Saturday, January 18, 2014

Aku Cinta, Atau Hanya Persinggahannya Saja?

Tuhan, mengapa kebahagiaan rasanya sangat mahal untukku? Aku hanya butuh bahu untuk bersandar, lengan untuk dirangkul, dipeluk saat menangis, dihibur saat bersedih dan ungkapan sayang walau aku berkata aku jenuh bahwa setiap hari rasanya sama.

Apa salah jika aku jenuh? Aku tahu diri bahwa aku bukanlah hamba-Mu yang pandai mengucap syukur. Tapi apakah hamba-Mu yang sepertiku nyatanya juga tak layak merasakan kebahagiaan dari-Mu walau hanya sedikit?

Aku tak marah, karena aku tahu aku tak berhak untuk marah. Aku hanya bingung, apa maksud-Mu membuatnya datang (kembali) jika dia harus pergi (lagi)? Disaat aku mulai lengah dan menjatuhkan hatiku (lagi) padanya. Hingga kemudian tiba-tiba diretakkannya (lagi dan lagi). Apakah aku adalah cinta atau hanya dijadikan tempat persinggahannya saja? Entah apa yang dia sebut perjuangan, apa yang dia sebut bertahan, dan apa yang dia sebut kesabaran. Yang kutahu aku tulus menyayanginya.

Tak akan pernah kulupa kejutan-kejutan kecil darinya yang dia rasa tak pernah cukup dan aku anggap berarti, namun bagiku sebaliknya. Dan perjuangannya bertahan sejauh ini, walaupun egoku pada akhirnya selalu membuat dia menyerah dan pergi.

Terima kasih, laki-laki terbaik dan terhebat dihidupku, takkan pernah putus doa dariku agar kau bahagia disana, tentunya tanpaku :')

Wednesday, January 15, 2014

Maaf, Aku Jenuh (Part 2)

Sudah beberapa minggu Dito tak ada kabar. Memang semenjak Almira bertengkar dengan Dito, Dito lebih memilih untuk diam dan memberikan Almira keleluasaan untuk menenangkan diri.

"Entahlah aku nggak tau mau kamu apa, Dito. Aku capek". Gumam Almira dalam hati, sembari meneteskan air matanya.

Almira sadar bahwa ia salah. Tapi ia selalu merasa ragu untuk meminta maaf lebih dulu. Ia bingung harus memulainya dari mana. Entahlah apa yang sedang terjadi antara Almira dengan Dito.

Almira terlihat semakin tak bersemangat setiap harinya. Namun ia mencoba untuk menjalani hari-harinya seperti biasa, seakan tak ada masalah.

"Yaudahlah, let it flow aja. Terserah aja apa maunya dia. You're strong enough, Almira". Ucap Almira sembari mengepalkan tangannya saat ia sedang bercermin.

Almira duduk di meja belajarnya dan membuka buku diary yang telah lama ia abaikan, mungkin sudah 3 tahun lamanya, lembar-lembar di dalamnya tak ia tulis dengan cerita konyolnya.

Kamis, 9 Januari 2014
Dear, diary.
Maaf ya aku baru nulis lagi, abis aku nggak tahu apa yang harus aku bagi sama kamu. Karena apa yang pengen aku ceritain, pasti semua aku ceritain ke Dito. Iya, Dito teman SMA-ku dulu itu loh, yang nyebelin. Kamu pasti tahu kan. Aku bingung kenapa kami selalu memaksa untuk bersama, padahal kami tahu semua akan jadi rumit. Entah ini cobaan, atau hanya perasaan aku aja. Aku sayang sama dia, tapi kenapa rasanya sulit ya untuk bahagia sama dia? Apa belum saatnya? Orang-orang bilang semua akan indah pada waktunya. Tapi kapan, diary?

Almira termenung sesaat, memandangi layar handphone nya, entah apa yang sedang ia tunggu. Jam dinding di kamar Almira menunjukkan pukul 00.25 dan saat ini ia masih terjaga. Almira memutuskan untuk memutar lagu-lagu kesukaannya. Hingga akhirnya ia mulai mengantuk, dan tertidur.

*keesokan harinya*

*1 message received*
  From: Dito

Almira yang baru saja bangun tidur melihat notifikasi di handphone nya saat masih setengah sadar. Matanya berkedip sebelah menahan silau dari layar handphone nya.

"Dito?. Ah, salah liat nih gue kayaknya". Ucap Almira dengan suara sengau.

Sesegera mungkin Almira beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Setelah mengeringkan wajah dengan handuk kecil bergambar stitch kesayangannya, Almira melihat isi pesan yang tadi hanya ia lihat notifikasi nya.

Dito:
"Selamat tangggal 10 Januari :)"

Almira:
"Oh, masih inget kalo ini tanggal 10 Januari, Oh". Balas Almira sinis

Dito:
"Iya, aku inget. Dan akan selalu inget. Iya aku minta maaf karena udah cuekin kamu, kan katanya kamu bosen setiap hari aku tanya hal yang sama, makanya aku diem. Iya aku tau aku salah, karena emang aku selalu salah"

Almira:
"Kesel mah, ya kesel aja, nggak usah ditahan-tahan".

Dito:
"Iya, aku kesel. Makanya aku diem".

Almira:
"Gak taulah, gak mau mikirin".

Hening.....
Semenjak balasan Whatsapp terakhir yang Almira kirim, Dito tak pernah lagi mengabari Almira. Almira pun tak berbuat apa-apa, walaupun  hanya untuk sekedar menjelaskan pada Dito apa yang seharusnya mereka perbaiki.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, hingga hampir satu bulan Dito tak kunjung memberi kabar. Almira mulai khawatir dan gelisah. Tapi ia tetap saja keras kepala

"Kalau dia gentle pasti dia bisa selesain.semuanya kok". Batin Almira.

*bersambung*

Saturday, December 28, 2013

Maaf, Aku Jenuh.

* 1 message received *

"Kamu udah makan belum?"

Entah itu kalimat yang sama untuk ke-berapa ratus kalinya yang Dito kirim untuk Almira.

Dito adalah pacar Almira sejak SMA. Entah sudah berapa kali mereka putus-nyambung karena sifat Almira yang kekanakan dan memutuskan hubungannya dengan Dito secara sepihak.

Dito pria yang dewasa, sedernana dan baik, namun membosankan menurut Almira. Sedangkan Almira adalah gadis biasa, yang menurut orang-orang disekelilingnya, ia baik dan ramah namun sedikit menyebalkan. Egois, moody, dan terkadang emosinya meledak-ledak. Tapi Dito menyayanginya dengan tulus.

Almira tahu menjalin hubungan dengan Dito akan terasa sama walaupun kini mereka sudah beranjak dewasa. Intensitas waktu mereka untuk bertemu sangatlah jarang. Apalagi sekarang Dito tidak hanya bekerja, tetapi juga kuliah. Jadilah sebagian besar waktu Dito tersita untuk urusan pekerjaan dan kuliahnya.

"Udah"

"Tadi makan apa?"

"Makan nasi goreng"

"Aku juga makan nasi goreng, tadi. Kamu lagi apa?"

Almira makin badmood tiap kali membaca isi pesan yang sama dari Dito setiap harinya. Sampai-sampai ia hafal akan urutan dari semua pertanyaan Dito untuknya.

"Bisa nggak sih tiap hari nggak usah nanya itu terus, bosen tau ngga!".

Stuck. Dito termenung sesaat setelah membaca balasan terakhir dari Almira. Dito tahu bahwa Almira saat ini pasti sedang jenuh padanya. Namun ia tetap mencoba bersikap baik pada Almira.

"Iya, iyaa :)"

Almira mengacuhkan balasan pesan Whatsapp terakhir dari Dito. Almira bingung. Ia sebenarnya sedih saat merasakan bahwa dirinya sedang jenuh pada hubungannya dengan Dito.

Dihati kecil Almira, sesungguhnya ia hanya ingin merasakan seperti teman-temannya, yang selalu bisa bersenang-senang bersama pacarnya tiap saat yang ia inginkan. Jalan-jalan, nonton bioskop, belanja sampai dinner romantis hanya ada di khayalannya. Jangankan dinner romantis, untuk bertemu Dito pun rasanya sulit. Kadang Almira berpikir, apakah hubungannya dengan Dito sebaiknya disudahi atau tidak. Almira merasa lelah. Tapi disatu sisi Almira berpikir, Dito adalah pria yang baik yang selayaknya dipertahankan.

"Dito kan cowok baik. Ya, meskipun dia membosankan. Apa pantes gue memperlakukan dia kayak gini?"

Tak sadar Almira mengucapkan kalimat itu saat melihat mie instan yang dimasaknya overcook.

"Yah, mie gue....."

Almira membawa mangkuknya ke meja makan, kebetulan saat itu ia sedang sendirian dirumah. Karena sedang memikirkan banyak hal tentang Dito, selera makan Almira jadi hilang.

"Dito, Dito. Lo baik sih, tapi kenapa harus ngebosenin?"

* 1 message received *

"Hai, sayang :). Kamu lagi apa? Udah makan belum?"

Lagi-lagi isi pesan yang sama Almira terima dari Dito. Almira tak membalasnya.

* 2 messages received *

"Kamu kenapa sih, sayang? Lagi ada masalah? Cerita sini sama aku"

* 2 messages unread *

Almira langsung mendelete semua notifikasi Whatsapp yang masuk dari Dito, tanpa ia baca satupun.

Dito cemas. Tapi Dito tahu mengapa Almira tak membalas satupun pesannya.

"Mungkin Almira jenuh sama aku yang nggak pernah bisa bikin dia bahagia". Gumam Dito dalam hati.

Almira menyetel lagu-lagu kesukaannya di handphone. Sampai akhirnya terputarlah lagu David cook - Always Be My Baby. Ini adalah lagu favorit Almira. Almira selalu teringat pada Dito tiap kali mendengar lagu ini. Seketika Almira teringat 2 pesan Dito yang ia abaikan.

"Dito, maafin aku ya. Jujur, aku emang lagi jenuh sama kamu, sama hubungan kita. Makanya aku selalu ketus tiap bales Whatsapp kamu"

"Iya, aku tau kok, Al kalo kamu lagi jenuh sama aku. Aku kan nggak sehari dua hari kenal kamu, sayang :)"

Dito tak pernah ketinggalan menyertakan emoticon smile dalam tiap pesannya untuk Almira.

"Yaudah, kamu maunya gimana? Mau kita break aja? Yang pasti aku nggak mau kita putus. Aku nggak mau ngelepas kamu lagi kaya yang dulu-dulu. Aku tau kok aku nggak pernah bisa kasih kamu lebih kayak cowok-cowok yang lain. Aku cuma cowok biasa yang cuma punya sedikit rencana masa depan yang Insya Allah buat kita. Apapun terbaik menurut kamu, aku pasti lakuin kok"

Seluruh rasa sesak yang ada didadanya, coba Dito tahan sebisa mungkin. Dito adalah tipe cowok yang tak mau kesedihannya diketahui oleh siapapun, sekalipun itu Almira, pacarnya sendiri.

Tak terasa airmata Almira mengalir. Dito selalu bisa membuat Almira menangis dengan kata-katanya yang menyesakkan.

"Maafin aku ya, Dit. Aku tau aku salah. Nggak seharusnya aku giniin kamu. Aku emang kayak anak kecil. Nggak pernah bisa ngertiin kamu"

"Nggak apa-apa kok, Al. Kalo kamu marah, sedih, kecewa, keluarin aja. Nggak usah kamu pendem. Ya, walaupun aku nggak bisa selalu disisi kamu, aku masih punya waktu kok kalo untuk dengerin curhatan kamu. Maafin aku ya, Al. Aku nggak pernah bisa jadi apa yang kamu mau"

Almira semakin menangis sesegukan membaca pesan dari Dito.

"Yaudah ya, Dit. Kita nggak usah bahas ini lagi. Aku yakin kok bakalan ada banyak jenuh aku yang lainnya setelah ini. Mungkin aku bukan tipe cewek ekspresif yang bisa ngungkapin sayangnya setiap hari. Tapi yang penting kamu tau kalo aku sayang kamu, Dit"

"Iya, aku tau kok, Al. Udah ya jangan nangis lagi. Muka kamu jelek tuh kalo nangis, coba deh ngaca :p"

Dito mencoba sedikit bercanda dengan Almira.

"Ih, Dito. Kamu tau darimana aku nangis?"

"Mata aku kan disekeliling kamu, sayang. Ya aku pasti tau lah"

"Dito, aku serius"

"Ya, kan aku bilang. Aku nggak sehari dua hari kenal kamu, Almira Shafila :)"

*bersambung*

Thursday, October 17, 2013

Masih Sehangat Dulu

Hei, pelukan ini rasanya tak asing. Tangan ini, bahu ini. Hangatnya masih sama, dan aku masih suka. Entah karena aku yang terlalu rindu bersandar dibahumu, atau memang bahumu terlalu nyaman? Aku tidak peduli :)

Sekian lama kita tak bertemu, aku tahu, kita bukan tak mencoba untuk saling melupakan. Saling memperlihatkan seolah kita baik-baik saja saat melepaskan satu sama lain, nyatanya tak membuat kita bahagia. Dan sekeras apapun kita berusaha menolak, nyatanya perasaan kita masih sama. Dan saat ini semuanya terjadi begitu saja. Bingung? Ya. aku juga sama sepertimu. Tak pernah mengerti mengapa akhirnya begini.

Aku hanya takut semua akan berakhir seperti dulu. Keegoisannku, hal utama dan yang paling sering membuatmu terluka. Maafkan aku karena membiarkanmu masuk lebih dalam lagi di kehidupanku. Maaf, karena aku selalu membuatmu lelah dengan keegoisanku. Dan maaf, karena rasa nyaman ini terlalu kuat hingga (masih) mengalahkan keinginanku untuk melihatmu bahagia dengan yang lain. Aku tahu kamu adalah yang terbaik untukku. Hanya saja, aku yang tak cukup baik untukmu.

Tapi Tuhan, disamping semua itu, terimakasih karena Engkau menciptakan pria sebaik dia untukku. Caranya memanjakanku, caranya mengistimewakan aku, caranya bicara padaku, membuatku nyaman saat berada di dekatnya. Dan terimakasih, karena bahunya masih sehangat dulu :)

Tuesday, September 17, 2013

Aku Tak Pernah Membencimu. Aku Hanya Mencoba Bersahabat Dengan Luka

Masih ingatkah kamu saat itu? Ya, tak terasa hampir setahun yang lalu. Kala itu tepatnya pertengahan bulan November. Namun aku tak begitu ingat ketika aku akhirnya bisa mengenalmu. Yang kuingat, selalu ada rasa sebal saat melihat wajahmu dulu. Tapi mungkin kamu terlalu sulit untuk peka. Peka untuk dapat membaca arti dari mimik wajahku saat melihat tingkahmu.

Sebal. Ya, berawal dari perasaan itu yang akhirnya entah kapan berubah jadi suka, kemudian sayang. Berawal saat kamu meminta nomor ponselku dan mencoba mendekatiku dengan obrolan-obrolan (sok) akrabmu. Mencoba memberiku segudang perhatian dan menawarkan tumpangan saat hendak berangkat dan pulang ke tempat tujuanku.

Aku tak tahu kapan tepatnya perasaan ini hadir. Perasaan nyaman yang membuat kita makin dekat. Rasanya, semua terjadi begitu cepat hingga akhirnya tiba-tiba kamu datang kerumah dan memintaku jadi pacarmu. Kaget bercampur bahagia mewarnai perasaanku saat itu. Kaget karena aku sadar awalnya aku membencimu, namun sekarang kebalikannya. Dan bahagia karena ternyata kamu punya perasaan yang sama.

Hari silih berganti, dan minggu berganti bulan. Aku masih merasa baik-baik saja dan bahagia denganmu. Aku tak ingat pasti apa permasalahan yang dulu memicu pertengkaran itu hingga akhirnya kita berpisah. Yang kuingat hanya setumpuk keegoisanku saat memaksamu untuk selalu mengerti aku. Sifatku yang menurutmu kekanakan. Yang selalu ingin dimengerti, namun tak pernah mencoba mengerti saat kamu berada di posisi yang sulit dan serba salah. Aku tak ingat apakah aku sedang PMS atau tidak, tapi entah kenapa aku marah sekali padamu. Mungkin rasa lelah menyulut emosi kita untuk berada dipuncaknya saat itu. Dan kamu bilang, kamu lelah kalau harus selalu mengalah.

Nyatanya memang benar bahwa penyesalan selalu datang belakangan. Setelah kamu menginginkan kita untuk berpisah, aku selalu berpikir untuk dapat memperbaiki semuanya. Kucoba untuk mengirim permohonan maafku padamu lewat pesan singkat. Mencoba menarik kembali kata-kataku yang membuatmu berhenti. Tapi semua sudah terlambat. Menangis sehari semalam pun takkan berguna untuk menarik kata-kata itu kembali. Tak pernah ada bosannya aku memohon maaf padamu setiap hari. Namun nihil, jangankan memaafkanku, membalas pesan singkatku pun kamu enggan. Sakit rasanya, saat  diabaikan oleh orang yang kita sayangi.

Seiring waktu berlalu, aku mencoba terbiasa tanpamu. Sangat sulit rasanya, sampai aku tak bisa berhenti menangis setiap malam. Cengeng memang, tapi aku tak pernah peduli. Aku selalu berdo'a pada Tuhan agar Ia memberiku kesempatan kedua, setidaknya untuk memohon maaf langsung padamu.

Tiba saatnya hingga aku merasa lelah. Lelah karena permohonan maafku tak pernah benar-benar kamu jawab. Lelah karena rinduku tak pernah kamu balas. Lelah karena selalu mendramatisasi efek dari perpisahan kita. Kadang aku berpikir, mungkin ini adalah caramu untuk membunuh perasaanku yang kamu tahu sudah tertanam begitu dalam.

Tak berhenti sampai disitu rasa sakit ini. Apalagi ketika kudengar kamu telah dekat dengan yang lain dan mengakuinya lewat percakapan kita beberapa waktu yang lalu. Sakit, amat sakit. Rasanya jantung ini berhenti berdetak beberapa detik. Dan hanya air mata yang mewakili bibir untuk mengungkapkannya, terlebih saat aku tahu bahwa dia yang merebut hatimu. Dia yang menawarkan dirinya sebagai mediator kita untuk kembali. Menjanjikan aku dan kamu pasti kembali. Ternyata, dia tak sepolos kelihatannya.

Setiap hari aku mencoba berpura-pura tegar. Mencoba dekat dengan yang lain, tapi nyatanya hatiku tak bisa. Perasaan ini tak bisa bohong jikalau celah-celah didalamnya selalu untuk kamu. Aku selalu mencoba untuk berpura-pura tak peduli, terlebih saat teman-temanku heboh mengadu padaku ketika mereka melihatmu menggandengnya. Memboncengnya dengan sepeda motormu yang kuingat dulu selalu aku yang berada diatasnya, dibelakangmu dan memelukmu dengan mesra sama persis seperti yang dia lakukan. Aku iri padanya, walau aku membencinya.

Jujur, aku tak pernah membencimu. Aku hanya mencoba bersahabat dengan luka. Berpura-pura bahagia walau nyatanya berduka. Berpura-pura benci walau nyatanya cinta. Berpura-pura tersenyum walau hatiku pedih melihat kenyataannya. Semua kepura-puraan ini hanya untuk menutupi luka di hatiku semata, yang kutahu takkan pernah hilang, walau selalu kucoba untuk mengobatinya.

Sudahlah, takkan ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Sudah saatnya untuk aku melangkah melanjutkan hidupku. Mewarnai hari-hariku meski tanpa kamu dan mencoba mencari pengganti yang kuharap bisa lebih baik darimu. Diantara banyak kesakitan ini aku bersyukur, tandanya Tuhan sayang padaku. Memisahkanku darimu mungkin salah satu Rencana-Nya agar aku dapat bertemu orang yang benar-benar tulus dan layak kujadikan sandaran. Setidaknya pengalaman ini memberikanku pelajaran untuk menghargai hal-hal kecil yang kupunya. Menjadikanku Hamba yang senantiasa bersyukur atas segala Karunia-Nya. Termasuk kamu, dulu :)

Requested by: Rofiana

Monday, September 16, 2013

Bahkan, Untuk Merasa Ingin Jatuh Cinta (Lagi) Pun Aku Enggan

Entah kenapa cuaca rasanya lebih sering terlihat mendung daripada menunjukkan keakrabannya. Apa mungkin dia tahu yang kurasakan akhir-akhir ini? Ah, sudahlah, mungkin itu hanya sugesti.

Aku tak pernah mengerti, bahkan saat kucoba untuk mengerti pun rasanya sulit. Mencoba untuk mengerti maksud dari semua ini. Maksud dari perlakuan mu yang akhirnya membuatku banyak berpikir. Berpikir apakah aku harus menghapus semua tentangmu dengan segera, atau membiarkannya berlalu begitu saja. Semua hanya masalah waktu.

Ya. Aku tahu semua ini hanya masalah waktu. Aku tahu menghapus semua tentangmu tak semudah membalik tahu goreng yang dimasak Mama di dapur. Aku hanya bingung, bingung menafsirkan makna ketika kamu bilang kamu rindu padaku, namun tak pernah terbalas dan kamu sebut itu adalah ironi yang kamu buat sendiri. Mungkin kamu lupa, disaat kamu bilang kamu rindu padaku, apa pernah kamu menyapaku walau hanya dengan ucapan "Hai" dalam sebuah pesan singkat? Seingatku, tak pernah. atau mungkin aku lupa. Entahlah, aku tak mau berlebihan mengungkitnya.

Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu bilang rindumu tak pernah kubalas? Bahkan, kalau untuk menyampaikan nya saja kamu enggan. Mungkin, kalau aku tak menyapamu lewat pesan singkatku lebih dulu kemarin, kamu tak akan menyapaku sampai Hari Raya Idul Fitri berikutnya tiba. Aku tak pernah meminta rasa rinduku kamu balas dengan hal yang sama. Aku hanya ingin kamu tahu, tak pernah sehari pun aku tak rindu padamu. Hanya saja aku malu untuk mengakuinya. Sampai akhirnya rasa rindu ini berada di puncaknya dan kurasa tak sanggup untuk memendamnya lebih lama, aku memilih untuk mengungkapkannya.

Senang rasanya, saat aku mengirim basa-basi-busuk lewat pesan singkat padamu dan kamu balas pesanku dengan ketikan emoticon-emoticon anehmu yang membuatku tersenyum. Lega rasanya, bisa menyampaikan rindu yang sudah tak terbendung ini padamu. Dan bodohnya, lagi-lagi aku merasa amat bahagia ketika aku tahu, kamu juga merasakan hal yang sama. Sempat aku berpikir, "Ah, mungkin ini hanya mimpi".

Ada rasa sedih bercampur bahagia, ketika kusarankan kamu untuk mencari yang lain yang bisa mengertimu, kamu bilang entah kenapa tak pernah bisa. Kamu bilang: "Bagaimana bisa aku bersama yang lain, jika yang kurasakan setiap harinya itu kamu, bukan dia. Jangankan hari ini. Kemarin, kemarin lusa, bahkan 3 tahun yang lalu pun aku ingat. Bagaimana bisa aku bersama yang lain, jika bersamamu terasa begitu berarti. Entah apa yang terjadi dengan otakku". Dan hal inilah yang membuatku bahkan, untuk merasa ingin jatuh cinta (lagi) pun aku enggan. Ah, lagi-lagi aku merasakan sesak yang sama.

Sampai akhirnya hari pun berganti. Keesokan hari dan lusanya kamu abaikan aku. Pikirku, "Ah, benar saja, semua itu hanya mimpi". Dan mencoba tersenyum sesudahnya. Aku mencoba berpikir positif atas apa yang kamu lakukan. Tapi entah mengapa setiap aku membaca thread percakapan kita sebelumnya, selalu ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatiku. Sampai akhirnya aku memilih untuk menghapusnya, yang kupikir dapat menghilangkan sedikit rasa sesak yang menggelayuti hatiku ketika membacanya. Nyatanya, rasa sesakku tak berhenti sampai disitu.

Aku selalu bicara pada hati kecilku, bahwa aku sangat menyesal membiarkan kamu tahu bahwa aku merindukanmu. Menyesal karena rinduku hanya kamu balas dengan percakapan singkat yang manis semalaman, yang pada keesokan harinya kamu lupakan. Andai saja kemarin lusa tak kucoba untuk memberanikan diri mengirimkan pesan singkat bodohku itu. Mungkin rasanya takkan sesesak ini.

Selalu ada hal baik dalam hal buruk yang bisa kita jadikan pelajaran. Aku amat menghargai keputusanmu jika kamu pikir dengan hal ini kamu bisa bahagia. Aku hanya berpesan, jaga dirimu, jaga hatimu, jaga ketulusanmu hingga kamu temui wanita yang pantas untukmu kelak. Terima kasih, karena pernah jadi yang terbaik dalam hidupku. Terima kasih, karena telah memberiku banyak memori indah selama kita bersama. Dan terima kasih, karenamu aku bisa belajar dari kesalahanku. Selamat tinggal, kamu yang begitu baik di hidupku :)

Sunday, September 15, 2013

Menjauh Pergi Dari Hidupmu

Entah kenapa selalu ada rasa sesak yang memenuhi ruang hatiku disaat aku ingat kamu, iya kamu. Kamu yang dulu pernah mengisi hari-hariku dengan segudang perhatian yang menurutku berlebihan. Kamu yang selalu jadi tempat bersandar disaat aku lelah. Kamu yang suka tiba-tiba datang membawa sekotak es krim dengan rasa kesukaanku. Kamu yang..... Ah sudahlah. Sepertinya tak akan pernah berguna menginginkan hal ini kembali.

Aku tahu aku adalah orang yang paling bodoh yang pernah menyia-nyiakanmu. Entahlah apa yang ada di pikiranku saat itu. Mungkin aku hanya sedikit lelah, atau mungkin sangat lelah? Aku yakin kamu tidak akan pernah mengerti atau mungkin enggan mencoba untuk mengerti. Aku tahu aku bukan wanita yang pantas untuk lelaki sebaik kamu. Aku sadar, bahkan sangat sadar akan hal itu sampai akhirnya kita berpisah. Ya, benar-benar berpisah. Dan dari perpisahan kita pun aku banyak belajar, bahwa kesempatan tak akan datang lebih dari 2 kali, bahkan hanya untuk sekedar memperbaiki.

Aku tak pernah berharap untuk bisa kembali. Kembali untuk jadi seseorang yang selalu kau rindukan, kembali untuk jadi seseorang yang bisa membalas pesan singkatmu dengan mesra, kembali jadi seseorang yang menurutmu "terbaik" walau nyatanya bukan. Tidak. Aku hanya berharap kita bisa jadi teman baik seperti dulu, jauh sebelum "rasa itu" hadir di hati ini, di hati kita berdua. Aku mencoba mengerti maksud hatimu untuk menjauh dariku. Mungkin semua itu kau lakukan karena tak ingin terluka dengan hal bodoh yang sama.

Mulai hari ini, detik ini. Akan kucoba untuk tak mengganggumu, walau hanya dengan sekedar update status cengeng saat mencoba untuk meng-kode-mu bahwa aku rindu padamu. Mulai hari ini, detik ini. Akan kucoba mengerti arti dari semua sikapmu. Sikapmu yang dingin, yang seakan tak peduli. Atau mungkin kau memang benar-benar tidak peduli? Entahlah. Namun aku hanya merasa sesak. Sesak yang kurasa selalu hadir saat aku mencoba berpura-pura tegar membiarkanmu pergi.

Tapi jika itu yang terbaik dan menurutmu bisa membuatmu bahagia, aku akan coba belajar. Belajar untuk menjauh pergi dari hidupmu. Belajar untuk tidak mempedulikanmu lagi seperti yang kau lakukan saat ini, walau kutahu akan sulit. Sulit rasanya percaya bahwa aku bisa menangis lagi. Menangis karena kesalahan yang kubuat sendiri. Menangis karena hal bodoh yang terulang berkali-kali.

Aku percaya, Tuhan pasti akan memberikan wanita terbaik untuk lelaki yang baik sepertimu. Jauh di dalam hatiku selalu ada do'a kecil yang kupanjatkan pada Tuhan untukmu. Keinginan kecil yang terucap dalam hati. Memohon agar kau selalu baik-baik saja disana, dan kelak akan bahagia dengan orang yang pantas :)

Aku hanya ingin mengucap maaf dan berterima kasih padamu. Maaf karena kesekian kalinya telah mengecewakan mu, mengecewakan lelaki sebaik kamu. Dan terima kasih karena pernah menjadikan aku yang terbaik dalam hidupmu. Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk mendengar cerita-cerita anehku dulu. Terima kasih karena kamu menjauh pergi dari hidupku. Tunggu. Kenapa aku berterima kasih karena kamu menjauh pergi dari hidupku? Ya, karena saat kamu menjauh pergi dari hidupku, aku sadar bahwa takkan ada yang lebih baik darimu :)

aku, kangen kamu.....