, 9 Januari 2014
Dear, diary.
Maaf ya aku baru nulis lagi, abis aku nggak tahu apa yang harus aku bagi sama kamu. Karena apa yang pengen aku ceritain, pasti semua aku ceritain ke Dito. Iya, Dito teman SMA-ku dulu itu loh, yang nyebelin. Kamu pasti tahu kan. Aku bingung kenapa kami selalu memaksa untuk bersama, padahal kami tahu semua akan jadi rumit. Entah ini cobaan, atau hanya perasaan aku aja. Aku sayang sama dia, tapi kenapa rasanya sulit ya untuk bahagia sama dia? Apa belum saatnya? Orang-orang bilang semua akan indah pada waktunya. Tapi kapan, diary?

Almira termenung sesaat, memandangi layar handphone nya, entah apa yang sedang ia tunggu. Jam dinding di kamar Almira menunjukkan pukul 00.25 dan saat ini ia masih terjaga. Almira memutuskan untuk memutar lagu-lagu kesukaannya. Hingga akhirnya ia mulai mengantuk, dan tertidur.

*keesokan harinya*

*1 message received*
  From: Dito

Almira yang baru saja bangun tidur melihat notifikasi di handphone nya saat masih setengah sadar. Matanya berkedip sebelah menahan silau dari layar handphone nya.

"Dito?. Ah, salah liat nih gue kayaknya". Ucap Almira dengan suara sengau.

Sesegera mungkin Almira beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Setelah mengeringkan wajah dengan handuk kecil bergambar stitch kesayangannya, Almira melihat isi pesan yang tadi hanya ia lihat notifikasi nya.

Dito:
"Selamat tangggal 10 Januari :)"

Almira:
"Oh, masih inget kalo ini tanggal 10 Januari, Oh". Balas Almira sinis

Dito:
"Iya, aku inget. Dan akan selalu inget. Iya aku minta maaf karena udah cuekin kamu, kan katanya kamu bosen setiap hari aku tanya hal yang sama, makanya aku diem. Iya aku tau aku salah, karena emang aku selalu salah"

Almira:
"Kesel mah, ya kesel aja, nggak usah ditahan-tahan".

Dito:
"Iya, aku kesel. Makanya aku diem".

Almira:
"Gak taulah, gak mau mikirin".

Hening.....
Semenjak balasan Whatsapp terakhir yang Almira kirim, Dito tak pernah lagi mengabari Almira. Almira pun tak berbuat apa-apa, walaupun  hanya untuk sekedar menjelaskan pada Dito apa yang seharusnya mereka perbaiki.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, hingga hampir satu bulan Dito tak kunjung memberi kabar. Almira mulai khawatir dan gelisah. Tapi ia tetap saja keras kepala

"Kalau dia gentle pasti dia bisa selesain.semuanya kok". Batin Almira.

*bersambung*